Ghurur - Tipu Daya
Apa yang dimaksud dengan ghurur? Bagaimana Allah menjelaskan ghurur dalam Al -Qur'an? Bagaimana umat Islam sebaiknya menyikapi "fenomena" ghurur?
Ghurur artinya tipuan. Kata ghurur(tanpa derivatnya) disebut tidak kurang dari 9 kali, yaitu: Ali Imran 3:185; AnNisa' 4:120; Al-An'am 6:112; Al-A'raf 7:22; Al-Isra' 17:64; Al-Ahzab 33:12; Faathir 35:40; Hadiid 57:20; dan Al-Mulk 67:20.
Dari ayat-ayat tersebut penting untuk dikutip ayat ini "Syaithan itu memberikan janji-janji kepada mereka (manusia) dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaithan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka." (An Nisa' 4:120).
Al Quran menyebutkan dua hal yang ada unsur ghurur (tipu daya) di dalamnya yaitu :
Janji-janji syaithan
Selain ayat yang sudah disebutkan di atas, bisa juga dilihat dalam surat Al An'am 6:112 : "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis)jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah sebagai tipuan..."
Dalam kisah Adam bisa dilihat bahwa Syaitan telah merayu Adam dan Hawa dengan perkataan bohong. Syaithan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam syurga)." (Al-A'raf 7:20). Maka Syaithan pun berikrar di hadapan Allah bahwa mereka akan berupaya menyesatkan manusia dengan berbagai cara.
Sehubungan dengan ikrar syaithan ini, seharusnya kita (orang beriman) mewaspadai setiap janji yang disampaikan oleh para syaithan, khususnya syaithan dari jenis manusia. Dalam upaya mereka merebut kekuasaan mereka memberikan janji-janji yang menguntungkan umat Islam. Waspadai setiap janji Syaitan itu, karena di dalamnya mengandung tipuan.
Kehidupan Dunia
"Katakanlah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanaman mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akherat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah dan keridhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Al-Hadiid 57:20; baca juga Ali Imran 3:185).
Jika kehidupan ini dibagi menjadi dua yaitu dunia dan akherat, maka secara teoritis manusia menginginkan kebahagiaan kehidupan dunia sekaligus akherat. Jika diharuskan memilih salah satu, maka orang Islam akan memilih kebahagiaan akherat. Sementara orang kafir akan lebih memilih kabahagiaan hidup di dunia. (Al-A'la 87:16)
Permisalan kehidupan dunia oleh Allah sebagai permainan, bukan berarti bahwa umat Islam diminta untuk mengalah dalam urusan dunia ini dan menyerahkan urusan dunia kepada orang kafir. Tetapi agar umat Islam waspada, bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara, oleh sebab itu jangan melanggar aturan Allah hanya untuk mendapatkan kesenangan yang bersifat temporal.
Allah telah menjelaskan bahwa janji-janji syaithan itu adalah tipuan. Mereka, syaithan dan sekutunya, memberikan serangan informasi bahwa apa yang dijanjikan Allah dan rasulNya itu adalah tipu daya (Al-Ahzab 33:12). Upaya membingungkan umat dengan cara memberikan informasi-informasi yang menyesatkan ini berlangsung sampai saat ini. Ketika para mujahid yang dibantai, mereka beritakan bah wa yang dibantai adalah para pengacau keamanan.
Agar tidak tertipu, firman Allah berikut ini perlu direnungkan: "Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu dan takutlah kepada suatu hari yang (pada hati itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sungguh janji Allah adalah benar, maka jangan sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan pula penipu (syaithan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah." (Luqman 31:33)
TIPU DAYA SETAN
Kejadian aneh ini (23-08-01) berawal ketika saya bersama suami memeriksakan anak sulung kami ke sebuah Rumah Sakit di Bekasi.
Pagi itu tidak ada hal yang aneh ketika kami meninggalkan RS. Dalam perjalanan pulang, mobil yang dikemudikan oleh suami terasa normal-normal saja namun 10 menit lepas dari RS, tiba-tiba melalui pandangan mata batin saya, saya didatangi oleh ‘Anna' anak kedua saya yang telah meninggal dunia 3,5 tahun yang lalu. Anna terlihat cantik, lucu dan menggemaskan.
Haru-biru saya dibuatnya. Seluruh kerinduan, rasa bersalah dan emosi saya bercampur-aduk saat itu. Tak terasa air mata membasahi pipiku. saya menangis sesenggukan. Terlebih-lebih ‘anak' saya tersebut memberondong dengan pertanyaan dan pernyataan yang membuat saya merasa bersalah.
Kenapa papa dan mama lupa sama Anna, kenapa tidak pernah mengirim doa kepadanya? Serta rajukan dan rengekan khas anak kecil lainnya. Diciumnya pipi saya berkali-kali. Kemudian perhatiannya beralih ke papanya, digoncang-goncangkannya bahu papanya yang sedang mengemudi. Namun karena suami saya belum terbuka mata-bathinnya maka ia kembali ke saya dan bertanya: Ma.. papa tidak bisa mendengar ya ma? Papa juga tidak bisa melihat Anna ya ma? Saya mengangguk perlahan. Saya jelaskan hal ini kepada suami, yang lalu membuatnya merasa bersalah pula karena telah "melupakannya". Namun dalam benak pikirannya ada banyak pertanyaan yang perlu segera mendapat penjelasan tentang kehadiran "roh" ini. Anna adalah anak kedua kami, ia meninggal dunia pada usia 8 bulan di kandungan. Menurut pengetahuan yang kami dapatkan selama ini, bahwa anak yang meninggal dalam kandungan roh-nya akan langsung menghadap ke Sang Pencipta. Tapi kenapa roh anak kami ini masih gentayangan di dunia fana ini? Apakah karena kami tidak melakukan aqiqah? ataupun selamatan hingga ia begini? Di mobil dalam perjalanan pulang itu saya dan suami terus memikirkan kemungkinan penyebab dari semua ini.
Sesampai dirumah anak tersebut maunya nempel terus sama papanya. Suami saya yang kebetulan hari itu sedang tidak sehat, selalu berbaring ditempat tidur. "anak" itupun dengan manjanya ikut tiduran memeluk papanya dengan kepala bersandar di dada papanya, saya hanya senyum-senyum saja melihatnya. Suami saya bertanya melalui saya kepada anak kami tersebut mengenai banyak hal seperti: Dimana ia selama ini? Siapa yang mengasuhnya dari bayi hingga usia 3,5 tahun ini? Mengapa ia datang ke kami? Dan lain-lain pertanyaan yang intinya adalah untuk memuaskan rasa penasaran kami.
Rasa penasaran kami membuat kami sepakat untuk pergi ke tempat praktek Pak Haji Bambang untuk mencari solusi dan penjelasan. Herannya, tiba saat kami hendak pergi "anak" kami tersebut tidak ingin ikut dengan alasan takut disuruh pulang oleh Pak Haji Bambang. Ia hanya berpesan agar jangan pergi lama-lama karena ia hanya punya waktu menginap satu malam saja, dan besok sudah harus pulang ke tempatnya. Akhirnya saya dan suami berangkat malam itu ditemani oleh anak kami yang paling kecil, Sasha.
Seperti biasa kami mendaftarkan diri pada Bu Ika untuk konsultasi. Sambil menunggu giliran kami ngobrol dengan sesama pasien tentang pengalaman masing-masing. Pada malam itu teman pasien kami lebih banyak yang memiliki keluhan non-medis daripada medis. Tiba giliran saya yang langsung ditangani oleh Pak Haji Bambang.
Setan Pandai Menyaru
Saya utarakan kejadian gaib yang sedang saya alami. Pak Haji pada prinsipnya mengatakan bahwa kalau benar itu roh anak kami ya disuruh pulang saja karena toh alamnya sudah berbeda. Namun Pak Haji menyangsikannya. Kemudian ia meminta segelas air putih, dibacakannya doa pada air minum itu dan kemudian dimintanya saya minum. Saya minum seteguk, hampir terloncat saya dari kursi tempat duduk karena mendadak dihadapan saya ada bayangan nenek sihir dengan topi hitamnya menyeringai dengan gigi-gigi hitamnya yang tidak beraturan. Saya minum lagi seteguk serta saya ucek-ucek mata saya untuk memastikan. Tetapi bayangan nenek sihir tadi tetap saja ada. Pak Haji Bambang senyum-senyum saja melihat kelakuanku. Kemudian beliau bertanya: "Apa yang kamu lihat?" Saya jawab apa adanya, kemudian beliau tertawa sambil memberitahu bahwa itulah wujud sebenarnya dari penampakan roh anak kami. Woow seraaaaam. Itulah alasannya kenapa ia malam ini mau tidur dengan suamiku. Ternyata makhluk yang dicurigai sebagai penghuni RS tersebut naksir sama suamiku. Hiiiiii……… "Nah, sudah jelaskan? Sambung Pak Haji Bambang, tak perlu repot-repot, sampai dirumah nanti tangkap, masukin ke telor dan buang". Itulah tipu daya setan, setan memang pandai menyaru sebagai apa saja. Mulai sekarang janganlah sampai tertipu lagi.
Menangkap Makhluk Dalam Perjalanan Pulang
Malam itu, yang mendadak baru saya ingat adalah malam jum'at, jam menunjukkan pukul 23:20, kami pulang dengan hati mantab, bertekad menangkap setan tukang tipu itu. Suami saya walaupun belum bisa melihat makhluk gaib, tetapi sensitive terhadap kehadiran dan memiliki kemampuan untuk menangkapnya. Dengan melewati gang kami jalan pintas menuju tempat mobil diparkir, tak terasa bulu kudukku meremang berdiri dengan tebalnya, kupeluk erat Sasha. Tidak sepatah katapun yang saya ucapkan. Dalam hati saya terus berdzikir dan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Ternyata suamikupun merasakan hal yang sama. Sampai di mobil kuberitahu suami bawa makhluk yang menyaru sebagai "Anna" telah menunggu di dalam mobil di kursi tengah. Dengan berpura-pura belum tahu, kami naiki mobil dan kami jalankan perlahan. Kami berdoa memohon ijin dan ridlo, serta perlindungan-Nya dengan membuat pagar perlindungan gaib terhadap diri dan mobil kami. Tak lupa kami mempersiapkan telor ayam sebagai media penjara/penampung bagi mahkluk tersebut. Setelah persiapan mantab, saya melirik ke suami yang rupanya telah siap juga. Dengan hati dag-dig-dug, kupanggil "Anna" supaya ia maju ke depan. Dengan cepat Anna maju ke depan duduk diantara kami berdua, kuberi tanda ke pada suamiku agar ia segera menangkap makhluk tersebut. Memasuki jalan Surabaya, dengan tangan kiri tetap memegang kemudi mobil, dipakainya tangan kanan untuk menangkapnya. Shiuut……kena. Lalu cepat-cepat dimasukkannya ke dalam telor. Belum sempat aku bernafas lega, tiba-tiba makhluk tsb loncat keluar dari telor dan kembali duduk di jok belakang sambil ketawa cikikikan memperlihatkan gigi-giginya yang hitam dan tak beraturan. Aku tidak menyangka akan terjadi hal yang demikian, karena pengalaman selama ini makhluk yang berhasil dijebloskan ke dalam telor tidak pernah bisa lepas begitu saja. Suamiku mengambil telor tersebut dan disyaratinya sekali lagi untuk memastikan bahwa telor tersebut telah siap. Ketika mobil kami tertahan lampu merah di Pasar Rumput, dicobanya lagi menangkapnya. Berhasil ketangkap …… namun lolos lagi.
Gagal memenjara makhluk tersebut ke dalam telor untuk kedua kalinya, kami sepakat untuk menunggu saat yang tepat.
Dzikir dan Do'a Melemahkan kekuatan Setan
Mobil kami mulai memasuki jalan tol, kami terus berdoa kepada Allah SWT memohon tambahan kekuatan bathin. Untuk menghilangkan kesunyian yang mencekam, suami menyetel cassette dzikir. Kuperhatikan mahkluk itu menutupi kedua kupingnya dengan tangan. Rupanya ia tidak ingin mendengar lantunan puji-pujian, dzikir dan do'a-do'a yang diperdengarkan dari tape mobil. Lama-kelamaan saking tidak tahannya mendengarkan lagu puji-pujian tersebut, makhluk itu terlihat berubah-ubah bentuk. Dari bentuk anak kecil ke bentuk nenek sihir, ke bentuk wanita dengan gigi-gigi taring yang tajam, kembali ke bentuk anak kecil, begitu seterusnya. Subhanallah, mengetahui efek dzikir yang demikian hebat kepada makhluk tersebut, suami menambah volume suara dengan harapan untuk makin memperlemah kekuatannya.
Jam 00: 15 kami sampai di depan rumah. Khawatir makhluk itu akan kabur, tanpa keluar dari mobil suami menangkapnya dan berhasil. Makhluk itu tidak dapat keluar lagi dari dalam telor. Alhamdullilahirobbil alamin. Didalam telor makhluk tersebut memperlihatkan bentuk aslinya, seorang wanita muda yang sangat cantik, tengah menangis sambil memegangi perutnya yang hamil. Ia meninggal beberapa tahun yang lalu pada saat melahirkan, dengan membawa kekecewaan yang dalam karena perilaku suaminya. Ia meninggal dengan tidak iklhas. Astaghfirullah…..
Rupanya tertangkapnya roh penasaran tersebut bukan merupakan akhir dari cerita kami malam itu. Kami masih harus berjuang menangkapi belasan makhluk halus yang beraneka bentuk, temen-temen dari roh penasaran tadi, yang gentayangan di rumah kami, hingga pukul 02.30 dini hari. Melelahkan dan mendebarkan seperti sedang bermain film Poltergeist. (BET).
TIPU DAYA SETAN TERHADAP ORANG SALEH
oleh : Ust. Abu Aqila
يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيْهِمْ وَ مَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُـرُوْرًا.
Bukan setan namanya bila gampang menyerah menyesatkan keturunan Nabi Adam as.. Profil setan sejati, yakni Iblis dan seluruh bala tentara pengikutnya –laknatullah ‘alaihim– tidak akan pernah melepaskan satu manusia pun bebas dari tipu daya dan seluruh penyesatannya. Sesungguhnya orang-orang yang saleh dari kalangan kaum muslimin justru mendapatkan godaan dan tipu daya yang lebih dahsyat dari pada orang-orang yang kadar keimanannya masih sedikit dan juga orang-orang kafir. Karena mereka golongan shalihun adalah orang-orang yang benar dengan aqidah, ibadah, dan akhlaknya dalam berislam. Mereka selalu istiqamah di jalan kebenaran dan mengajak (baca: mendakwahi) orang lain agar menjadi golongan shalihun juga. Intinya, setiap orang Islam itu harus saleh dan mensalehkan orang lain. Hal inilah yang sangat dikhawatirkan oleh setan-setan laknatullah bahwa misi utama mereka menyesatkan sebagian besar seluruh umat manusia menjadi gagal total.
Beberapa Tipu Daya Setan terhadap Orang-orang Saleh
Waspda dan hati-hati terhadap godaan setan, serta selalu memohon perlindungan (isti’adzah) kepada Allah Swt. mutlak dilakukan oleh setiap muslim. Berikut ini beberapa cara tipu daya setan terutama kepada orang-orang saleh dan secara umum kepada orang-orang Islam lainnya.
• Membuat manusia ragu-ragu dalam masalah aqidah.
Cara yang pertama ini sangat berbahaya karena berkaitan dengan masalah aqidah dari orang yang ditipu daya tersebut. Isi penyesatannya seperti: setan akan memberikan pertanyaan meragukan kepadanya tentang asal-muasal penciptaan, qadar, dan sebagainya yang berkaitan keyakinan terhadap sendi-sendi aqidah islamiyah. Hal ini mungkin saja berhasil mengenai manusia –termasuk kita– yang pertama, jika kita sering lalai untuk berlindung kepada Allah Swt., dan kedua, kita terpedaya menggunakan “alasan menuntut ilmu”. Maksudnya manusia dapat tertipu daya oleh setan, sehingga mulai merasa berilmu agama tinggi dan melakukan penyimpangan dari jalan Allah yang lurus. Ini banyak terjadi pada kelompok-kelompok yang sesat sampai saat ini.
• Menghiasi perasaan manusia sehingga meninggalkan dunia dan menjauhkan diri dari masyarakat.
Cara jahat setan itu tidak kalah berbahaya dengan cara yang pertama. Ada orang-orang yang terjerumus perasaan dan pikirannya sehingga dengan alasan uzlah (menyendiri) guna memperbaiki hati dan mensucikan jiwa kemudian meninggalkan dunia dan menjauhkan diri mereka dari masyarakat. Orang-orang seperti ini biasa mengenakan “pakaian” pemberi nasihat. Setiap manusia tidak dapat selamat dari tipu daya setan semacam ini kecuali dengan ilmu dan pemahaman agama yang benar terhadap agama.
• Menghiasi perasaan manusia dengan perbuatan-perbuatan eksklusif dan mencegah keluar dari itu.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,”Di antara manusia terdapat orang yang terikat dengan pakaian yang tidak dipakai oleh orang lain, atau duduk pada tempat yang tidak diduduki oleh orang lain, atau berjalan di jalan yang tidak dilalui oleh orang lain, atau dengan pakaian dan keadaan yang tidak terjadi pada kedua kalinya, atau ibadah tertentu dan tidak melakukan selain itu meskipun lebih tinggi dari hal tersebut, atau seorang guru tertentu yang tidak berpaling dari hal-hal yang dilarang –oleh Allah dan Rasul-Nya–, meskipun ia lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka semua tertutup dari mendapatkan apa yang dipinta dan terhalang darinya.”
Kita dapat menyaksikan bagaimana setan laknatullah telah berhasil memperdaya orang-orang seperti itu. Mereka beribadah dengan latihan, pengasingan, dan pengosongan hati. Ilmu-ilmu yang bermanfaat mereka anggap sebagai pemutus jalan. Bila disebutkan kepada mereka persahabatan karena Allah atau permusuhan karena-Nya, memerintahkan berbuat ma’ruf dan mencegah yang munkar, maka itu dianggap sebagai keburukan dan mencampuri urusan orang lain. Jika ada di antara mereka ada yang melakukan hal tersebut, akan langsung dikeluarkan dari kumpulan mereka. Orang-orang seperti ini berada paling jauh dari manusia, meskipun mereka memiliki lebih banyak petunjuk. Allah yang lebih mengetahui tentang hal ini.
• Menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan bid’ah dan syubhat.
Sudah seharusnya kita meneladani dan ittiba` (mengikuti) kepada Rasulullah Saw., karena Beliau adalah orang yang ma`shum dan sebaik-baik seluruh ciptaan-Nya, namun Beliau tidak meninggalkan menikah, tidak menjauhkan diri dari manusia, dan tidak meninggalkan pengobatan ketika sakit. Kaum muslimin tidak boleh menyalahi Beliau. Syariah adalah argumen, serta perbuatan Rasulullah Saw. dan pengarahannya adalah neraca, sehingga kita dapat mengukur benar-tidaknya perbuatan kita.
Pada prinsipnya, bid’ah berarti mengada-adakan perbuatan di dalam ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw., sedangkan syubhat berarti perkara yang belum jelas halal dan haramnya, namun Rasulullah Saw. menganjurkan agar perkara syubhat segera ditinggalkan jauh-jauh oleh tiap muslim, karena resiko mudharat-nya lebih besar dari pada manfaatnya.
Cara licik ini termasuk yang disukai juga oleh setan, karena bila telah terjerumus maka muslim yang bersangkutan “menabrak” secara serampangan dan tidak peduli antara aturan halal dan haram, antara perbuatan berpahala dan berdosa, antara aktivitas ibadah dan maksiat, dan sebagainya. Sehingga ada ungkapan nyleneh “yang haram saja susah, apalagi yang halal”. Na’udzu billahi min dzalik.
Sedikit Nasihat untuk Kaum Muslimin
Tanpa ilmu seorang muslim tidak akan dapat berjalan dengan benar dan aman menuju Allah Swt.. Karena jalan menuju Allah penuh dengan rintangan dan berliku-liku. Tidak seorang pun dapat mengatasinya kecuali dengan pertolongan Allah dan melindungi diri dengan benteng ilmu. Ilmu yang dimaksud oleh para ulama tidak terbatas pada satu cabang, namun seluruh cabang ilmu yang dapat membentuk akal seseorang dengan pembentukan yang benar dan sempurna.
Bagi setiap muslim hendaklah memulai dengan mempelajari ilmu aqidah lalu memperbaiki aqidahnya, menutup jalan masuk setan, karena setan akan memperbanyak godaannya setiap kali manusia tersesat dalam jalannya –dengan menempuh jalan setan.
Ia hendaklah mempelajari juga ilmu akhlak yang akan bermanfaat sebagai panduan perilaku teladan di dalam hidupnya.
Ia juga harus mengetahui tentang halal dan haram dalam beribadah dan pergaulan yang dilakukan oleh manusia.
Ia juga harus mempelajari Al-Qur`an, mengkajinya, menghafalnya, dan meneliti ilmu-ilmu serta tafsirnya. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba dalam kehidupannya, keselamatannya, dan kembali kepada-Nya kecuali dengan mempelajari Al-Qur`an dan memahaminya.
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarinya (kepada orang lain).” (Muttafaqun ‘alaih).
Ia juga harus mengetahui petunjuk Rasulullah Saw. dalam seluruh keadaannya –melalui hadits-hadits Beliau Saw.– baik dalam keadaan damai dan perang, dalam hal makan dan minum, dalam hal tidur dan bangunnya, dalam perintahnya untuk berbuat yang ma’ruf dan dan larangannya dari yang munkar, dalam pergaulannya dengan keluarganya, serta dalam segala keadaannya.
JANGAN PERCAYA OMONGAN SETAN
oleh : Ust. Abu Aqila
Mendengar keluhan keluarga tadi, saya pun langsung melakukan ruqyah satu-persatu mulai dari anak-anaknya sampai para pembantunya. Walhasil, tidak satu pun dari mereka yang terkena penyakit medis ataupun gangguan jin kecuali anaknya yang lumpuh, yang ternyata penyebab lumpuhnya karena dia pernah ditabrak motor hingga terpental ke selokan waktu berumur 4 tahun. Pembantunya yang pernah kesurupan pun tidak tampak ada reaksi saat saya ruqyah, kecuali ada sedikit penegangan di beberapa pembuluh darah yang berada di batang lehernya. Dugaan terkuat penyebab pembantu itu kesurupan tadi karena adanya masalah keluarga yang dia hadapi.
Alhamdulillah, sampai hari ini kondisi keluarga itu tidak lagi tegang dan mencekam. Setelah saya ruqyah dan saya nasihati bahwa kita tidak boleh percaya sedikit pun dengan apa yang dikatakan oleh setan walaupun terkadang ada yang benar. Kita harus berpikir rasional bahwa kekuatan setan itu pada hakikatnya adalah lemah, dan hanya orang-orang yang lebih lemah dari setanlah yang mudah dikuasai atau dipengaruhi oleh setan.
Apakah omongan jin yang masuk pada tubuh manusia waktu diruqyah itu benar dan dapat dipercaya?
Saudaraku yang dimuliakan Allah, orang yang belum tahu karakter setan pasti mudah mempercayai omongan-omongan setan yang keluar dari mulut orang-orang yang sedang diruqyah. Bahkan tidak sedikit orang terpedaya oleh mereka. Misalnya, ada orang yang meruqyah sudah berjam-jam tapi jin yang bersarang di tubuh pasiennya tidak juga keluar. Kadang-kadang di saat kita sudah kelelahan meruqyah, setan itu senang menjebak kita dengan perkataan-perkataan yang tujuannya supaya kita melakukan sesuatu untuknya. Apabila kita mau melakukannya maka setan itu menjamin akan keluar dari tubuh orang itu.
Dulu pernah ada seorang pemuda yang meruqyah temannya yang kemasukan setan, lalu setan yang bersarang di tubuhnya berkata bahwa ia akan keluar kalau dibacakan Al-Qur`an sampai khatam 7 kali. Pemuda itu begitu yakin bahwa setan itu akan keluar bila dia dapat memenuhi keinginan setan itu. Akhirnya dia kumpulkan beberapa temannya untuk membantu membaca Al-Qur`an hingga khatam selama 7 kali. Mereka dapat mengkhatamkan Al-Qur`an itu setelah membacanya selama 15 hari. Maka pemuda itu pun lalu menagih janji setan itu untuk keluar dari tubuh temannya tadi. Ternyata setan itu berbohong dan tidak menepati janjinya. Karena keletihan dan fisiknya yang sudah melemah, maka teman-temannya membawanya ke rumah sakit. Setelah dirawat + 1 minggu, anak tersebut akhirnya meninggal dunia. Akibat yang ditimbulkan oleh kebohongan setan, kita dapat salah mengantisipasi penyakit yang kita derita bahkan kita dapat tersesat kalau mempercayai omongan setan, sebagaimana firman Allah Swt.:
يَعِدُهُمْ وَ يُمَنِّيْهِمْ وَ مَا يَهِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُـرُوْرًا.
“Setan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. an-Nisa` [4]: 120).
Demikianlah hendaknya kita tidak boleh mempercayai apapun yang dikatakan setan yang masuk ke tubuh seseorang sekalipun setan itu mengajak atau menyampaikan kebaikan kepada kita. Tidak ada manfaat apapun dengan mempercayai dan mengikuti apapun yang dikatakan oleh setan.
Apabila ada orang kesurupan lalu dia minta kita melakukan syarat-syarat tertentu, seperti minta tumbal sesajen kepala kerbau ataupun kepala kambing, atau juga hal-hal lainnya, maka jangan diikuti, karena Allah Swt. telah berfirman,
“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu mengikuti tentulah kamu menjadi orang-orang musyrik.” (QS. al-An’am [6]: 121).
Mengikuti perkataan setan dapat menjerumuskan kita dalam kemusyrikan. Wallahu a’lam.
Lalu nabi s.a.w. bersabda: "Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam." Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya.
Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan basinya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Qur'an itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh.
Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bagiannya yang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan."
Nabi s.a.w. bertanya: "Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah kami?" Jawabnya: "Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda." (nota kefahaman: yaitu yg lebih bawah lebih panas)
Tanya Rasulullah s.a.w.: "Siapakah penduduk masing-masing pintu?" Jawab Jibril:
"Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang yg kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga Fir'aun sedang namanya Al-Hawiyah.
Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim,
Pintu ketiga tempat orang shobi'in bernama Saqar.
Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha,
Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah.
Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa'eir."
Kemudian Jibril diam segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya: "Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?" Jawabnya: "Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat."
Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibril meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar nabi saw bersabda: "Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?" Jawabnya: "Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu."
Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibril juga menangis, kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.(dipetik dari kitab "Peringatan Bagi Yg Lalai")
Dari Hadits Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku. Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu itu:
1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat
2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah
3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah
5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik
6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak
7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum
8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular
9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat.
10. Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai
11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat
Mudah-mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kita semua.
Wallahua'lam.
MEMBANGUN KEBERANIAN MELAWAN SETAN
oleh : Ust. Abu Aqila
Ketika mendengar terminologi “setan”, apa yang kemudian terbayang dalam khayalan sebagian masyarakat kita yang mayoritas muslim? Bisa jadi sambil merinding ketakutan, orang-orang Jawa akan membayangkan sosok genderuwo, orang-orang Betawi akan membayangkan sosok kuntilanak atau pocong, orang-orang Cina akan membayangkan sosok vampire, orang-orang Sunda akan membayangkan sosok ririwa atau jurig, dan orang-orang Eropa akan membayangkan sosok dracula. Yang menjadi masalah kemudian, benarkah semua sosok itu adalah setan?
Hanya dengan satu cara, yaitu menggunakan aqidah islamiyah yang lurus untuk menjawab hal tersebut di atas. Berikut ini akan kita temui pembahasan tentang tipu daya Iblis dan setan dengan sosok-sosok yang menyeramkan –yang membohongi manusia–, penjelasan Al-Qur`an tentang “setan”, dan cara membangun mentalitas berani menghadapi setan.
Setan Menurut Cerita Tradisi
Banyak dari umat Islam yang belum benar memahami tentang “setan”, sekalipun ia seorang ustadz atau kiyai. Oleh karena itulah masyarakat Indonesia pada umumnya dalam memahami setan masih berdasarkan pada asumsi tradisi dan hanya berdasarkan pada cerita-cerita nenek moyang saja. Apalagi bila cerita itu dibumbui oleh paranormal ataupun dukun. Tentu tingkat kesalahannya semakin membesar saja.
1. Setan menurut tradisi Jawa, bahwa sejak zaman dahulu orang-orang Jawa begitu meyakini sosok setan itu menyeramkan, menakutkan, dan terkesan berbau horor. Mereka memiliki asumsi yang salah bahwa sosok setan dikhayalkan dan diberi nama sebagai: genderuwo, buto ijo, wewe gombel, nyai roro kidul, dan sebagainya.
2. Setan menurut tradisi Betawi tentu saja berbeda dengan asumsi tradisi Jawa. Orang-orang Betawi sejak zaman nenek moyang mereka meyakini keberadaan setan seperti dalam cerita-cerita tradisi mereka, yaitu asumsi yang salah bahwa sosok setan dikhayalkan dan diberi nama sebagai: kuntilanak, pocongan atau pocong, roh halus, makhluk halus, hantu, jelangkung, roh gentayangan, dan sebagainya. Uniknya, perbedaan geografis antara masyarakat Jawa dan Betawi menjadikan asumsi sosok-sosok setan mereka juga berbeda.
3. Setan menurut tradisi Sunda juga tidak kalah seramnya dengan asumsi orang-orang Jawa ataupun Betawi. Mereka sering menyebut nama-nama yang merupakan asumsi yang salah, bahwa sosok setan dikhayalkan dan diberi nama sebagai: jurig, ririwa, sanekala, sundelbolong, dan sebagainya.
4. Setan menurut tradisi Sumbawa dan sekitarnya lebih unik lagi, yaitu mereka mempunyai asumsi yang salah bahwa sosok setan dikhayalkan dan diberi nama sebagai: leak. Leak digambarkan menakutkan, berkulit hitam, dan dapat terbang.
5. Setan menurut tradisi Cina sungguh berbeda dengan sosok-sosok berdasarkan asumsi di beberapa daerah di Indonesia. Hal ini dikarenakan kultur antara masyarakat Indonesia dan Cina yang berbeda. Mereka memiliki asumsi yang salah bahwa sosok setan dikhayalkan dan diberi nama sebagai: vampire, hantu wanita, hantu banci, dan sebagainya.
6. Setan menurut tradisi Eropa digambarkan lebih berbeda lagi dibanding beberapa sosok setan sebelumnya. Mereka memiliki asumsi yang salah bahwa sosok setan dikhayalkan dan diberi nama sebagai: dracula. Dracula diasumsikan kulitnya bule seperti kulit orang Eropa, matanya biru, giginya bertaring, suka menghisap darah dari leher manusia, dan mencari mangsa di malam hari.
Setan Menurut Ajaran Islam
Ajaran Islam memberi pemahaman bahwa kata “setan” itu sebagai predikat atau status bagi makhluk Allah Swt. yang berkarakter dan berperilaku tidak sesuai dengan aturan Allah, bahkan juga mengajak yang lain untuk bergabung ke dalam gerakan penyesatan mereka yang penuh dengan murka Allah Swt..
Menurut Al-Qur`an, “setan” itu adalah:
• Musuh para Nabi, yang terdiri dari golongan manusia dan jin (QS. 6: 112);
• Penggoda setiap Nabi dan manusia yang ingin beriman dan beribadah kepada-Nya (QS. 22: 52);
• Pembisik kejahatan pada jiwa manusia (QS. 114: 5-6);
• Golongan manusia yang telah menjadi budak setan, lalu menyesatkan manusia (QS. 7: 202);
• Musuh manusia yang mengajak masuk ke dalam neraka (QS. 35: 6);
• Thaghut (sosok tandingan yang memusuhi Allah Swt.) yang mengajak menggunakan sistem selain Islam (QS. 4: 60);
• Pemboros yang menyia-nyiakan karunia Allah (QS. 17: 27);
• Si kikir yang takut miskin dan enggan menginfakkan hartanya di jalan Allah (QS. 2: 268);
• Pemakan riba (QS. 2: 275);
• Orang yang lalai berdzikir serta mengabaikan perintah dan larangannya (QS. 43: 36);
• Pelaku kejahatan, kekejian, dan kemaksiatan (QS. 2: 169);
• Pembuat makar yang bermaksud memfitnah dan membunuh orang-orang beriman (QS. 58: 10);
• Orang munafik yang menipu manusia supaya tersesat ke dalam kekufuran (QS. 59: 16);
• Orang-orang kafir (QS. 13: 33);
• Penyeru perbuatan keji dan mungkar (QS. 24: 21);
• Orang-orang musyrik (QS. 27: 24, QS. 34: 40-41, dan QS. 6: 100);
• Orang yang berbuat dosa yang tidak pernah merasa bersalah (QS. 6: 43, QS. 48: 12, dan QS. 43: 37);
• Si pembuat khurafat yang mengganti ajaran Islam dengan ajaran tradisi (QS. 31: 21);
• Orang yang cinta dunia dan lupa kepada kehidupan akhirat (QS. 31: 33 dan QS. 35: 5-6);
• Pelaku perbuatan keji yang senang makan dan minum dari hal-hal yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya (QS. 5: 90 dan QS. 2: 168-169);
Berani Melawan Setan
Dengan memahami aqidah islamiyah yang baik, maka sudah wajib bagi kita sebagai orang-orang beriman tidak takut lagi melintasi tempat-tempat keramat, seperti kuburan, rumah tua, hutan, gua, pohon besar, dan lainnya. Ternyata genderuwo, kuntilanak, pocong, jurig, vampire, dan sebagainya, hanya sosok-sosok setan yang diasumsikan oleh tradisi di masing-masing tempat. Karena itu, maka kita tidak boleh takut terhadap mereka.
Berikut ini beberapa hal yang dapat ditempuh untuk mengendalikan rasa takut dan membangun keberanian melawan setan:
• Memperbaiki fikrah (pola pikir) kita bahwa rasa takut kepada setan adalah tidak syar’i (tidak sesuai dengan syariat Islam). Karena rasa takut yang syar’i hanya kepada Allah Swt. saja (QS. 2: 150, QS. 9: 13, dan QS. 2: 169);
• Meyakini secara qalbiyah (mentalitas) bahwa istilah “penampakan” dalam masyarakat kita sebenarnya adalah talbis (penipuan; pembohongan) dari sosok setan golongan jin yang wujud aslinya yang nggak seram (QS. 3: 175);
• Harus hidup kaafah (menyeluruh) dengan aturan Islam dan menghindari karakter dan perilaku setan (QS. 2: 208);
• Senantiasa melakukan isti’adzah (perlindungan) kepada Allah Swt. sebelum membaca Al-Qur`an, serta sebelum beribadah dan beraktivitas sehari-hari lainnya (QS. 16: 98, dan QS. 114: 1-6);
• Harus mempunyai keberanian yang benar karena Allah Swt. itu pelindung orang beriman dan saleh, maka harus berani, tegas, dan tidak ada kompromi terhadap setan sebagai musuh manusia (QS. 7: 196, dan QS. 35: 6);
• Jangan menggunakan keberanian terhadap setan karena punya ilmu perdukunan (punya setan khadam) atau minta tolong kepada dukun atau paranormal. Cara ini kelihatan “hebat”, namun di sisi Allah cara ini termasuk perbuatan syirik, sesat, dan penuh kehinaan (QS. 4: 48);
• Berani bersikap al-baro` (membebaskan diri) berupa mengingkari, membenci, memusuhi, dan memutus hubungan dengan karakter dan nilai-nilai syaithani di sekitar kita (QS. 60: 4);
• Berani bersikap al-wala` (mono-loyalitas) hanya kepada Allah Swt. berupa taat, mendekat, membela, dan mencintai-Nya, sehingga terjalin hubungan kuat dengan Allah Swt. sekaligus pertolongan-Nya akan mudah datang (QS. 5: 55);
• Aktif mengkaji nilai-nilai Islam, berdakwah, dan menyumbangkan potensi diri kita untuk menolong agama Allah Swt., sehingga akan muncul keberanian, kecerdasan diri dan pertolongan Allah untuk menghadapi tipu daya setan (QS. 47: 7);
• Senantiasa meningkatkan nilai iman, ikhlas, dan tawakal kepada Allah Swt. Karena dengan kekuatan nilai-nilai tersebut setan-setan golongan jin tidak berdaya menipu daya (QS. 15: 39-41, QS. 16: 99, dan hadits Rasul Saw.: “Barangsiapa keluar rumah berkata,’Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan-Nya’, maka dikatakan kepadanya,’Engkau mendapat petunjuk, dilindungi, dan dicukupi.’ Setan berkata kepada setan lainnya,’Bagaimana engkau dapat menaklukkan orang yang telah mendapat petunjuk, dicukupi, dan dilindungi?’” (HR. at-Tirmidzi).
Tipuan Dunia
Kuliah Umum
Ayat Al Quran
Maksudnya: "Tidak ada kehidupan didunia melainkan mata benda yg menipu daya"
Tuhan mengingatkan kepada kita kalau kita hidup bukan atas dasar mencari taqwa, atau bukan kerana cintakan Tuhan, maka dunia yang kita hadapi ini akan menipu daya kita, kecuali orang yang hidup atas dasar taqwa.
Orang yang hidup bukan atas takutkan Tuhan, Tuhan mengingatkan kita tidak ada kehidupan di dunia melainkan mata benda yang menipu daya. Orang yang hidup di dunia bukan untuk taqwa rupanya akan ditipu daya oleh dunia. Selepas itu saya akan menghuraikan supaya kita benar-benar faham, apa guna hidup kalau bukan atas dasar Tuhan atau bukan atas dasar taqwa. Mari kita bahas apa maksud tipu daya
Maksud tipu daya : kita buat apa pun, disudut apa pun, di aspek apa pun, kita akan ditipu daya. Kalau orang itu selama ini menyusahkan kita, itu bukan tipu. Contoh: Si Fulan tipu saya, sudah tahu dia menipu saya, buat jahat dengan dia, ertinya saya suka ditipu. Saya sudah tahu sifat dia. Itu namanya kita menyusahkan diri kita. Tapi kalau dia melihatkan dia sayang, dia suka kepada kita selepas itu dia tipu kita. Erti `tipu` kena faham. Dia tunjuk keindahan, sayang kita dan baik dengan kita kemudian dia tipu kita. Itulah tipu. Jadi org yg hidup bukan untuk mencari taqwa kalau sedar, jangka panjang dia ditipu dunia.
Betulkah dunia menipu? Duit, pengaruh, jawatan, dunia mainkan perasaan kita setelah dia gamit-gamit kita waktu itu dia tipu kita. Dunia tipu kita dengan banyak cara :
1. Sebelum kita dapat, dia angan-angankan, maka kita berjuang, korban masa, korban duit, wang ringgit sampai kita letih, tapi tak kita dapatkan. Contoh kita berkorban kerana harapkan harta lain, tapi tak dapat. Ini contoh kecil. Side effectnya : masa terkorban, duit terkorban, tenaga terkorban. Bila banyak yang terkorban, bila sudah letih, side effectnya : hendak marah. Ini penipuan kecil, tapi bergaduh suami isteri sampai cerai berai. Kalau 1000 orang banyak tak dapat, letih, buang masa, marah-marah, lalu gaduh dengan isteri.
2. Bila dapat, datang sombong, datang megah. Side effectnya : orang cemburu orang benci, hasad dengki. Kemuncaknya orang bunuh. Tapi apa yang kita fikirkan? Bila dapat dunia ialah kita fikirkan kita terkenal, glamour, dihormati, tapi bila dapat hingga kita sombong dan megah, maka orang iri hati, hasad dengki, sehingga dunia punya pasal kita dibunuh, paling tidak orang benci.
3. Kita fikir, kalau dapat dunia sedikit, tak terasa. Kita fikir kalau dapat dunia banyak, kita akan bahagia. Tapi setelah dapat banyak, kita tak rasa bahagia. Tak puas, tak rasa bahagia. Itupun boleh tahan lagi. Tuhan boleh datangkan masalah lain : isteri tak taat, anak memberontak. Jadi dia terfikir, apa yang dia dapat telah membuat isteri meragam, anak meragam. Rupanya bila dunia dapat maka datang masalah. Dia akan jadi 2 golongan:
*putus asa
*putus asa dengan tekanan kuat lalu bunuh diri.
Bila mati, waktu hidup dia nak buat syurga dunia, bila mati masuk neraka. Terasa dunia tipu, masuk neraka, terpaksa terima azab neraka yg tak terhingga. Baru terasa dunia tipu dia sedang hidup sekali. Bila mati, terus mati. Berapa kali dunia tipu dia, kemuncak tipuan adalah di neraka.
Sedangkan kalau dia buru dunia di atas tujuan taqwa, kerana Tuhan, kalau dia dapat di dunia dia dapat untung. Kalau tak dapat di dunia, lagi untung. Katalah dia jadi raja dunia dasar Tuhan, dan di atas taqwa. Kalau dapat dunia dia untung, kalau tak dapat dia lagi untung besar. Mengapa untung besar? Hadis ada bagi tahu. Kalau kita dapat sekadar untuk tolong orang, bertanggungjawab dengan manusia. Ertinya dunia mahu kita, kita tipu dunia, kita guna dunia. Tak dapat lagi untung. Tapi kalau seseorang mencari dunia tapi tidak dapat kekayaan bahkan untuk makan pun susah. Apa kata hadis cari makan tapi susah dapat, akan dapat pahala yang besar. Sebab itu Rasul-Rasul hanya 3 orang saja yang dapat kuasa. Sebab yang lain akan diberi pahala besar di akhirat.
Bila seseorang hidup atas dasar taqwa, dia mencari dunia tapi susah, tak dapat, bila atas taqwa, bila dia tak dapat merupakan penghapusan dosa. Kalau teringin beli sesuatu `ada duit, cicir air liur, jadi penghapusan dosa atau peningkatan darjat di akhirat. Jadi bagi orang yang bertaqwa, dapat tak dapat dunia, dia tetap untung. Ada duit tak ada duit, dia untung. Kalau tak dapat dunia, lebih untung.
Orang yang hidup bukan atas jalan taqwa, dapat dunia rugi sahaja kena tipu dengan dunia. Kemuncak tipuan dunia, masuk neraka. Itu kalau dia dapat dunia. Kalau tak dapat dunia dia akan rugi dunia, akhirat pun rugi. Sebab dia buru dunia bukan atas dasar taqwa. Rugi dunia dan akhirat.
Orang yang dunia atas dasar taqwa, kalau dapat dia untung, kalau tak dapat di dunia lagi banyak untung. Kalau dapat kita dapat berbuat baik pada orang. Kalau tak dapat lagi besar untungnya. Tapi kita lebih suka dapat dunia, sedangkan kalau tak dapat, lagi besar untungnya. Sebab itu diantara Rasul hanya tiga orang saja yang dapat kuasa di dunia.
Jadi bila kita berjuang atas dasar taqwa berjaya atau tidak berjaya jangan risau. Kalau berjaya syukur banyak dengan Tuhan kerana dapat berbuat baik. Kalau tak dapat lagi kita bersyukur sebab Tuhan hendak memberi kita lebih besar di akhirat.
Di dalam tulisan saya ini fokus saya ialah untuk umat Islam, bahawa umat Islam memang percaya yang Akhirat itu wujud, tempat tinggal manusia yang kekal abadi. Di sana ada kesenangan dan ada kesusahan seperti di dunia juga ada kesenangan, ada kesusahan, cuma kesenangan dan kesusahan di antara dunia dengan Akhirat tidak sama. Kalau kita hendak membuat bandinganlah walaupun tidak tepat, untuk mudah faham, kalau kesenangan itu macam kita duduk berumah di atas pokok dengan di dalam istana, kalau azabnya pula seperti gigitan semut dengan dimakan oleh singa yang garang.
Walaupun umat Islam percaya negara Akhirat serta percaya alam barzakh sempadan di antara dunia dan Akhirat dan juga percaya bahawa nikmat dan azab di sana jauh bezanya dengan nikmat dan azab di dunia. Sekiranya Allah Taala rasakan sekarang ini perbandingan itu nescaya manusia ini akan menolak dunia ini secara total dan manusia akan menumpukan seratus peratus untuk tujuan Akhirat.
Namun demikian oleh kerana manusia itu hidup di dunia lebih dahulu iaitu hidup di negara yang dekat dan murah ini, mereka berhadapan dan merasa dengan nikmat dan azabnya lebih dahulu sebelum nikmat dan azab Akhirat, manusia terpesona hidup di sini. Mereka terlalai, mereka teralit, terlupa kehidupan di sana iaitu negara Akhirat.
Oleh yang demikian mereka bersungguh-sungguhlah mengejar nikmat dunia dan mengelakkan azab di dunia ini. Diperahlah otaknya, tenaganya pagi dan petang, siang dan malam, dengan tidak jemu-jemu walau susah tapi boleh dihadapi kesusahan itu. Walau menderita dari berbagai-bagai cabaran yang dihadapi tapi manusia sanggup berhadapan dengannya.
Itulah membuktikan tarikan dunia lebih mempengaruhi umat Islam walaupun kerja-kerja susah dan berat berbanding dengan tarikan Akhirat yang istimewa dan agung itu walaupun kerja-kerjanya mudah dan ringan.
Mari kita datangkan beberapa contoh-contoh menunjukkan kerja-kerja dunia itu susah dan payah, tapi ringan pada manusia kerana tarikannya kuat dan kerja-kerja Akhirat itu mudah dan ringan tapi umat Islam merasakan susah dan payah kerana tarikannya dingin. Saya sebutkan beberapa perkara sebagai perbandingan seperti di bawah ini.
Begitulah orang yang sudah cinta dan jatuh hati dengan dunia, lupa Akhirat, sanggup susah payah dengan dunia, sanggup menerima risiko yang berat sekalipun mati kerananya. Untuk Akhirat walaupun istimewa, mudah pula, senang membuatnya, namun berat rasa hendak membuatnya kerana tidak cinta.Setelah kita mengkaji bahawa kerja-kerja dunia lebih susah dan merbahaya, lebih teruk dan risikonya tinggi dari kerja Akhirat, apakah hujah dan alasan kita nanti di hadapan Tuhan di Akhirat kelak. Tidak ada hujah dan alasan yang sebenarnya. Maka ramailah manusia yang masuk Neraka dari masuk ke Syurga.
Akibat Terlampau Menuntut Hak
Manusia mempunyai berbagai-bagai hak. Hak-hak yang asas termasuklah hak ke atas agamanya, diri dan jiwanya, akalnya, keluarga dan keturunannya, kehormatannya dan hartanya. Di samping itu manusia juga mempunyai hak ke atas manusia yang lain. Namun begitu, disebabkan oleh hati yang tidak terdidik dengan didikan Islam dan juga disebabkan kurang faham tentang konsep hak ini sepertimana yang dikehendaki oleh Islam, maka manusia telah banyak tersilap dan menyimpang dari jalan yang sebenar.
Keadaan bertambah buruk apabila kefahaman tentang pemberian dan tuntutan hak yang diamalkan oleh masyarakat sekular dan yang terdapat di dalam adat resam bangsa terbawabawa ke dalam kehidupan masyarakat Islam.Hak itu telah dianggap sebagai mutlak. Kalau tidak diberi,ia dianggap satu penganiayaan yang besar. Satu kezaliman kubro. Ia boleh dijadikan kes mahkamah. Boleh pula samanmenyaman.Kalau menang kes, boleh tuntut ganti rugi sampai jutaan ringgit. Ganti rugi yang dituntut itu pula tidak ada kena-mengena dengan hak asal yang dituntut. Macam-macam jenis ganti rugi dituntut. Ganti rugi malulah. Ganti rugi koslah.Ganti rugi tekanan jiwa dan hilang ketenteraman dan berbagai lagi bentuk ganti rugi yang direka-reka. Akhirnya usaha untuk menuntut keadilan bertukar menjadi satu kezaliman. Para peguamlah yang mengaut untung di atas putar belit ini.Lahirlah dalam masyarakat sindrom saman-menyaman.
Manusia sudah jadi macam tebuan. Silap sedikit, menyengat.Silap sedikit, saman! Hilang sifat redha-meredhai, maaf-bermaafan dan halal-menghalalkan. Ukhwah pecah dan kasih sayang hancur. Di dalam Islam, walaupun seseorang itu mempunyai hak ke atas orang lain, hak ini berlandaskan kepada kemampuan. Tidak wajib atas seseorang untuk melaksanakan hak orang lain ke atas dirinya dalam keadaan dia tidak mampu.
Allah pun melepaskannya dari tanggungjawab tersebut dan dia tidak jatuh berdosa kalau tidak mampu melaksanakannya.Di dalam keadaan begitu, digalakkan pula di dalam Islam agar umatnya redha-meredhai, bertolak ansur, halal-menghalalkan dan maaf-memaafkan. Ganjarannya tetap ada di sisi Tuhan. Dengan ini maka tidaklah wujud tekan-menekan, desak-mendesak dan tuntut-menuntut yang sangat merosakkan hubungan dan kasih sayang sesama Islam.
Pernah berlaku di dalam sejarah, sepasang suami isteri yang telah lama bernikah. Si suami masih belum dapat menjelaskan mas kahwin yang dia terhutang kepada isterinya kerana terlalu miskin. Setelah lama tinggal bersama dan setelah mendapat beberapa orang anak, si isteri yang tidak sabar sering menuntut mas kahwinnya dari si suami. Malangnya, si suami yang miskin itu tidak dapat juga menjelaskan hutang mas kahwinnya itu. Suatu hari si isteri hilang sabar dan mengadu kepada Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW melihat memang nyata suaminya terlalu miskin dan tidak mampu membayarnya. Lalu Baginda mencadangkan adalah lebih baik si isteri menghalalkan sahaja mas kahwin tersebut. Si isteri tetap berkeras, dia tidak bersetuju dan tidak rela. Dia masih berkeras menuntut haknya dan mahukan mas kahwin itu dari suaminya. Memandangkan hal itu, Rasulullah sendiri membayarkan mas kahwin tersebut bagi pihak suaminya. Tetapi sambil Rasulullah SAW membayar mas kahwin itu, baginda bersabda, Moga-moga tidak ada berkatnya mas kahwin ini. Rupa-rupanya Allah SWT mendengar sabda Rasulullah itu. Kata-kata kekasih Tuhan, kata-kata seorang Sohibul Azman. Akibat membangkang nasihat Rasulullah,akhirnya isteri itu mati di dalam keadaan kufur tidak beriman.
Semua orang menganggap bahkan yakin bahawa dunia ini dan manusia ini tidak akan selamat kalau duit tidak cukup,atau ilmu tidak tinggi,atau jawatan tidak ada dan tidak tinggi atau pembangunan dan kemodenan tidak tercapai.Tegasnya kalau tidak tiru apa orang Barat buat,tidak jadi macam Barat,kita tidak akan selamat.Maka berlumba-lumbalah kita mengejar Barat.Seluruh jentera kemodenan dan pembangunan dikerahkan ke arah tujuan tadi.Semua jadi yakin,kalau kita jadi Barat akan bahagialah hidup,akan senanglah hidup.
Hingga hari ini sedikit sebanyak kita telah membangun seperti yang kita kehendaki.Negara kita sudah agak maju.Ekonomi pun seakan-akan sudah pulih, walaupun masih banyak gerai-gerai Melayu di tepi-tepi jalan menempah sejarah pendek umur, walaupun ikan-ikan tangkapan Melayu banyak yang masih menjadi sumber kekayaan kapitalis yang terus menerus menghisap darah para nelayan. Dari segi ilmu pun, boleh dibanggakan memandangkan para lulusan universiti yang kian bertambah dan orang berdegri bertambah ramai.Namun ilmu-ilmuan tadi tetap tidak boleh hidup kalau tidak diberi gaji. Yang tidak diberi kerja jadi bebanan pula pada negara. Mereka tetap tidak berdikari untuk membina pembangunan dan perindustrian sendiri. Di samping itu akhlak lulusan tinggi tetap tidak jauh beza dengan akhlak yang ada lulusan rendah. Mungkin juga sama bahkan ada yang lebih teruk lagi. Soalnya hingga di tahap ini, adakah kita sudah mendapat masyarakat bahagia yang hidup penuh aman damai?
Memandang pada masalah sosial yang bertimpa-timpa dan kian kronik dengan masalah tidak habis-habis, tentu kita belum boleh mengatakan masyarakat kita sudah bahagia. Memang mungkin ada individu-individu atau keluarga-keluarga yang merasainya, tetapi ini bukan majoriti. Ini tidak boleh mencorakkan masyarakat.
Secara umum penguasa-penguasa atau orang-orang yang ada kuasa tidak bahagia disebabkan oleh penyakit gila kuasa.Orang kaya tidak bahagia kerana sering rindu pada harta.Ulama-ulama tidak bahagia kerana takut periuk nasi terancam.Ibu bapa hilang bahagia kerana anak-anak derhaka. Guru tidak bahagia dengan perangai anak muridnya. Pemudi-pemudi tidak bahagia kerana takut diganggu dan takut jadi andartu.Pemuda hilang bahagia kerana susah hendak kahwin. Dan macam-macam lagi penyakit yang sedang meragut kebahagiaan hidup dalam masyarakat kita.
Dalam keadaan ini apakah peranan pembangunan, kemodenan, ekonomi, jawatan dan ilmu tinggi tadi? Mampukah ia menyelesaikan masalah ini? Lihat di Barat! Kemodenan hidup menghantar manusia ke kancah kehidupan yang bergelora.
Sebagai contoh, sudah ramai orang Barat yang hidup berdua dengan anjing atau bertemankan kucing atau itik atau ayam. Kebahagiaan dengan sesama manusia sudah tiada. Apa erti dengan segala pembangunan tadi?
Kebahagiaan sebenarnya bukan terletak pada mata, tangan, kaki atau benda-benda lahiriah. Rasa bahagia itu tempatnya di hati manusia. Kalau hati senang, dalam miskin pun boleh rasa bahagia. Sebaliknya kalau hati rosak binasa maka ilmu setinggi mana pun, kaya-raya macam mana pun dan sebesar mana pun pangkat tetap tidak akan bahagia hidupnya. Itu bukti yang cukup jelas yang memang jadi pengalaman semua orang. Kerana itu untuk mencapai kebahagiaan hidup seseorang individu mahupun seluruh masyarakat amnya, apa yang mesti diutamakan ialah mendidik individu-individu manusia dengan iman dan taqwa. Bukan dengan duit, pangkat, ilmu tinggi, kemewahan dan kemodenan.
Iman dan taqwa boleh membuatkan orang miskin terhibur dengan kerniskinan. Iman dan taqwa boleh membuatkan orang kaya pemurah dengan hartanya, terhibur kalau dapat menderma. Iman dan taqwa boleh membuatkan penguasa rendah hati dengan rakyatnya serta terhibur kalau dapat berkhidmat pada rakyat. Iman dan taqwa boleh membuatkan anak-anak terhibur untuk mentaati ibu bapa, isteri suka dan terhibur untuk taat pada suami, pengikut terhibur untuk mentaati pemimpin, anak-anak murid terhibur dan hormat serta kasih pada guru, si gadis jadi malu serta terhibur tinggal di rumah dan pemuda jadi sungguh-sungguh bertanggungjawab. Bila manusia hidup dalam keadaan itu, barulah duit yang banyak membawa bahagia. Barulah pangkat tinggi berguna dan segala kemodenan dan pembangunan akan menjadi sumber keselesaan hidup yang bermakna.
Hari ini semua itu belum berlaku. Kerana hanya memikirkan negara maju, maka yang terus maju ialah negaranya, bukan orangnya. Yang membangun ialah negara bukan orangnya. Masyarakat manusia dibiarkan bermain dengan nafsu, tidak dihiasi dengan iman dan taqwa. Nafsulah yang mengatur kehidupan. Sebab itu masyarakat jadi huru-hara.
Saya suka menyenaraikan nafsu yang bersarang dan menjadi `Tuhan` dalam diri manusia itu.
1. Ulama tanpa taqwa
Bila taqwa tidak ada, maka para ulama akan dikuasai nafsu-nafsu:
a. Sombong atau ego
b. Ujub dan riyak
c. Hasad dengki
d. Susah untuk menerima kebenaran orang lain
e. Ingin berlawan terutama sesama ulama
f. Gunakan ilmu sebagai alat untuk kepentingan dunia, pangkat dan wang ringgit
g. Pemarah
h. Ingin dihormati (gila puji)
i. Kalau mampu, akan hidup bermewah-mewah
Kalau hati tidak bertaqwa, maka mustahil kita temui mufti-mufti, tuan-tuan kadhi, ustaz-ustaz, tuan-tuan imam yang merendah diri, yang merasai dirinya kurang, menyayangi orang lain sebagaimana mengasihi diri sendiri, bersedia untuk ditegur walaupun oleh kanak-kanak, tidak suka menunjuk-nunjuk pandai dan hebat, menggunakan ilmu untuk kepentingan Allah dan kehidupan di Akhirat, mudah melupakan dan memaafkan kesilapan orang lain, tidak suka dihormati dan dipuji kerana yang layak dipuji hanyalah Allah, serta bersifat zuhud dan warak.
Bila tidak ada ulama sebegini, maka umat seolah-olah ketiadaan lampu. Tinggallah umat dalam gelap-gelita, tidak tahu halal haram, tidak kenal Quran dan Hadis, tidak kenal Allah dan alam Akhirat, tidak faham apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, juga yang baik dan yang tidak baik. Maka hidup mereka tidak menentu. Kadang-kadang ke Barat, kadang-kadang ke Timur, terlanggar ke sana, terlanggar ke sini, terjunam ke lembah-lembah, tersungkur di jalan-jalan dan macam-macam kacau-bilau lagi. Jarang dan mungkin tidak ada langsung yang selamat.
Maka terjadilah apa yang terjadi hari ini. Umat Islam tidak bertaqwa dan tidak ikut Islam sepenuhnya, kadang-kadang jadi macam Yahudi, macam Kristian, macam hippies dan macam-macam lagi. Budaya dan tamadun Islam tidak ada dan tidak dapat dibangunkan dan diperjuangkan. Yang ada ialah budaya campur-aduk dan kacau-bilau.
2. Bila pemimpin tidak bertaqwa
Akibat ulama tidak bertaqwa maka mereka tidak dapat mendidik pemimpin atau penguasa agar menjadi pemimpin yang bertaqwa. Bila pemimpin tidak bertaqwa, maka hatinya akan dikerumuni oleh nafsu-nafsu jahat. Antaranya ego, sombong, takabur, riyak, ujub, menzalimi (diskriminasi), pilih kasih, gila kuasa, tidak adil, berburuk sangka, berhasad dengki terutama sesama pemimpin, menggunakan kuasa dan kedudukan untuk kepentingan dunia semata-mata, menghukum sesuka hati, takut dengan rakyat sendiri, bersifat pemarah dan bermewah-mewah.
Kalau penguasa tidak bertaqwa, sukar sekali untuk kita cari seorang menteri atau wakil rakyat atau presiden yang suka merendah diri dan merasakan dirinya setaraf dengan orang lain, tidak berbangga dengan kuasa, tidak rasa dirinya istimewa, berlaku adil dan lemah lembut, berbaik sangka, berkasih sayang sesama pemimpin, menggunakan kuasa untuk kepentingan Islam dan kehidupan di Akhirat, berhati-hati ketika menghukum, suka memaafkan dan hidup ala kadar, iaitu sekadar keperluan.
Bila hati pemimpin dan sikapnya telah rosak, kotor dan jahat sekali, maka tentu pimpinannya berjalan dengan bentuk dan arah yang sama, sama ada mereka sedar atau tidak, mahu atau tidak mahu. Memimpin bukan untuk menyelamatkan umat tapi kerana mempertahankan kuasa. Buat kebaikan bukan secara rela tapi terpaksa, sebab takut dihukum dan dikata nista oleh rakyat. Berlaku zalim, kejam, bermewah-mewah, berfoya-foya dengan maksiat dan mungkar. Kalau ada pun pemimpin yang baik, yakni tidaklah berbuat semua itu, tapi kalau bukan atas dasar taqwa, nescaya dia akan mencari kepentingan diri dan tidak tahan diuji. Dan ini akan membawa kepada 1001 masalah kepada dirinya dan rakyatnya. Sebagai contoh, lihatlah apa yang berlaku di hadapan mata kita hari ini. Pemimpin yang tidak bertaqwa telah menjadikan rakyat berpecah-pecah, bergaduh, bersengit hati sesama sendiri. Bahkan di kalangan mereka pun sama, berdendam dan berdengki.
Apa alasan dan penyelesaian pada semua itu? Sebab ekonomi kurang, sebab kebodohan rakyat, sebab kemajuan tidak seberapa? Sebab ilmu tidak ada? Sebenarnya semua itu disebabkan manusia-manusia tidak bertaqwa. Yang mana kalaulah masyarakat kita bertaqwa, nescaya Allah lepaskan kita dari sebarang kesulitan dan masalah, dan menjadikan negara kita negara yang aman, makmur dan mendapat keampunan Allah SWT.
3. Kalau orang kaya tidak bertaqwa
Kalau orang kaya tidak bertaqwa, maka jadilah hatinya penuh dengan sombong, ego, suka membazir, riyak yakni suka menunjuk-nunjuk. Menyalahgunakan harta seperti untuk mengumpan perempuan cantik, rasuah, suka berlumba-lumba terutama dengan sesama golongan kaya, dalam pesta itu masingmasing saling mengata.
Lihatlah hari ini, mereka berbangga dengan rumah besar, dengan perabot dan barang kemas yang mahal lagi mewah.Mereka bercuti ke sana bercuti ke sini. Beli barang bukan buatan tempatan tetapi diimport dari London atau Itali. Duit orang kaya lebih banyak dari duit negara. Walhal mereka tahu bahawa masyarakat mereka miskin. Tabung perjuangan Islam sentiasa kosong malah terhutang-hutang, negara tidak cukup duit untuk membiayai rakyat disebabkan orang kayanya berhati kejam dan sangat membazir.
Dalam keadaan seperti ini, sampai bila pun manusia tetap akan berada di dalam keadaan tidak puas hati. Kecualilah orang-orang kaya sanggup menjadi bank Akhirat, yang memberi pinjaman tanpa riba dan tidak minta dibayar di dunia.Sebab mereka faham bahawa kekayaan itu adalah pinjaman Allah, sekaligus sebagai ujian untuk melihat siapa yang sedar diri tentang asal-usulnya.
4. Orang miskin tanpa taqwa
Orang miskin kalau tidak bertaqwa maka tidaklah selamat hatinya dari sifat-sifat yang buruk seperti tidak sabar dengan kemiskinan hingga sanggup mencuri, menyamun, menipu dan membunuh. Mereka sangat hasad dengki dan sakit hati dengan orang yang berada. Keinginan untuk kaya sangatlah tebal hingga bila tidak kaya-kaya juga, mereka jadi putus asa dengan Allah. Hal-hal yang demikian itu menyebabkan berbagai jenayah berlaku dalam masyarakat. Rompak, samun, ragut, seluk saku dan lain-lain bentuk kecurian telah menjadi pekerjaan tetap sehinggalah bagi sesetengah mereka telah mendatangkan pendapatan yang lumayan. Hingga kerana itu, ramai manusia yang ketakutan kalau-kalau rumahnya dimasuki pencuri. Padahal tidak sepatutnya perkara-perkara ini berlaku dalam masyarakat umat Islam. Kerana orang mukmin yang bertaqwa, kalau dia miskin, dia redha dengan takdir. Dia tidak terseksa dengan kemiskinan di dunia demi mengharapkan kekayaan yang Allah janjikan di Akhirat.
5. Kaum ibu atau wanita kalau tanpa taqwa
Kaum ibu atau wanita kalau tidak bertaqwa maka kerja mereka ialah mengumpat, bersolek untuk menunjuk-nunjuk pada orang lelaki, gila dunia yakni gilakan perabot, hiasan gelang,pakaian, hingga lupa pada Allah dan lupa Akhirat. Seorang isteri yang tidak bertaqwa tidak akan dapat melayan dan mentaati suami dengan baik disebabkan tidak ada pada mereka sifat merendah diri pada suami dan sifat memandang mulia pada suami. Mereka bebas untuk keluar masuk dan menyusun program sendiri, tanpa memikirkan sangat apa kata suami.
Bila kaum ibu berada dalam keadaan ini maka rumahtangga bukan lagi gelanggang cinta dan kasih sayang, di mana suami terasa berada dalam sebuah mahligai yang penuh kebahagiaan di samping anak-anak yang terdidik dengan kasih sayang dan akhlak mulia dan ilmu yang berguna. Oleh kerana semua manusia ini inginkan kasih sayang dan kebahagiaan, maka jika rumah tidak dapat menyediakan itu, tentu mereka cari di luar. Lalu jadilah apa yang telah dan sedang terjadi. Iaitu disko atau kelab malam, dan tempat manusia mencari kasih dan kebahagiaan secara keji itu sering penuh, bahkan merupakan satu perniagaan yang sangat menguntungkan.
Ada yang menagih kasih dan bahagia dari dadah, dari arak dan dari segala hiburan-hiburan yang kotor-kotor. Mereka menyangka itu semualah kebahagiaan hidup, tidak ada yang lain lagi. Walaupun mereka sedar bahawa melakukan semua itu bererti kehinaan dan kebinasaan hidup.
Sabda Rasulullah SAW:
Maksudnya: "Dunia ini ialah perhiasan. Dan perhiasan yang paling cantik ialah wanita solehah." (Riwayat Muslim)
Semua orang tertarik pada perhiasan. Apalagi kalau alat perhiasan itu adalah sesuatu yang sangat cantik. Jadi, kalau dalam sebuah rumah itu ada wanita solehah, maka ahli-ahli rumah itu akan tertarik untuk sentiasa berada di rumah. Rumah adalah hiburan dan ketenangan hati mereka.
6. Pemuda dan pemudi tanpa taqwa
Kalau pemuda atau pemudi tidak bertaqwa, maka jadilah mereka manusia yang suka berfoya-foya, bercinta-cintaan dan berlagak ke hulu ke hilir dan menunjuk-nunjukkan diri. Bahkan menjadi kutu jalan. Kalau ada kesempatan mereka akan mengorat tanpa malu bahkan sudah menjadi permainan yang lumrah. Rasa iri hati, cemburu dan hasad dengki sesama sendiri bersarang penuh dalam hati mereka. Dan ini semua dapat kita saksikan dalam lakonan hidup mereka. Mereka sering berangan-angan, khayal dan lalai dari tugas-tugas yang sepatutnya . Kes-kes zina di kalangan muda-mudi yang turut melibatkan pelajar-pelajar sekolah sudah jadi perkara biasa dan seakan-akan mahu dibiarkan berterusan oleh kita.
Mana ada sekolah yang muda-mudinya sedang memperjuangkan agama, bangsa, negara dan tamadun umat supaya kita jadi gagah dan mulia di mata dunia. Tidak ada. Sebagai gantinya mereka itu sedang membina budaya lucah, gila harta, gila wanita, gila pangkat dan saling berebutan hingga membuatkan tamadun dan nilai kita jadi lemah dan lembab sekali.
Mereka tidak kerja kalau tidak makan gaji. Masa kosong dibuang ke padang bola, bukan memikirkan projek pertanian, perindustrian dan lain-lain yang sungguh penting untuk kekuatan umat. Berapa kerat dari muda-mudi Islam yang dapat tunaikan sepenuhnya tuntutan sembahyang lima kali sehari itu? Maka sebanyak itu sajalah dari mereka yang boleh di letakkan harapan, selebihnya adalah pengganggu, pengacau dan penghalang perjuangan kebenaran.
Muda-mudi yang bertaqwa ialah orang-orang yang serius terhadap tanggungjawab pada agama, bangsa dan negara. Mereka menyediakan tenaga, masa, fikiran dan semangat untuk tugas khalifah Allah di dunia. Mereka sanggup meninggalkan budaya liar berfoya-foya dan berlagak-lagak serta bergaya tidak menentu. Begitulah jauh bezanya antara umat yang bertaqwa dan tidak bertaqwa. Kalaulah kita dapat capai maqam ini, insyaAllah akan jadilah kita bangsa dan negara yang aman makrnur, seperti yang kita laung-laungkan dan idam-idamkan, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT:
Maksudnya: "Negara yang aman makmur dan mendapat keampunan Allah. " (Saba: 15)
Sumber: http://kawansejati.ee.itb.ac.id