Selasa, 15 April 2008

Tipu Daya Dunia Siapa Beruntung

Ghurur - Tipu Daya

Apa yang dimaksud dengan ghurur? Bagaimana Allah menjelaskan ghurur dalam Al -Qur'an? Bagaimana umat Islam sebaiknya menyikapi "fenomena" ghurur?

Ghurur artinya tipuan. Kata ghurur(tanpa derivatnya) disebut tidak kurang dari 9 kali, yaitu: Ali Imran 3:185; AnNisa' 4:120; Al-An'am 6:112; Al-A'raf 7:22; Al-Isra' 17:64; Al-Ahzab 33:12; Faathir 35:40; Hadiid 57:20; dan Al-Mulk 67:20.

Dari ayat-ayat tersebut penting untuk dikutip ayat ini "Syaithan itu memberikan janji-janji kepada mereka (manusia) dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaithan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka." (An Nisa' 4:120).

Al Quran menyebutkan dua hal yang ada unsur ghurur (tipu daya) di dalamnya yaitu :

  1. Janji-janji syaithan

    Selain ayat yang sudah disebutkan di atas, bisa juga dilihat dalam surat Al An'am 6:112 : "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis)jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah sebagai tipuan..."

    Dalam kisah Adam bisa dilihat bahwa Syaitan telah merayu Adam dan Hawa dengan perkataan bohong. Syaithan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam syurga)." (Al-A'raf 7:20). Maka Syaithan pun berikrar di hadapan Allah bahwa mereka akan berupaya menyesatkan manusia dengan berbagai cara.

    Sehubungan dengan ikrar syaithan ini, seharusnya kita (orang beriman) mewaspadai setiap janji yang disampaikan oleh para syaithan, khususnya syaithan dari jenis manusia. Dalam upaya mereka merebut kekuasaan mereka memberikan janji-janji yang menguntungkan umat Islam. Waspadai setiap janji Syaitan itu, karena di dalamnya mengandung tipuan.

  2. Kehidupan Dunia

    "Katakanlah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanaman mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akherat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah dan keridhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Al-Hadiid 57:20; baca juga Ali Imran 3:185).

Jika kehidupan ini dibagi menjadi dua yaitu dunia dan akherat, maka secara teoritis manusia menginginkan kebahagiaan kehidupan dunia sekaligus akherat. Jika diharuskan memilih salah satu, maka orang Islam akan memilih kebahagiaan akherat. Sementara orang kafir akan lebih memilih kabahagiaan hidup di dunia. (Al-A'la 87:16)

Permisalan kehidupan dunia oleh Allah sebagai permainan, bukan berarti bahwa umat Islam diminta untuk mengalah dalam urusan dunia ini dan menyerahkan urusan dunia kepada orang kafir. Tetapi agar umat Islam waspada, bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara, oleh sebab itu jangan melanggar aturan Allah hanya untuk mendapatkan kesenangan yang bersifat temporal.

Allah telah menjelaskan bahwa janji-janji syaithan itu adalah tipuan. Mereka, syaithan dan sekutunya, memberikan serangan informasi bahwa apa yang dijanjikan Allah dan rasulNya itu adalah tipu daya (Al-Ahzab 33:12). Upaya membingungkan umat dengan cara memberikan informasi-informasi yang menyesatkan ini berlangsung sampai saat ini. Ketika para mujahid yang dibantai, mereka beritakan bah wa yang dibantai adalah para pengacau keamanan.

Agar tidak tertipu, firman Allah berikut ini perlu direnungkan: "Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu dan takutlah kepada suatu hari yang (pada hati itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sungguh janji Allah adalah benar, maka jangan sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan pula penipu (syaithan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah." (Luqman 31:33)

TIPU DAYA SETAN

Kejadian aneh ini (23-08-01) berawal ketika saya bersama suami memeriksakan anak sulung kami ke sebuah Rumah Sakit di Bekasi.

Pagi itu tidak ada hal yang aneh ketika kami meninggalkan RS. Dalam perjalanan pulang, mobil yang dikemudikan oleh suami terasa normal-normal saja namun 10 menit lepas dari RS, tiba-tiba melalui pandangan mata batin saya, saya didatangi oleh ‘Anna' anak kedua saya yang telah meninggal dunia 3,5 tahun yang lalu. Anna terlihat cantik, lucu dan menggemaskan.

Haru-biru saya dibuatnya. Seluruh kerinduan, rasa bersalah dan emosi saya bercampur-aduk saat itu. Tak terasa air mata membasahi pipiku. saya menangis sesenggukan. Terlebih-lebih ‘anak' saya tersebut memberondong dengan pertanyaan dan pernyataan yang membuat saya merasa bersalah.

Kenapa papa dan mama lupa sama Anna, kenapa tidak pernah mengirim doa kepadanya? Serta rajukan dan rengekan khas anak kecil lainnya. Diciumnya pipi saya berkali-kali. Kemudian perhatiannya beralih ke papanya, digoncang-goncangkannya bahu papanya yang sedang mengemudi. Namun karena suami saya belum terbuka mata-bathinnya maka ia kembali ke saya dan bertanya: Ma.. papa tidak bisa mendengar ya ma? Papa juga tidak bisa melihat Anna ya ma? Saya mengangguk perlahan. Saya jelaskan hal ini kepada suami, yang lalu membuatnya merasa bersalah pula karena telah "melupakannya". Namun dalam benak pikirannya ada banyak pertanyaan yang perlu segera mendapat penjelasan tentang kehadiran "roh" ini. Anna adalah anak kedua kami, ia meninggal dunia pada usia 8 bulan di kandungan. Menurut pengetahuan yang kami dapatkan selama ini, bahwa anak yang meninggal dalam kandungan roh-nya akan langsung menghadap ke Sang Pencipta. Tapi kenapa roh anak kami ini masih gentayangan di dunia fana ini? Apakah karena kami tidak melakukan aqiqah? ataupun selamatan hingga ia begini? Di mobil dalam perjalanan pulang itu saya dan suami terus memikirkan kemungkinan penyebab dari semua ini.

Sesampai dirumah anak tersebut maunya nempel terus sama papanya. Suami saya yang kebetulan hari itu sedang tidak sehat, selalu berbaring ditempat tidur. "anak" itupun dengan manjanya ikut tiduran memeluk papanya dengan kepala bersandar di dada papanya, saya hanya senyum-senyum saja melihatnya. Suami saya bertanya melalui saya kepada anak kami tersebut mengenai banyak hal seperti: Dimana ia selama ini? Siapa yang mengasuhnya dari bayi hingga usia 3,5 tahun ini? Mengapa ia datang ke kami? Dan lain-lain pertanyaan yang intinya adalah untuk memuaskan rasa penasaran kami.

Rasa penasaran kami membuat kami sepakat untuk pergi ke tempat praktek Pak Haji Bambang untuk mencari solusi dan penjelasan. Herannya, tiba saat kami hendak pergi "anak" kami tersebut tidak ingin ikut dengan alasan takut disuruh pulang oleh Pak Haji Bambang. Ia hanya berpesan agar jangan pergi lama-lama karena ia hanya punya waktu menginap satu malam saja, dan besok sudah harus pulang ke tempatnya. Akhirnya saya dan suami berangkat malam itu ditemani oleh anak kami yang paling kecil, Sasha.

Seperti biasa kami mendaftarkan diri pada Bu Ika untuk konsultasi. Sambil menunggu giliran kami ngobrol dengan sesama pasien tentang pengalaman masing-masing. Pada malam itu teman pasien kami lebih banyak yang memiliki keluhan non-medis daripada medis. Tiba giliran saya yang langsung ditangani oleh Pak Haji Bambang.

Setan Pandai Menyaru

Saya utarakan kejadian gaib yang sedang saya alami. Pak Haji pada prinsipnya mengatakan bahwa kalau benar itu roh anak kami ya disuruh pulang saja karena toh alamnya sudah berbeda. Namun Pak Haji menyangsikannya. Kemudian ia meminta segelas air putih, dibacakannya doa pada air minum itu dan kemudian dimintanya saya minum. Saya minum seteguk, hampir terloncat saya dari kursi tempat duduk karena mendadak dihadapan saya ada bayangan nenek sihir dengan topi hitamnya menyeringai dengan gigi-gigi hitamnya yang tidak beraturan. Saya minum lagi seteguk serta saya ucek-ucek mata saya untuk memastikan. Tetapi bayangan nenek sihir tadi tetap saja ada. Pak Haji Bambang senyum-senyum saja melihat kelakuanku. Kemudian beliau bertanya: "Apa yang kamu lihat?" Saya jawab apa adanya, kemudian beliau tertawa sambil memberitahu bahwa itulah wujud sebenarnya dari penampakan roh anak kami. Woow seraaaaam. Itulah alasannya kenapa ia malam ini mau tidur dengan suamiku. Ternyata makhluk yang dicurigai sebagai penghuni RS tersebut naksir sama suamiku. Hiiiiii……… "Nah, sudah jelaskan? Sambung Pak Haji Bambang, tak perlu repot-repot, sampai dirumah nanti tangkap, masukin ke telor dan buang". Itulah tipu daya setan, setan memang pandai menyaru sebagai apa saja. Mulai sekarang janganlah sampai tertipu lagi.

Menangkap Makhluk Dalam Perjalanan Pulang

Malam itu, yang mendadak baru saya ingat adalah malam jum'at, jam menunjukkan pukul 23:20, kami pulang dengan hati mantab, bertekad menangkap setan tukang tipu itu. Suami saya walaupun belum bisa melihat makhluk gaib, tetapi sensitive terhadap kehadiran dan memiliki kemampuan untuk menangkapnya. Dengan melewati gang kami jalan pintas menuju tempat mobil diparkir, tak terasa bulu kudukku meremang berdiri dengan tebalnya, kupeluk erat Sasha. Tidak sepatah katapun yang saya ucapkan. Dalam hati saya terus berdzikir dan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Ternyata suamikupun merasakan hal yang sama. Sampai di mobil kuberitahu suami bawa makhluk yang menyaru sebagai "Anna" telah menunggu di dalam mobil di kursi tengah. Dengan berpura-pura belum tahu, kami naiki mobil dan kami jalankan perlahan. Kami berdoa memohon ijin dan ridlo, serta perlindungan-Nya dengan membuat pagar perlindungan gaib terhadap diri dan mobil kami. Tak lupa kami mempersiapkan telor ayam sebagai media penjara/penampung bagi mahkluk tersebut. Setelah persiapan mantab, saya melirik ke suami yang rupanya telah siap juga. Dengan hati dag-dig-dug, kupanggil "Anna" supaya ia maju ke depan. Dengan cepat Anna maju ke depan duduk diantara kami berdua, kuberi tanda ke pada suamiku agar ia segera menangkap makhluk tersebut. Memasuki jalan Surabaya, dengan tangan kiri tetap memegang kemudi mobil, dipakainya tangan kanan untuk menangkapnya. Shiuut……kena. Lalu cepat-cepat dimasukkannya ke dalam telor. Belum sempat aku bernafas lega, tiba-tiba makhluk tsb loncat keluar dari telor dan kembali duduk di jok belakang sambil ketawa cikikikan memperlihatkan gigi-giginya yang hitam dan tak beraturan. Aku tidak menyangka akan terjadi hal yang demikian, karena pengalaman selama ini makhluk yang berhasil dijebloskan ke dalam telor tidak pernah bisa lepas begitu saja. Suamiku mengambil telor tersebut dan disyaratinya sekali lagi untuk memastikan bahwa telor tersebut telah siap. Ketika mobil kami tertahan lampu merah di Pasar Rumput, dicobanya lagi menangkapnya. Berhasil ketangkap …… namun lolos lagi.

Gagal memenjara makhluk tersebut ke dalam telor untuk kedua kalinya, kami sepakat untuk menunggu saat yang tepat.

Dzikir dan Do'a Melemahkan kekuatan Setan

Mobil kami mulai memasuki jalan tol, kami terus berdoa kepada Allah SWT memohon tambahan kekuatan bathin. Untuk menghilangkan kesunyian yang mencekam, suami menyetel cassette dzikir. Kuperhatikan mahkluk itu menutupi kedua kupingnya dengan tangan. Rupanya ia tidak ingin mendengar lantunan puji-pujian, dzikir dan do'a-do'a yang diperdengarkan dari tape mobil. Lama-kelamaan saking tidak tahannya mendengarkan lagu puji-pujian tersebut, makhluk itu terlihat berubah-ubah bentuk. Dari bentuk anak kecil ke bentuk nenek sihir, ke bentuk wanita dengan gigi-gigi taring yang tajam, kembali ke bentuk anak kecil, begitu seterusnya. Subhanallah, mengetahui efek dzikir yang demikian hebat kepada makhluk tersebut, suami menambah volume suara dengan harapan untuk makin memperlemah kekuatannya.

Jam 00: 15 kami sampai di depan rumah. Khawatir makhluk itu akan kabur, tanpa keluar dari mobil suami menangkapnya dan berhasil. Makhluk itu tidak dapat keluar lagi dari dalam telor. Alhamdullilahirobbil alamin. Didalam telor makhluk tersebut memperlihatkan bentuk aslinya, seorang wanita muda yang sangat cantik, tengah menangis sambil memegangi perutnya yang hamil. Ia meninggal beberapa tahun yang lalu pada saat melahirkan, dengan membawa kekecewaan yang dalam karena perilaku suaminya. Ia meninggal dengan tidak iklhas. Astaghfirullah…..

Rupanya tertangkapnya roh penasaran tersebut bukan merupakan akhir dari cerita kami malam itu. Kami masih harus berjuang menangkapi belasan makhluk halus yang beraneka bentuk, temen-temen dari roh penasaran tadi, yang gentayangan di rumah kami, hingga pukul 02.30 dini hari. Melelahkan dan mendebarkan seperti sedang bermain film Poltergeist. (BET).

TIPU DAYA SETAN TERHADAP ORANG SALEH
oleh : Ust. Abu Aqila



يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيْهِمْ وَ مَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُـرُوْرًا.


“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. an-Nisa` [4]: 120).

Bukan setan namanya bila gampang menyerah menyesatkan keturunan Nabi Adam as.. Profil setan sejati, yakni Iblis dan seluruh bala tentara pengikutnya –laknatullah ‘alaihim– tidak akan pernah melepaskan satu manusia pun bebas dari tipu daya dan seluruh penyesatannya. Sesungguhnya orang-orang yang saleh dari kalangan kaum muslimin justru mendapatkan godaan dan tipu daya yang lebih dahsyat dari pada orang-orang yang kadar keimanannya masih sedikit dan juga orang-orang kafir. Karena mereka golongan shalihun adalah orang-orang yang benar dengan aqidah, ibadah, dan akhlaknya dalam berislam. Mereka selalu istiqamah di jalan kebenaran dan mengajak (baca: mendakwahi) orang lain agar menjadi golongan shalihun juga. Intinya, setiap orang Islam itu harus saleh dan mensalehkan orang lain. Hal inilah yang sangat dikhawatirkan oleh setan-setan laknatullah bahwa misi utama mereka menyesatkan sebagian besar seluruh umat manusia menjadi gagal total.

Beberapa Tipu Daya Setan terhadap Orang-orang Saleh

Waspda dan hati-hati terhadap godaan setan, serta selalu memohon perlindungan (isti’adzah) kepada Allah Swt. mutlak dilakukan oleh setiap muslim. Berikut ini beberapa cara tipu daya setan terutama kepada orang-orang saleh dan secara umum kepada orang-orang Islam lainnya.

• Membuat manusia ragu-ragu dalam masalah aqidah.

Cara yang pertama ini sangat berbahaya karena berkaitan dengan masalah aqidah dari orang yang ditipu daya tersebut. Isi penyesatannya seperti: setan akan memberikan pertanyaan meragukan kepadanya tentang asal-muasal penciptaan, qadar, dan sebagainya yang berkaitan keyakinan terhadap sendi-sendi aqidah islamiyah. Hal ini mungkin saja berhasil mengenai manusia –termasuk kita– yang pertama, jika kita sering lalai untuk berlindung kepada Allah Swt., dan kedua, kita terpedaya menggunakan “alasan menuntut ilmu”. Maksudnya manusia dapat tertipu daya oleh setan, sehingga mulai merasa berilmu agama tinggi dan melakukan penyimpangan dari jalan Allah yang lurus. Ini banyak terjadi pada kelompok-kelompok yang sesat sampai saat ini.

• Menghiasi perasaan manusia sehingga meninggalkan dunia dan menjauhkan diri dari masyarakat.

Cara jahat setan itu tidak kalah berbahaya dengan cara yang pertama. Ada orang-orang yang terjerumus perasaan dan pikirannya sehingga dengan alasan uzlah (menyendiri) guna memperbaiki hati dan mensucikan jiwa kemudian meninggalkan dunia dan menjauhkan diri mereka dari masyarakat. Orang-orang seperti ini biasa mengenakan “pakaian” pemberi nasihat. Setiap manusia tidak dapat selamat dari tipu daya setan semacam ini kecuali dengan ilmu dan pemahaman agama yang benar terhadap agama.

• Menghiasi perasaan manusia dengan perbuatan-perbuatan eksklusif dan mencegah keluar dari itu.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,”Di antara manusia terdapat orang yang terikat dengan pakaian yang tidak dipakai oleh orang lain, atau duduk pada tempat yang tidak diduduki oleh orang lain, atau berjalan di jalan yang tidak dilalui oleh orang lain, atau dengan pakaian dan keadaan yang tidak terjadi pada kedua kalinya, atau ibadah tertentu dan tidak melakukan selain itu meskipun lebih tinggi dari hal tersebut, atau seorang guru tertentu yang tidak berpaling dari hal-hal yang dilarang –oleh Allah dan Rasul-Nya–, meskipun ia lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka semua tertutup dari mendapatkan apa yang dipinta dan terhalang darinya.”

Kita dapat menyaksikan bagaimana setan laknatullah telah berhasil memperdaya orang-orang seperti itu. Mereka beribadah dengan latihan, pengasingan, dan pengosongan hati. Ilmu-ilmu yang bermanfaat mereka anggap sebagai pemutus jalan. Bila disebutkan kepada mereka persahabatan karena Allah atau permusuhan karena-Nya, memerintahkan berbuat ma’ruf dan mencegah yang munkar, maka itu dianggap sebagai keburukan dan mencampuri urusan orang lain. Jika ada di antara mereka ada yang melakukan hal tersebut, akan langsung dikeluarkan dari kumpulan mereka. Orang-orang seperti ini berada paling jauh dari manusia, meskipun mereka memiliki lebih banyak petunjuk. Allah yang lebih mengetahui tentang hal ini.

• Menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan bid’ah dan syubhat.

Sudah seharusnya kita meneladani dan ittiba` (mengikuti) kepada Rasulullah Saw., karena Beliau adalah orang yang ma`shum dan sebaik-baik seluruh ciptaan-Nya, namun Beliau tidak meninggalkan menikah, tidak menjauhkan diri dari manusia, dan tidak meninggalkan pengobatan ketika sakit. Kaum muslimin tidak boleh menyalahi Beliau. Syariah adalah argumen, serta perbuatan Rasulullah Saw. dan pengarahannya adalah neraca, sehingga kita dapat mengukur benar-tidaknya perbuatan kita.

Pada prinsipnya, bid’ah berarti mengada-adakan perbuatan di dalam ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw., sedangkan syubhat berarti perkara yang belum jelas halal dan haramnya, namun Rasulullah Saw. menganjurkan agar perkara syubhat segera ditinggalkan jauh-jauh oleh tiap muslim, karena resiko mudharat-nya lebih besar dari pada manfaatnya.

Cara licik ini termasuk yang disukai juga oleh setan, karena bila telah terjerumus maka muslim yang bersangkutan “menabrak” secara serampangan dan tidak peduli antara aturan halal dan haram, antara perbuatan berpahala dan berdosa, antara aktivitas ibadah dan maksiat, dan sebagainya. Sehingga ada ungkapan nyleneh “yang haram saja susah, apalagi yang halal”. Na’udzu billahi min dzalik.

Sedikit Nasihat untuk Kaum Muslimin

Tanpa ilmu seorang muslim tidak akan dapat berjalan dengan benar dan aman menuju Allah Swt.. Karena jalan menuju Allah penuh dengan rintangan dan berliku-liku. Tidak seorang pun dapat mengatasinya kecuali dengan pertolongan Allah dan melindungi diri dengan benteng ilmu. Ilmu yang dimaksud oleh para ulama tidak terbatas pada satu cabang, namun seluruh cabang ilmu yang dapat membentuk akal seseorang dengan pembentukan yang benar dan sempurna.

Bagi setiap muslim hendaklah memulai dengan mempelajari ilmu aqidah lalu memperbaiki aqidahnya, menutup jalan masuk setan, karena setan akan memperbanyak godaannya setiap kali manusia tersesat dalam jalannya –dengan menempuh jalan setan.

Ia hendaklah mempelajari juga ilmu akhlak yang akan bermanfaat sebagai panduan perilaku teladan di dalam hidupnya.

Ia juga harus mengetahui tentang halal dan haram dalam beribadah dan pergaulan yang dilakukan oleh manusia.

Ia juga harus mempelajari Al-Qur`an, mengkajinya, menghafalnya, dan meneliti ilmu-ilmu serta tafsirnya. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba dalam kehidupannya, keselamatannya, dan kembali kepada-Nya kecuali dengan mempelajari Al-Qur`an dan memahaminya.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarinya (kepada orang lain).” (Muttafaqun ‘alaih).

Ia juga harus mengetahui petunjuk Rasulullah Saw. dalam seluruh keadaannya –melalui hadits-hadits Beliau Saw.– baik dalam keadaan damai dan perang, dalam hal makan dan minum, dalam hal tidur dan bangunnya, dalam perintahnya untuk berbuat yang ma’ruf dan dan larangannya dari yang munkar, dalam pergaulannya dengan keluarganya, serta dalam segala keadaannya.

JANGAN PERCAYA OMONGAN SETAN
oleh : Ust. Abu Aqila

Pernah ada yang datang kepada saya karena ketakutan dengan ancaman setan yang masuk di dalam tubuh pembantunya. Mereka sekeluarga mengeluh bahwa salah seorang pembantunya kemasukan jin, lalu jin yang bersarang di tubuh pembantunya tadi bicara sesuatu yang membuat takut seluruh anggota keluarga itu. Menurut cerita mereka, jin itu mengancam akan menghabisi satu-persatu anggota keluarganya secara bertahap mulai dari anak-anaknya dan yang terakhir adalah ibunya. Dengan raut wajah yang tampak tegang mereka merasa yakin bahwa apa yang dikatakan jin itu akan jadi kenyataan. Apalagi setelah jin itu mengancam, salah seorang anaknya terkena penyakit mendadak yang membuatnya lumpuh tanpa penyebab yang berarti.


Mendengar keluhan keluarga tadi, saya pun langsung melakukan ruqyah satu-persatu mulai dari anak-anaknya sampai para pembantunya. Walhasil, tidak satu pun dari mereka yang terkena penyakit medis ataupun gangguan jin kecuali anaknya yang lumpuh, yang ternyata penyebab lumpuhnya karena dia pernah ditabrak motor hingga terpental ke selokan waktu berumur 4 tahun. Pembantunya yang pernah kesurupan pun tidak tampak ada reaksi saat saya ruqyah, kecuali ada sedikit penegangan di beberapa pembuluh darah yang berada di batang lehernya. Dugaan terkuat penyebab pembantu itu kesurupan tadi karena adanya masalah keluarga yang dia hadapi.

Alhamdulillah, sampai hari ini kondisi keluarga itu tidak lagi tegang dan mencekam. Setelah saya ruqyah dan saya nasihati bahwa kita tidak boleh percaya sedikit pun dengan apa yang dikatakan oleh setan walaupun terkadang ada yang benar. Kita harus berpikir rasional bahwa kekuatan setan itu pada hakikatnya adalah lemah, dan hanya orang-orang yang lebih lemah dari setanlah yang mudah dikuasai atau dipengaruhi oleh setan.

Apakah omongan jin yang masuk pada tubuh manusia waktu diruqyah itu benar dan dapat dipercaya?

Saudaraku yang dimuliakan Allah, orang yang belum tahu karakter setan pasti mudah mempercayai omongan-omongan setan yang keluar dari mulut orang-orang yang sedang diruqyah. Bahkan tidak sedikit orang terpedaya oleh mereka. Misalnya, ada orang yang meruqyah sudah berjam-jam tapi jin yang bersarang di tubuh pasiennya tidak juga keluar. Kadang-kadang di saat kita sudah kelelahan meruqyah, setan itu senang menjebak kita dengan perkataan-perkataan yang tujuannya supaya kita melakukan sesuatu untuknya. Apabila kita mau melakukannya maka setan itu menjamin akan keluar dari tubuh orang itu.

Dulu pernah ada seorang pemuda yang meruqyah temannya yang kemasukan setan, lalu setan yang bersarang di tubuhnya berkata bahwa ia akan keluar kalau dibacakan Al-Qur`an sampai khatam 7 kali. Pemuda itu begitu yakin bahwa setan itu akan keluar bila dia dapat memenuhi keinginan setan itu. Akhirnya dia kumpulkan beberapa temannya untuk membantu membaca Al-Qur`an hingga khatam selama 7 kali. Mereka dapat mengkhatamkan Al-Qur`an itu setelah membacanya selama 15 hari. Maka pemuda itu pun lalu menagih janji setan itu untuk keluar dari tubuh temannya tadi. Ternyata setan itu berbohong dan tidak menepati janjinya. Karena keletihan dan fisiknya yang sudah melemah, maka teman-temannya membawanya ke rumah sakit. Setelah dirawat + 1 minggu, anak tersebut akhirnya meninggal dunia. Akibat yang ditimbulkan oleh kebohongan setan, kita dapat salah mengantisipasi penyakit yang kita derita bahkan kita dapat tersesat kalau mempercayai omongan setan, sebagaimana firman Allah Swt.:

يَعِدُهُمْ وَ يُمَنِّيْهِمْ وَ مَا يَهِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُـرُوْرًا.


“Setan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. an-Nisa` [4]: 120).

Demikianlah hendaknya kita tidak boleh mempercayai apapun yang dikatakan setan yang masuk ke tubuh seseorang sekalipun setan itu mengajak atau menyampaikan kebaikan kepada kita. Tidak ada manfaat apapun dengan mempercayai dan mengikuti apapun yang dikatakan oleh setan.

Apabila ada orang kesurupan lalu dia minta kita melakukan syarat-syarat tertentu, seperti minta tumbal sesajen kepala kerbau ataupun kepala kambing, atau juga hal-hal lainnya, maka jangan diikuti, karena Allah Swt. telah berfirman,

“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu mengikuti tentulah kamu menjadi orang-orang musyrik.” (QS. al-An’am [6]: 121).

Mengikuti perkataan setan dapat menjerumuskan kita dalam kemusyrikan. Wallahu a’lam.


Luasnya Neraka
Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibril datang kepada Nabi saw pada waktu yg ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh nabi s.a.w.: "Mengapa aku melihat kau berubah muka?" Jawabnya: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman dari padanya."


Lalu nabi s.a.w. bersabda: "Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam." Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan basinya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Qur'an itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bagiannya yang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan."

Nabi s.a.w. bertanya: "Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah kami?" Jawabnya: "Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda." (nota kefahaman: yaitu yg lebih bawah lebih panas)

Tanya Rasulullah s.a.w.: "Siapakah penduduk masing-masing pintu?" Jawab Jibril:
"Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang yg kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga Fir'aun sedang namanya Al-Hawiyah.
Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim,
Pintu ketiga tempat orang shobi'in bernama Saqar.
Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha,
Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah.
Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa'eir."

Kemudian Jibril diam segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya: "Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?" Jawabnya: "Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat."

Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibril meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar nabi saw bersabda: "Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?" Jawabnya: "Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu."

Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibril juga menangis, kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.(dipetik dari kitab "Peringatan Bagi Yg Lalai")

Dari Hadits Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku. Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu itu:

1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat
2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah
3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah
5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik
6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak
7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum
8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular
9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat.
10. Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai
11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat

Mudah-mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kita semua.

Wallahua'lam.

MEMBANGUN KEBERANIAN MELAWAN SETAN
oleh : Ust. Abu Aqila

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 175).


Ketika mendengar terminologi “setan”, apa yang kemudian terbayang dalam khayalan sebagian masyarakat kita yang mayoritas muslim? Bisa jadi sambil merinding ketakutan, orang-orang Jawa akan membayangkan sosok genderuwo, orang-orang Betawi akan membayangkan sosok kuntilanak atau pocong, orang-orang Cina akan membayangkan sosok vampire, orang-orang Sunda akan membayangkan sosok ririwa atau jurig, dan orang-orang Eropa akan membayangkan sosok dracula. Yang menjadi masalah kemudian, benarkah semua sosok itu adalah setan?

Hanya dengan satu cara, yaitu menggunakan aqidah islamiyah yang lurus untuk menjawab hal tersebut di atas. Berikut ini akan kita temui pembahasan tentang tipu daya Iblis dan setan dengan sosok-sosok yang menyeramkan –yang membohongi manusia–, penjelasan Al-Qur`an tentang “setan”, dan cara membangun mentalitas berani menghadapi setan.

Setan Menurut Cerita Tradisi

Banyak dari umat Islam yang belum benar memahami tentang “setan”, sekalipun ia seorang ustadz atau kiyai. Oleh karena itulah masyarakat Indonesia pada umumnya dalam memahami setan masih berdasarkan pada asumsi tradisi dan hanya berdasarkan pada cerita-cerita nenek moyang saja. Apalagi bila cerita itu dibumbui oleh paranormal ataupun dukun. Tentu tingkat kesalahannya semakin membesar saja.

1. Setan menurut tradisi Jawa, bahwa sejak zaman dahulu orang-orang Jawa begitu meyakini sosok setan itu menyeramkan, menakutkan, dan terkesan berbau horor. Mereka memiliki asumsi yang salah bahwa sosok setan dikhayalkan dan diberi nama sebagai: genderuwo, buto ijo, wewe gombel, nyai roro kidul, dan sebagainya.

2. Setan menurut tradisi Betawi tentu saja berbeda dengan asumsi tradisi Jawa. Orang-orang Betawi sejak zaman nenek moyang mereka meyakini keberadaan setan seperti dalam cerita-cerita tradisi mereka, yaitu asumsi yang salah bahwa sosok setan dikhayalkan dan diberi nama sebagai: kuntilanak, pocongan atau pocong, roh halus, makhluk halus, hantu, jelangkung, roh gentayangan, dan sebagainya. Uniknya, perbedaan geografis antara masyarakat Jawa dan Betawi menjadikan asumsi sosok-sosok setan mereka juga berbeda.

3. Setan menurut tradisi Sunda juga tidak kalah seramnya dengan asumsi orang-orang Jawa ataupun Betawi. Mereka sering menyebut nama-nama yang merupakan asumsi yang salah, bahwa sosok setan dikhayalkan dan diberi nama sebagai: jurig, ririwa, sanekala, sundelbolong, dan sebagainya.

4. Setan menurut tradisi Sumbawa dan sekitarnya lebih unik lagi, yaitu mereka mempunyai asumsi yang salah bahwa sosok setan dikhayalkan dan diberi nama sebagai: leak. Leak digambarkan menakutkan, berkulit hitam, dan dapat terbang.

5. Setan menurut tradisi Cina sungguh berbeda dengan sosok-sosok berdasarkan asumsi di beberapa daerah di Indonesia. Hal ini dikarenakan kultur antara masyarakat Indonesia dan Cina yang berbeda. Mereka memiliki asumsi yang salah bahwa sosok setan dikhayalkan dan diberi nama sebagai: vampire, hantu wanita, hantu banci, dan sebagainya.

6. Setan menurut tradisi Eropa digambarkan lebih berbeda lagi dibanding beberapa sosok setan sebelumnya. Mereka memiliki asumsi yang salah bahwa sosok setan dikhayalkan dan diberi nama sebagai: dracula. Dracula diasumsikan kulitnya bule seperti kulit orang Eropa, matanya biru, giginya bertaring, suka menghisap darah dari leher manusia, dan mencari mangsa di malam hari.

Setan Menurut Ajaran Islam

Ajaran Islam memberi pemahaman bahwa kata “setan” itu sebagai predikat atau status bagi makhluk Allah Swt. yang berkarakter dan berperilaku tidak sesuai dengan aturan Allah, bahkan juga mengajak yang lain untuk bergabung ke dalam gerakan penyesatan mereka yang penuh dengan murka Allah Swt..

Menurut Al-Qur`an, “setan” itu adalah:

• Musuh para Nabi, yang terdiri dari golongan manusia dan jin (QS. 6: 112);
• Penggoda setiap Nabi dan manusia yang ingin beriman dan beribadah kepada-Nya (QS. 22: 52);
• Pembisik kejahatan pada jiwa manusia (QS. 114: 5-6);
• Golongan manusia yang telah menjadi budak setan, lalu menyesatkan manusia (QS. 7: 202);
• Musuh manusia yang mengajak masuk ke dalam neraka (QS. 35: 6);
• Thaghut (sosok tandingan yang memusuhi Allah Swt.) yang mengajak menggunakan sistem selain Islam (QS. 4: 60);
• Pemboros yang menyia-nyiakan karunia Allah (QS. 17: 27);
• Si kikir yang takut miskin dan enggan menginfakkan hartanya di jalan Allah (QS. 2: 268);
• Pemakan riba (QS. 2: 275);
• Orang yang lalai berdzikir serta mengabaikan perintah dan larangannya (QS. 43: 36);
• Pelaku kejahatan, kekejian, dan kemaksiatan (QS. 2: 169);
• Pembuat makar yang bermaksud memfitnah dan membunuh orang-orang beriman (QS. 58: 10);
• Orang munafik yang menipu manusia supaya tersesat ke dalam kekufuran (QS. 59: 16);
• Orang-orang kafir (QS. 13: 33);
• Penyeru perbuatan keji dan mungkar (QS. 24: 21);
• Orang-orang musyrik (QS. 27: 24, QS. 34: 40-41, dan QS. 6: 100);
• Orang yang berbuat dosa yang tidak pernah merasa bersalah (QS. 6: 43, QS. 48: 12, dan QS. 43: 37);
• Si pembuat khurafat yang mengganti ajaran Islam dengan ajaran tradisi (QS. 31: 21);
• Orang yang cinta dunia dan lupa kepada kehidupan akhirat (QS. 31: 33 dan QS. 35: 5-6);
• Pelaku perbuatan keji yang senang makan dan minum dari hal-hal yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya (QS. 5: 90 dan QS. 2: 168-169);

Berani Melawan Setan

Dengan memahami aqidah islamiyah yang baik, maka sudah wajib bagi kita sebagai orang-orang beriman tidak takut lagi melintasi tempat-tempat keramat, seperti kuburan, rumah tua, hutan, gua, pohon besar, dan lainnya. Ternyata genderuwo, kuntilanak, pocong, jurig, vampire, dan sebagainya, hanya sosok-sosok setan yang diasumsikan oleh tradisi di masing-masing tempat. Karena itu, maka kita tidak boleh takut terhadap mereka.

Berikut ini beberapa hal yang dapat ditempuh untuk mengendalikan rasa takut dan membangun keberanian melawan setan:

• Memperbaiki fikrah (pola pikir) kita bahwa rasa takut kepada setan adalah tidak syar’i (tidak sesuai dengan syariat Islam). Karena rasa takut yang syar’i hanya kepada Allah Swt. saja (QS. 2: 150, QS. 9: 13, dan QS. 2: 169);
• Meyakini secara qalbiyah (mentalitas) bahwa istilah “penampakan” dalam masyarakat kita sebenarnya adalah talbis (penipuan; pembohongan) dari sosok setan golongan jin yang wujud aslinya yang nggak seram (QS. 3: 175);
• Harus hidup kaafah (menyeluruh) dengan aturan Islam dan menghindari karakter dan perilaku setan (QS. 2: 208);
• Senantiasa melakukan isti’adzah (perlindungan) kepada Allah Swt. sebelum membaca Al-Qur`an, serta sebelum beribadah dan beraktivitas sehari-hari lainnya (QS. 16: 98, dan QS. 114: 1-6);
• Harus mempunyai keberanian yang benar karena Allah Swt. itu pelindung orang beriman dan saleh, maka harus berani, tegas, dan tidak ada kompromi terhadap setan sebagai musuh manusia (QS. 7: 196, dan QS. 35: 6);
• Jangan menggunakan keberanian terhadap setan karena punya ilmu perdukunan (punya setan khadam) atau minta tolong kepada dukun atau paranormal. Cara ini kelihatan “hebat”, namun di sisi Allah cara ini termasuk perbuatan syirik, sesat, dan penuh kehinaan (QS. 4: 48);
• Berani bersikap al-baro` (membebaskan diri) berupa mengingkari, membenci, memusuhi, dan memutus hubungan dengan karakter dan nilai-nilai syaithani di sekitar kita (QS. 60: 4);
• Berani bersikap al-wala` (mono-loyalitas) hanya kepada Allah Swt. berupa taat, mendekat, membela, dan mencintai-Nya, sehingga terjalin hubungan kuat dengan Allah Swt. sekaligus pertolongan-Nya akan mudah datang (QS. 5: 55);
• Aktif mengkaji nilai-nilai Islam, berdakwah, dan menyumbangkan potensi diri kita untuk menolong agama Allah Swt., sehingga akan muncul keberanian, kecerdasan diri dan pertolongan Allah untuk menghadapi tipu daya setan (QS. 47: 7);
• Senantiasa meningkatkan nilai iman, ikhlas, dan tawakal kepada Allah Swt. Karena dengan kekuatan nilai-nilai tersebut setan-setan golongan jin tidak berdaya menipu daya (QS. 15: 39-41, QS. 16: 99, dan hadits Rasul Saw.: “Barangsiapa keluar rumah berkata,’Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan-Nya’, maka dikatakan kepadanya,’Engkau mendapat petunjuk, dilindungi, dan dicukupi.’ Setan berkata kepada setan lainnya,’Bagaimana engkau dapat menaklukkan orang yang telah mendapat petunjuk, dicukupi, dan dilindungi?’” (HR. at-Tirmidzi).


Tipuan Dunia

Kuliah Umum

Ayat Al Quran

"wamal hayaatuddunia illaa mataa`ul ghurur"

Maksudnya: "Tidak ada kehidupan didunia melainkan mata benda yg menipu daya"

Tuhan mengingatkan kepada kita kalau kita hidup bukan atas dasar mencari taqwa, atau bukan kerana cintakan Tuhan, maka dunia yang kita hadapi ini akan menipu daya kita, kecuali orang yang hidup atas dasar taqwa.

Orang yang hidup bukan atas takutkan Tuhan, Tuhan mengingatkan kita tidak ada kehidupan di dunia melainkan mata benda yang menipu daya. Orang yang hidup di dunia bukan untuk taqwa rupanya akan ditipu daya oleh dunia. Selepas itu saya akan menghuraikan supaya kita benar-benar faham, apa guna hidup kalau bukan atas dasar Tuhan atau bukan atas dasar taqwa. Mari kita bahas apa maksud tipu daya

Maksud tipu daya : kita buat apa pun, disudut apa pun, di aspek apa pun, kita akan ditipu daya. Kalau orang itu selama ini menyusahkan kita, itu bukan tipu. Contoh: Si Fulan tipu saya, sudah tahu dia menipu saya, buat jahat dengan dia, ertinya saya suka ditipu. Saya sudah tahu sifat dia. Itu namanya kita menyusahkan diri kita. Tapi kalau dia melihatkan dia sayang, dia suka kepada kita selepas itu dia tipu kita. Erti `tipu` kena faham. Dia tunjuk keindahan, sayang kita dan baik dengan kita kemudian dia tipu kita. Itulah tipu. Jadi org yg hidup bukan untuk mencari taqwa kalau sedar, jangka panjang dia ditipu dunia.

Betulkah dunia menipu? Duit, pengaruh, jawatan, dunia mainkan perasaan kita setelah dia gamit-gamit kita waktu itu dia tipu kita. Dunia tipu kita dengan banyak cara :

1. Sebelum kita dapat, dia angan-angankan, maka kita berjuang, korban masa, korban duit, wang ringgit sampai kita letih, tapi tak kita dapatkan. Contoh kita berkorban kerana harapkan harta lain, tapi tak dapat. Ini contoh kecil. Side effectnya : masa terkorban, duit terkorban, tenaga terkorban. Bila banyak yang terkorban, bila sudah letih, side effectnya : hendak marah. Ini penipuan kecil, tapi bergaduh suami isteri sampai cerai berai. Kalau 1000 orang banyak tak dapat, letih, buang masa, marah-marah, lalu gaduh dengan isteri.

2. Bila dapat, datang sombong, datang megah. Side effectnya : orang cemburu orang benci, hasad dengki. Kemuncaknya orang bunuh. Tapi apa yang kita fikirkan? Bila dapat dunia ialah kita fikirkan kita terkenal, glamour, dihormati, tapi bila dapat hingga kita sombong dan megah, maka orang iri hati, hasad dengki, sehingga dunia punya pasal kita dibunuh, paling tidak orang benci.

3. Kita fikir, kalau dapat dunia sedikit, tak terasa. Kita fikir kalau dapat dunia banyak, kita akan bahagia. Tapi setelah dapat banyak, kita tak rasa bahagia. Tak puas, tak rasa bahagia. Itupun boleh tahan lagi. Tuhan boleh datangkan masalah lain : isteri tak taat, anak memberontak. Jadi dia terfikir, apa yang dia dapat telah membuat isteri meragam, anak meragam. Rupanya bila dunia dapat maka datang masalah. Dia akan jadi 2 golongan:
*putus asa
*putus asa dengan tekanan kuat lalu bunuh diri.

Bila mati, waktu hidup dia nak buat syurga dunia, bila mati masuk neraka. Terasa dunia tipu, masuk neraka, terpaksa terima azab neraka yg tak terhingga. Baru terasa dunia tipu dia sedang hidup sekali. Bila mati, terus mati. Berapa kali dunia tipu dia, kemuncak tipuan adalah di neraka.

Sedangkan kalau dia buru dunia di atas tujuan taqwa, kerana Tuhan, kalau dia dapat di dunia dia dapat untung. Kalau tak dapat di dunia, lagi untung. Katalah dia jadi raja dunia dasar Tuhan, dan di atas taqwa. Kalau dapat dunia dia untung, kalau tak dapat dia lagi untung besar. Mengapa untung besar? Hadis ada bagi tahu. Kalau kita dapat sekadar untuk tolong orang, bertanggungjawab dengan manusia. Ertinya dunia mahu kita, kita tipu dunia, kita guna dunia. Tak dapat lagi untung. Tapi kalau seseorang mencari dunia tapi tidak dapat kekayaan bahkan untuk makan pun susah. Apa kata hadis cari makan tapi susah dapat, akan dapat pahala yang besar. Sebab itu Rasul-Rasul hanya 3 orang saja yang dapat kuasa. Sebab yang lain akan diberi pahala besar di akhirat.

Bila seseorang hidup atas dasar taqwa, dia mencari dunia tapi susah, tak dapat, bila atas taqwa, bila dia tak dapat merupakan penghapusan dosa. Kalau teringin beli sesuatu `ada duit, cicir air liur, jadi penghapusan dosa atau peningkatan darjat di akhirat. Jadi bagi orang yang bertaqwa, dapat tak dapat dunia, dia tetap untung. Ada duit tak ada duit, dia untung. Kalau tak dapat dunia, lebih untung.

Orang yang hidup bukan atas jalan taqwa, dapat dunia rugi sahaja kena tipu dengan dunia. Kemuncak tipuan dunia, masuk neraka. Itu kalau dia dapat dunia. Kalau tak dapat dunia dia akan rugi dunia, akhirat pun rugi. Sebab dia buru dunia bukan atas dasar taqwa. Rugi dunia dan akhirat.

Orang yang dunia atas dasar taqwa, kalau dapat dia untung, kalau tak dapat di dunia lagi banyak untung. Kalau dapat kita dapat berbuat baik pada orang. Kalau tak dapat lagi besar untungnya. Tapi kita lebih suka dapat dunia, sedangkan kalau tak dapat, lagi besar untungnya. Sebab itu diantara Rasul hanya tiga orang saja yang dapat kuasa di dunia.

Jadi bila kita berjuang atas dasar taqwa berjaya atau tidak berjaya jangan risau. Kalau berjaya syukur banyak dengan Tuhan kerana dapat berbuat baik. Kalau tak dapat lagi kita bersyukur sebab Tuhan hendak memberi kita lebih besar di akhirat.

Mana lebih mudah, buat kerja Akhirat atau kerja dunia?
Tidak ada manusia yang boleh menafikan bahawa hidup di dunia ini adalah sementara waktu. Di akhir zaman ini paling lama manusia boleh hidup mengikut rekod dunia, 150 tahun. Selepas itu semua orang percayakan mati, selepas mati pergi ke Akhirat. Ramai orang yang percaya, sedikit sangat yang tidak percaya.

Di dalam tulisan saya ini fokus saya ialah untuk umat Islam, bahawa umat Islam memang percaya yang Akhirat itu wujud, tempat tinggal manusia yang kekal abadi. Di sana ada kesenangan dan ada kesusahan seperti di dunia juga ada kesenangan, ada kesusahan, cuma kesenangan dan kesusahan di antara dunia dengan Akhirat tidak sama. Kalau kita hendak membuat bandinganlah walaupun tidak tepat, untuk mudah faham, kalau kesenangan itu macam kita duduk berumah di atas pokok dengan di dalam istana, kalau azabnya pula seperti gigitan semut dengan dimakan oleh singa yang garang.
Sempadan di antara dunia dengan Akhirat ialah alam kubur atau alam barzakh. Di sana di tahan sementara waktu. Di sana juga ada kesusahan dan ada kesenangan macam di dunia juga. Bandingannya seperti border di antara negara dengan negara. Di border atau di sempadan di antara negara dengan negara adakalanya mendapat kesenangan dan adakalanya mendapat kesusahan. Begitulah keadaan di sempadan di antara dunia dengan Akhirat, iaitu alam kubur atau alam barzakh.

Walaupun umat Islam percaya negara Akhirat serta percaya alam barzakh sempadan di antara dunia dan Akhirat dan juga percaya bahawa nikmat dan azab di sana jauh bezanya dengan nikmat dan azab di dunia. Sekiranya Allah Taala rasakan sekarang ini perbandingan itu nescaya manusia ini akan menolak dunia ini secara total dan manusia akan menumpukan seratus peratus untuk tujuan Akhirat.

Namun demikian oleh kerana manusia itu hidup di dunia lebih dahulu iaitu hidup di negara yang dekat dan murah ini, mereka berhadapan dan merasa dengan nikmat dan azabnya lebih dahulu sebelum nikmat dan azab Akhirat, manusia terpesona hidup di sini. Mereka terlalai, mereka teralit, terlupa kehidupan di sana iaitu negara Akhirat.

Oleh yang demikian mereka bersungguh-sungguhlah mengejar nikmat dunia dan mengelakkan azab di dunia ini. Diperahlah otaknya, tenaganya pagi dan petang, siang dan malam, dengan tidak jemu-jemu walau susah tapi boleh dihadapi kesusahan itu. Walau menderita dari berbagai-bagai cabaran yang dihadapi tapi manusia sanggup berhadapan dengannya.
Adakalanya ingin mengejar keuntungan, rugi yang dapat, inginkan kesenangan, susah yang dapat. Kebahagiaan yang dikejar, penderitaan yang datang. Kebaikan yang diburu, kemalangan yang dijumpai. Namun manusia tidak jemu-jemu, tidak rasa kecewa dan tidak putus asa, gunakan tenaga yang ada itu buru lagi dunia. Hingga ruangan untuk Akhirat tidak ada langsung atau tenaga yang sedikit-sedikit tinggal baki itulah untuk Akhirat, itu pun mudah jemu, terasa payah, rasa susah, rasa membeban, terasa terhina, terasa malu membuatnya.
Padahal di dalam pengalaman kita, hendak mengejar Akhirat yang lebih penting dengan dunia yang tidak penting, Akhirat yang istimewa dengan dunia yang murah ini, jauh sangat beza amalan Akhirat. Walau penting, Allah Taala mudahkan, itulah di antara rahmat-Nya agar manusia cenderung ke sana, tapi dunia yang murah, amalannya lebih susah dan payah supaya manusia mengambil enteng dan kecil saja dunia ini. Patutnya demikian.Tapi pada manusia rupanya tidak begitu, manusia lebih terasa susah membuat kerja-kerja Akhirat walaupun senang dibandingkan dengan kerja-kerja dunia yang susah itu. Tapi pada manusia dirasa ringan sahaja dan mudah.

Itulah membuktikan tarikan dunia lebih mempengaruhi umat Islam walaupun kerja-kerja susah dan berat berbanding dengan tarikan Akhirat yang istimewa dan agung itu walaupun kerja-kerjanya mudah dan ringan.

Mari kita datangkan beberapa contoh-contoh menunjukkan kerja-kerja dunia itu susah dan payah, tapi ringan pada manusia kerana tarikannya kuat dan kerja-kerja Akhirat itu mudah dan ringan tapi umat Islam merasakan susah dan payah kerana tarikannya dingin. Saya sebutkan beberapa perkara sebagai perbandingan seperti di bawah ini.
1. Mana lebih berat, sembahyang Subuh dua rakaat sekadar 20 minit membawa 30 minit, dengan kerja 8 jam satu hari? Kerana mencari duit adakalanya kerja buruh, betapa susah, namun ada umat Islam tidak sanggup sembahyang Subuh sekadar 20-30 minit tapi tidak jemu-jemu bekerja satu hari 8 jam kerana mencari duit.
2. Mana lebih berat menolong kawan kerana Allah Taala mungkin sekadar satu dua jam dibandingkan walkaton berjam-jam, kadang-kadang terpaksa naik bukit, menyeberang sungai, menurun lurah kerana nama dan glamour. Susah lagi walkaton tapi mudah sahaja manusia boleh buat. Menolong kawan amat terasa berat.
3. Mana lebih berat di antara hendak memberi maaf kepada orang yang disuruh oleh Allah Taala dengan hendak naik gunung Kinabalu kerana nama dan glamour. Padahal tidak panjat gunung Kinabalu bukan satu kesalahan tapi orang lebih mampu memanjat gunung daripada memberi maaf yang diperintah.
4. Pergi sembahyang berjemaah tidaklah memakan masa yang panjang pun. Tidak pula terlalu jauh kerana perintah Allah Taala dan juga tidak meletihkan. Dibandingkan hendak berkelah-kelah dan membuang-buang masa bergaul bebas di tempat yang jauh mungkin di hutan, di tepi laut, di hulu sungai, yang banyak buang duit, masa dan akan berhadapan dengan keletihan. Namun orang tidak sanggup pergi sembahyang jemaah tapi sanggup pergi berkelah. Adakalanya sampai di rumah bergaduh pula dengan isteri kerana sakit hati dengan suami.
5. Pergi belajar di Amerika kerana hendakkan ijazah agar dapat makan gaji bertahun-tahun lamanya, tinggal ibu bapa, tinggal tanah air, korban wang ringgit, adakalanya mati di sana. Mana lebih susah dengan belajar agama di masjid sekadar satu jam untuk membaiki diri, tidak terkorban masa dan wang ringgit, tidak ada tinggal ibu bapa dan tanah air. Tentulah lebih berhadapan dengan kesusahan belajar di Amerika dibandingkan belajar di masjid sekadar satu jam. Namun ke Amerika boleh, pergi ke masjid tidak mampu pergi.
6. Mana lebih berat hendak berkhidmat dengan ibu ayah sekadar mungkin satu dua jam kemudian ibu bapa bagi makan, pakaian dan lain-lain, dibandingkan hendak melayan dan berkhidmat dengan boyfriend atau girlfriend berjam-jam lamanya, berhari-hari, habis duit diperahnya, orang nampak malu pula. Adakalanya dia tidak jujur pula, di belakang kita ada `pacaran`. Tentu lebih susah berkhidmat dan melayan pacaran daripada ibu dan ayah. Namun orang tidak sanggup berkhidmat dengan ibu ayah tapi lebih sanggup berkhidmat dengan pacaran walaupun susah dan payah.
7. Mana lebih berat hendak menderma kepada kelab-kelab hiburan dan mengarut, paling tidak seribu ringgit, kalau tidak jatuh status, dengan hendak menderma dengan fakir miskin setakat sepuluh dua puluh ringgit. Tentulah lebih berat menderma ke kelab-kelab hiburan dan mengarut itu daripada hendak bersedekah dengan fakir miskin sekadar sepuluh dua puluh ringgit. Namun berat hendak bersedekah, tapi menderma seribu kerana nama, sanggup. Adakalanya isteri tahu, kena maki pula oleh isteri, namun demikian sanggup berhadapan dengan risikonya.
8. Menonton filem yang merosakkan akhlak atau membaca buku novel yang mengarut boleh sampai memakan masa berjam-jam, kadang-kadang bergaduh dengan ibu bapa atau suami dan isteri. Mana lebih terkorban masa atau susah, daripada berzikir atau membaca Al Quran selama 30 minit. Tentulah terkorban masa menonton filem mengarut atau membaca novel mengarut hingga boleh bergaduh daripada berzikir atau membaca Al Quran sekadar 30 minit. Namun orang sanggup menonton filem atau membaca novel daripada berzikir atau membaca Al Quran.
9. Mana lebih susah pergi berjudi atau pergi disko sambil meminum arak, terkorban masa, wang ringgit, bergaduh selepas itu dengan isteri hingga kucar-kacir rumahtangga, daripada sanggup menolong jiran yang susah hanya sekali-sekala yang boleh menimbulkan kasih sayang. Tentulah menolong jiran lebih mudah tapi orang tidak sanggup berbuat, orang lebih sanggup berjudi, dan pergi disko dan minum arak hingga kucar-kacir rumahtangga, hingga bergaduh dan berhutang.
10. Orang-orang yang ramai masuk jel, kena bunuh, kena fitnah, kena tangkap, diberi malu, dihina dan dicaci-maki oleh orang, mana lebih banyak disebabkan mencuri, menipu, membunuh, merogol, berzina, merompak, rasuah, memperjuangkan ideologi, daripada orang-orang yang disebabkan mencari rezeki yang halal dan memperjuangkan Islam. Sudah tentu yang mencari rezeki yang halal dan kerana memperjuangkan Islam terlalu sedikit dibandingkan disebabkan melakukan kejahatan tapi kerana kejahatan atau dunia, sanggup menerima risiko yang berat. Tapi kalau kebaikan dan kebenaran tidak sanggup melakukannya.
Setelah kita menghurai dan membuat perbandingan di antara kerja-kerja Akhirat dengan kerja-kerja dunia, kerja-kerja dunia lebih-lebih lagi yang bersifat mungkar dan maksiat lebih susah dan lebih berat risiko yang diterima darpada kerja-kerja halal dan kerja-kerja Akhirat namun demikian orang tidak sanggup membuat kerja-kerja Akhirat walaupun mudah dibandingkan membuat kerja-kerja dunia walaupun susah dan payah.
Di sinilah menunjukkan umat Islam hatinya lebih cenderung dengan dunia daripada Akhirat walaupun dunia itu murah dan sementara waktu dibandingkan dengan Akhirat yang istimewa dan kekal abadi. Tepat sekali kata pepatah Melayu, cinta itu buta. Cinta kepada apa pun jadi buta, yang lain tidak nampak lagi, yang lain walau cantik dan istimewa tidak ada perhatian lagi. Macam orang sudah jatuh cinta pada seorang perempuan atau seorang lelaki, lupa yang lain, lupa ibu bapa, lupa adik beradik, lupa makan minum, cuai bekerja, lupa bekerja dan lain-lain lagi. Dan kerana cintanya itu sanggup bersusah payah dan sanggup menerima risiko yang berat.

Begitulah orang yang sudah cinta dan jatuh hati dengan dunia, lupa Akhirat, sanggup susah payah dengan dunia, sanggup menerima risiko yang berat sekalipun mati kerananya. Untuk Akhirat walaupun istimewa, mudah pula, senang membuatnya, namun berat rasa hendak membuatnya kerana tidak cinta.Setelah kita mengkaji bahawa kerja-kerja dunia lebih susah dan merbahaya, lebih teruk dan risikonya tinggi dari kerja Akhirat, apakah hujah dan alasan kita nanti di hadapan Tuhan di Akhirat kelak. Tidak ada hujah dan alasan yang sebenarnya. Maka ramailah manusia yang masuk Neraka dari masuk ke Syurga.
SEKIAN

Akibat Terlampau Menuntut Hak

Manusia mempunyai berbagai-bagai hak. Hak-hak yang asas termasuklah hak ke atas agamanya, diri dan jiwanya, akalnya, keluarga dan keturunannya, kehormatannya dan hartanya. Di samping itu manusia juga mempunyai hak ke atas manusia yang lain. Namun begitu, disebabkan oleh hati yang tidak terdidik dengan didikan Islam dan juga disebabkan kurang faham tentang konsep hak ini sepertimana yang dikehendaki oleh Islam, maka manusia telah banyak tersilap dan menyimpang dari jalan yang sebenar.


Keadaan bertambah buruk apabila kefahaman tentang pemberian dan tuntutan hak yang diamalkan oleh masyarakat sekular dan yang terdapat di dalam adat resam bangsa terbawabawa ke dalam kehidupan masyarakat Islam.Hak itu telah dianggap sebagai mutlak. Kalau tidak diberi,ia dianggap satu penganiayaan yang besar. Satu kezaliman kubro. Ia boleh dijadikan kes mahkamah. Boleh pula samanmenyaman.Kalau menang kes, boleh tuntut ganti rugi sampai jutaan ringgit. Ganti rugi yang dituntut itu pula tidak ada kena-mengena dengan hak asal yang dituntut. Macam-macam jenis ganti rugi dituntut. Ganti rugi malulah. Ganti rugi koslah.Ganti rugi tekanan jiwa dan hilang ketenteraman dan berbagai lagi bentuk ganti rugi yang direka-reka. Akhirnya usaha untuk menuntut keadilan bertukar menjadi satu kezaliman. Para peguamlah yang mengaut untung di atas putar belit ini.Lahirlah dalam masyarakat sindrom saman-menyaman.

Manusia sudah jadi macam tebuan. Silap sedikit, menyengat.Silap sedikit, saman! Hilang sifat redha-meredhai, maaf-bermaafan dan halal-menghalalkan. Ukhwah pecah dan kasih sayang hancur. Di dalam Islam, walaupun seseorang itu mempunyai hak ke atas orang lain, hak ini berlandaskan kepada kemampuan. Tidak wajib atas seseorang untuk melaksanakan hak orang lain ke atas dirinya dalam keadaan dia tidak mampu.

Allah pun melepaskannya dari tanggungjawab tersebut dan dia tidak jatuh berdosa kalau tidak mampu melaksanakannya.Di dalam keadaan begitu, digalakkan pula di dalam Islam agar umatnya redha-meredhai, bertolak ansur, halal-menghalalkan dan maaf-memaafkan. Ganjarannya tetap ada di sisi Tuhan. Dengan ini maka tidaklah wujud tekan-menekan, desak-mendesak dan tuntut-menuntut yang sangat merosakkan hubungan dan kasih sayang sesama Islam.

Pernah berlaku di dalam sejarah, sepasang suami isteri yang telah lama bernikah. Si suami masih belum dapat menjelaskan mas kahwin yang dia terhutang kepada isterinya kerana terlalu miskin. Setelah lama tinggal bersama dan setelah mendapat beberapa orang anak, si isteri yang tidak sabar sering menuntut mas kahwinnya dari si suami. Malangnya, si suami yang miskin itu tidak dapat juga menjelaskan hutang mas kahwinnya itu. Suatu hari si isteri hilang sabar dan mengadu kepada Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW melihat memang nyata suaminya terlalu miskin dan tidak mampu membayarnya. Lalu Baginda mencadangkan adalah lebih baik si isteri menghalalkan sahaja mas kahwin tersebut. Si isteri tetap berkeras, dia tidak bersetuju dan tidak rela. Dia masih berkeras menuntut haknya dan mahukan mas kahwin itu dari suaminya. Memandangkan hal itu, Rasulullah sendiri membayarkan mas kahwin tersebut bagi pihak suaminya. Tetapi sambil Rasulullah SAW membayar mas kahwin itu, baginda bersabda, Moga-moga tidak ada berkatnya mas kahwin ini. Rupa-rupanya Allah SWT mendengar sabda Rasulullah itu. Kata-kata kekasih Tuhan, kata-kata seorang Sohibul Azman. Akibat membangkang nasihat Rasulullah,akhirnya isteri itu mati di dalam keadaan kufur tidak beriman.

Akibat Tidak Bertaqwa

Semua orang menganggap bahkan yakin bahawa dunia ini dan manusia ini tidak akan selamat kalau duit tidak cukup,atau ilmu tidak tinggi,atau jawatan tidak ada dan tidak tinggi atau pembangunan dan kemodenan tidak tercapai.Tegasnya kalau tidak tiru apa orang Barat buat,tidak jadi macam Barat,kita tidak akan selamat.Maka berlumba-lumbalah kita mengejar Barat.Seluruh jentera kemodenan dan pembangunan dikerahkan ke arah tujuan tadi.Semua jadi yakin,kalau kita jadi Barat akan bahagialah hidup,akan senanglah hidup.

Hingga hari ini sedikit sebanyak kita telah membangun seperti yang kita kehendaki.Negara kita sudah agak maju.Ekonomi pun seakan-akan sudah pulih, walaupun masih banyak gerai-gerai Melayu di tepi-tepi jalan menempah sejarah pendek umur, walaupun ikan-ikan tangkapan Melayu banyak yang masih menjadi sumber kekayaan kapitalis yang terus menerus menghisap darah para nelayan. Dari segi ilmu pun, boleh dibanggakan memandangkan para lulusan universiti yang kian bertambah dan orang berdegri bertambah ramai.Namun ilmu-ilmuan tadi tetap tidak boleh hidup kalau tidak diberi gaji. Yang tidak diberi kerja jadi bebanan pula pada negara. Mereka tetap tidak berdikari untuk membina pembangunan dan perindustrian sendiri. Di samping itu akhlak lulusan tinggi tetap tidak jauh beza dengan akhlak yang ada lulusan rendah. Mungkin juga sama bahkan ada yang lebih teruk lagi. Soalnya hingga di tahap ini, adakah kita sudah mendapat masyarakat bahagia yang hidup penuh aman damai?

Memandang pada masalah sosial yang bertimpa-timpa dan kian kronik dengan masalah tidak habis-habis, tentu kita belum boleh mengatakan masyarakat kita sudah bahagia. Memang mungkin ada individu-individu atau keluarga-keluarga yang merasainya, tetapi ini bukan majoriti. Ini tidak boleh mencorakkan masyarakat.

Secara umum penguasa-penguasa atau orang-orang yang ada kuasa tidak bahagia disebabkan oleh penyakit gila kuasa.Orang kaya tidak bahagia kerana sering rindu pada harta.Ulama-ulama tidak bahagia kerana takut periuk nasi terancam.Ibu bapa hilang bahagia kerana anak-anak derhaka. Guru tidak bahagia dengan perangai anak muridnya. Pemudi-pemudi tidak bahagia kerana takut diganggu dan takut jadi andartu.Pemuda hilang bahagia kerana susah hendak kahwin. Dan macam-macam lagi penyakit yang sedang meragut kebahagiaan hidup dalam masyarakat kita.

Dalam keadaan ini apakah peranan pembangunan, kemodenan, ekonomi, jawatan dan ilmu tinggi tadi? Mampukah ia menyelesaikan masalah ini? Lihat di Barat! Kemodenan hidup menghantar manusia ke kancah kehidupan yang bergelora.

Sebagai contoh, sudah ramai orang Barat yang hidup berdua dengan anjing atau bertemankan kucing atau itik atau ayam. Kebahagiaan dengan sesama manusia sudah tiada. Apa erti dengan segala pembangunan tadi?

Kebahagiaan sebenarnya bukan terletak pada mata, tangan, kaki atau benda-benda lahiriah. Rasa bahagia itu tempatnya di hati manusia. Kalau hati senang, dalam miskin pun boleh rasa bahagia. Sebaliknya kalau hati rosak binasa maka ilmu setinggi mana pun, kaya-raya macam mana pun dan sebesar mana pun pangkat tetap tidak akan bahagia hidupnya. Itu bukti yang cukup jelas yang memang jadi pengalaman semua orang. Kerana itu untuk mencapai kebahagiaan hidup seseorang individu mahupun seluruh masyarakat amnya, apa yang mesti diutamakan ialah mendidik individu-individu manusia dengan iman dan taqwa. Bukan dengan duit, pangkat, ilmu tinggi, kemewahan dan kemodenan.

Iman dan taqwa boleh membuatkan orang miskin terhibur dengan kerniskinan. Iman dan taqwa boleh membuatkan orang kaya pemurah dengan hartanya, terhibur kalau dapat menderma. Iman dan taqwa boleh membuatkan penguasa rendah hati dengan rakyatnya serta terhibur kalau dapat berkhidmat pada rakyat. Iman dan taqwa boleh membuatkan anak-anak terhibur untuk mentaati ibu bapa, isteri suka dan terhibur untuk taat pada suami, pengikut terhibur untuk mentaati pemimpin, anak-anak murid terhibur dan hormat serta kasih pada guru, si gadis jadi malu serta terhibur tinggal di rumah dan pemuda jadi sungguh-sungguh bertanggungjawab. Bila manusia hidup dalam keadaan itu, barulah duit yang banyak membawa bahagia. Barulah pangkat tinggi berguna dan segala kemodenan dan pembangunan akan menjadi sumber keselesaan hidup yang bermakna.

Hari ini semua itu belum berlaku. Kerana hanya memikirkan negara maju, maka yang terus maju ialah negaranya, bukan orangnya. Yang membangun ialah negara bukan orangnya. Masyarakat manusia dibiarkan bermain dengan nafsu, tidak dihiasi dengan iman dan taqwa. Nafsulah yang mengatur kehidupan. Sebab itu masyarakat jadi huru-hara.

Saya suka menyenaraikan nafsu yang bersarang dan menjadi `Tuhan` dalam diri manusia itu.
1. Ulama tanpa taqwa
Bila taqwa tidak ada, maka para ulama akan dikuasai nafsu-nafsu:
a. Sombong atau ego
b. Ujub dan riyak
c. Hasad dengki
d. Susah untuk menerima kebenaran orang lain
e. Ingin berlawan terutama sesama ulama
f. Gunakan ilmu sebagai alat untuk kepentingan dunia, pangkat dan wang ringgit
g. Pemarah
h. Ingin dihormati (gila puji)
i. Kalau mampu, akan hidup bermewah-mewah

Kalau hati tidak bertaqwa, maka mustahil kita temui mufti-mufti, tuan-tuan kadhi, ustaz-ustaz, tuan-tuan imam yang merendah diri, yang merasai dirinya kurang, menyayangi orang lain sebagaimana mengasihi diri sendiri, bersedia untuk ditegur walaupun oleh kanak-kanak, tidak suka menunjuk-nunjuk pandai dan hebat, menggunakan ilmu untuk kepentingan Allah dan kehidupan di Akhirat, mudah melupakan dan memaafkan kesilapan orang lain, tidak suka dihormati dan dipuji kerana yang layak dipuji hanyalah Allah, serta bersifat zuhud dan warak.

Bila tidak ada ulama sebegini, maka umat seolah-olah ketiadaan lampu. Tinggallah umat dalam gelap-gelita, tidak tahu halal haram, tidak kenal Quran dan Hadis, tidak kenal Allah dan alam Akhirat, tidak faham apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, juga yang baik dan yang tidak baik. Maka hidup mereka tidak menentu. Kadang-kadang ke Barat, kadang-kadang ke Timur, terlanggar ke sana, terlanggar ke sini, terjunam ke lembah-lembah, tersungkur di jalan-jalan dan macam-macam kacau-bilau lagi. Jarang dan mungkin tidak ada langsung yang selamat.

Maka terjadilah apa yang terjadi hari ini. Umat Islam tidak bertaqwa dan tidak ikut Islam sepenuhnya, kadang-kadang jadi macam Yahudi, macam Kristian, macam hippies dan macam-macam lagi. Budaya dan tamadun Islam tidak ada dan tidak dapat dibangunkan dan diperjuangkan. Yang ada ialah budaya campur-aduk dan kacau-bilau.

2. Bila pemimpin tidak bertaqwa
Akibat ulama tidak bertaqwa maka mereka tidak dapat mendidik pemimpin atau penguasa agar menjadi pemimpin yang bertaqwa. Bila pemimpin tidak bertaqwa, maka hatinya akan dikerumuni oleh nafsu-nafsu jahat. Antaranya ego, sombong, takabur, riyak, ujub, menzalimi (diskriminasi), pilih kasih, gila kuasa, tidak adil, berburuk sangka, berhasad dengki terutama sesama pemimpin, menggunakan kuasa dan kedudukan untuk kepentingan dunia semata-mata, menghukum sesuka hati, takut dengan rakyat sendiri, bersifat pemarah dan bermewah-mewah.

Kalau penguasa tidak bertaqwa, sukar sekali untuk kita cari seorang menteri atau wakil rakyat atau presiden yang suka merendah diri dan merasakan dirinya setaraf dengan orang lain, tidak berbangga dengan kuasa, tidak rasa dirinya istimewa, berlaku adil dan lemah lembut, berbaik sangka, berkasih sayang sesama pemimpin, menggunakan kuasa untuk kepentingan Islam dan kehidupan di Akhirat, berhati-hati ketika menghukum, suka memaafkan dan hidup ala kadar, iaitu sekadar keperluan.

Bila hati pemimpin dan sikapnya telah rosak, kotor dan jahat sekali, maka tentu pimpinannya berjalan dengan bentuk dan arah yang sama, sama ada mereka sedar atau tidak, mahu atau tidak mahu. Memimpin bukan untuk menyelamatkan umat tapi kerana mempertahankan kuasa. Buat kebaikan bukan secara rela tapi terpaksa, sebab takut dihukum dan dikata nista oleh rakyat. Berlaku zalim, kejam, bermewah-mewah, berfoya-foya dengan maksiat dan mungkar. Kalau ada pun pemimpin yang baik, yakni tidaklah berbuat semua itu, tapi kalau bukan atas dasar taqwa, nescaya dia akan mencari kepentingan diri dan tidak tahan diuji. Dan ini akan membawa kepada 1001 masalah kepada dirinya dan rakyatnya. Sebagai contoh, lihatlah apa yang berlaku di hadapan mata kita hari ini. Pemimpin yang tidak bertaqwa telah menjadikan rakyat berpecah-pecah, bergaduh, bersengit hati sesama sendiri. Bahkan di kalangan mereka pun sama, berdendam dan berdengki.

Apa alasan dan penyelesaian pada semua itu? Sebab ekonomi kurang, sebab kebodohan rakyat, sebab kemajuan tidak seberapa? Sebab ilmu tidak ada? Sebenarnya semua itu disebabkan manusia-manusia tidak bertaqwa. Yang mana kalaulah masyarakat kita bertaqwa, nescaya Allah lepaskan kita dari sebarang kesulitan dan masalah, dan menjadikan negara kita negara yang aman, makmur dan mendapat keampunan Allah SWT.

3. Kalau orang kaya tidak bertaqwa
Kalau orang kaya tidak bertaqwa, maka jadilah hatinya penuh dengan sombong, ego, suka membazir, riyak yakni suka menunjuk-nunjuk. Menyalahgunakan harta seperti untuk mengumpan perempuan cantik, rasuah, suka berlumba-lumba terutama dengan sesama golongan kaya, dalam pesta itu masingmasing saling mengata.

Lihatlah hari ini, mereka berbangga dengan rumah besar, dengan perabot dan barang kemas yang mahal lagi mewah.Mereka bercuti ke sana bercuti ke sini. Beli barang bukan buatan tempatan tetapi diimport dari London atau Itali. Duit orang kaya lebih banyak dari duit negara. Walhal mereka tahu bahawa masyarakat mereka miskin. Tabung perjuangan Islam sentiasa kosong malah terhutang-hutang, negara tidak cukup duit untuk membiayai rakyat disebabkan orang kayanya berhati kejam dan sangat membazir.

Dalam keadaan seperti ini, sampai bila pun manusia tetap akan berada di dalam keadaan tidak puas hati. Kecualilah orang-orang kaya sanggup menjadi bank Akhirat, yang memberi pinjaman tanpa riba dan tidak minta dibayar di dunia.Sebab mereka faham bahawa kekayaan itu adalah pinjaman Allah, sekaligus sebagai ujian untuk melihat siapa yang sedar diri tentang asal-usulnya.

4. Orang miskin tanpa taqwa
Orang miskin kalau tidak bertaqwa maka tidaklah selamat hatinya dari sifat-sifat yang buruk seperti tidak sabar dengan kemiskinan hingga sanggup mencuri, menyamun, menipu dan membunuh. Mereka sangat hasad dengki dan sakit hati dengan orang yang berada. Keinginan untuk kaya sangatlah tebal hingga bila tidak kaya-kaya juga, mereka jadi putus asa dengan Allah. Hal-hal yang demikian itu menyebabkan berbagai jenayah berlaku dalam masyarakat. Rompak, samun, ragut, seluk saku dan lain-lain bentuk kecurian telah menjadi pekerjaan tetap sehinggalah bagi sesetengah mereka telah mendatangkan pendapatan yang lumayan. Hingga kerana itu, ramai manusia yang ketakutan kalau-kalau rumahnya dimasuki pencuri. Padahal tidak sepatutnya perkara-perkara ini berlaku dalam masyarakat umat Islam. Kerana orang mukmin yang bertaqwa, kalau dia miskin, dia redha dengan takdir. Dia tidak terseksa dengan kemiskinan di dunia demi mengharapkan kekayaan yang Allah janjikan di Akhirat.

5. Kaum ibu atau wanita kalau tanpa taqwa
Kaum ibu atau wanita kalau tidak bertaqwa maka kerja mereka ialah mengumpat, bersolek untuk menunjuk-nunjuk pada orang lelaki, gila dunia yakni gilakan perabot, hiasan gelang,pakaian, hingga lupa pada Allah dan lupa Akhirat. Seorang isteri yang tidak bertaqwa tidak akan dapat melayan dan mentaati suami dengan baik disebabkan tidak ada pada mereka sifat merendah diri pada suami dan sifat memandang mulia pada suami. Mereka bebas untuk keluar masuk dan menyusun program sendiri, tanpa memikirkan sangat apa kata suami.

Bila kaum ibu berada dalam keadaan ini maka rumahtangga bukan lagi gelanggang cinta dan kasih sayang, di mana suami terasa berada dalam sebuah mahligai yang penuh kebahagiaan di samping anak-anak yang terdidik dengan kasih sayang dan akhlak mulia dan ilmu yang berguna. Oleh kerana semua manusia ini inginkan kasih sayang dan kebahagiaan, maka jika rumah tidak dapat menyediakan itu, tentu mereka cari di luar. Lalu jadilah apa yang telah dan sedang terjadi. Iaitu disko atau kelab malam, dan tempat manusia mencari kasih dan kebahagiaan secara keji itu sering penuh, bahkan merupakan satu perniagaan yang sangat menguntungkan.

Ada yang menagih kasih dan bahagia dari dadah, dari arak dan dari segala hiburan-hiburan yang kotor-kotor. Mereka menyangka itu semualah kebahagiaan hidup, tidak ada yang lain lagi. Walaupun mereka sedar bahawa melakukan semua itu bererti kehinaan dan kebinasaan hidup.
Sabda Rasulullah SAW:
Maksudnya: "Dunia ini ialah perhiasan. Dan perhiasan yang paling cantik ialah wanita solehah." (Riwayat Muslim)

Semua orang tertarik pada perhiasan. Apalagi kalau alat perhiasan itu adalah sesuatu yang sangat cantik. Jadi, kalau dalam sebuah rumah itu ada wanita solehah, maka ahli-ahli rumah itu akan tertarik untuk sentiasa berada di rumah. Rumah adalah hiburan dan ketenangan hati mereka.

6. Pemuda dan pemudi tanpa taqwa
Kalau pemuda atau pemudi tidak bertaqwa, maka jadilah mereka manusia yang suka berfoya-foya, bercinta-cintaan dan berlagak ke hulu ke hilir dan menunjuk-nunjukkan diri. Bahkan menjadi kutu jalan. Kalau ada kesempatan mereka akan mengorat tanpa malu bahkan sudah menjadi permainan yang lumrah. Rasa iri hati, cemburu dan hasad dengki sesama sendiri bersarang penuh dalam hati mereka. Dan ini semua dapat kita saksikan dalam lakonan hidup mereka. Mereka sering berangan-angan, khayal dan lalai dari tugas-tugas yang sepatutnya . Kes-kes zina di kalangan muda-mudi yang turut melibatkan pelajar-pelajar sekolah sudah jadi perkara biasa dan seakan-akan mahu dibiarkan berterusan oleh kita.

Mana ada sekolah yang muda-mudinya sedang memperjuangkan agama, bangsa, negara dan tamadun umat supaya kita jadi gagah dan mulia di mata dunia. Tidak ada. Sebagai gantinya mereka itu sedang membina budaya lucah, gila harta, gila wanita, gila pangkat dan saling berebutan hingga membuatkan tamadun dan nilai kita jadi lemah dan lembab sekali.

Mereka tidak kerja kalau tidak makan gaji. Masa kosong dibuang ke padang bola, bukan memikirkan projek pertanian, perindustrian dan lain-lain yang sungguh penting untuk kekuatan umat. Berapa kerat dari muda-mudi Islam yang dapat tunaikan sepenuhnya tuntutan sembahyang lima kali sehari itu? Maka sebanyak itu sajalah dari mereka yang boleh di letakkan harapan, selebihnya adalah pengganggu, pengacau dan penghalang perjuangan kebenaran.

Muda-mudi yang bertaqwa ialah orang-orang yang serius terhadap tanggungjawab pada agama, bangsa dan negara. Mereka menyediakan tenaga, masa, fikiran dan semangat untuk tugas khalifah Allah di dunia. Mereka sanggup meninggalkan budaya liar berfoya-foya dan berlagak-lagak serta bergaya tidak menentu. Begitulah jauh bezanya antara umat yang bertaqwa dan tidak bertaqwa. Kalaulah kita dapat capai maqam ini, insyaAllah akan jadilah kita bangsa dan negara yang aman makrnur, seperti yang kita laung-laungkan dan idam-idamkan, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT:
Maksudnya: "Negara yang aman makmur dan mendapat keampunan Allah. " (Saba: 15)

Sumber: http://kawansejati.ee.itb.ac.id








Tazkiyatun Nafs

APAKAH DUNIA ITU..?
Jawabnya bisa macam-macam. Tapi sebagaimana jika merupakan soal pilihan ganda, jawaban yang benar pasti cuma satu. Apakah itu ? Marilah kita lihat sekeliling kita. Inilah dunia kita. Kita keluar dari rahim ibu kita, tumbuh besar, masuk sekolah, lulus, bekerja, menumpuk harta, membangun rumah dan memperindahnya, menikah, punya anak, dan anak kita pun kita didik agar jadi seperti kita atau lebih sukses daripada kita. Apakah hanya seperti itu dunia ini ?

Tentu Tidak !!!. Setiap sesuatu pasti ada kesudahannya. Begitu pula hidup kita di dunia ini. Kita sekolah, kuliah, bekerja, menumpuk harta, toh kita nanti juga akan mati. Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman, yang artinya: "Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian”. (QS: Ali 'Imraan: 185).

Dan ketika sudah mati, harta dan anak yang kita punyai tak bisa menyertai diri lagi. Mati itu kesudahan hidup. Tapi masalahnya, mati itu bukan kesudahan segala-galanya. Masih ada lagi masalah sesudah mati, yaitu hari kebangkitan, perhitungan amal, dan penentuan akhir nasib kita. Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman, yang artinya: "Kemudian Dia (Allah) mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian jika Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali”.(QS: 'Abasa : 21-22).

Dan Alloh subhanahu wa ta'ala juga berfirman, yang artinya: " Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam , supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka." (QS:Az-Zalzalah : 6).


Satu masalah lagi, amal yang akan dihitung dan ditimbang dan menentukan akhir nasib kita itu hanya bisa kita lakukan pada saat kita masih bisa menghembus nafas. Jika sudah tak bisa menghirup udara lagi, tak bisa pula kita mempersiapkan diri untuk hari itu.


Perkataan Ali bin Abi Thalib, " Sesungguhnya pada hari ini hanya ada amal tanpa perhitungan, dan besok (pada hari kiamat) hanya ada perhitungan tanpa amal."


Jadi, apakah dunia itu? Dunia adalah tempat persinggahan yang sementara saja, tidak kekal untuk selamanya. Yunus bin Abi Ubaid menjelaskan permisalan dunia, " Kehidupan dunia hanya bisa disamakan dengan orang yang tidur, dalam mimpinya melihat hal-hal yang ia senangi sekaligus yang ia benci, tapi ketika sedang menikmatinya, tiba-tiba ia terjaga. " Suka-duka hidup ini semisal mimpi-mimpi itu. Sedangkan terjaga dari mimpi adalah misal dari kematian.


Rasululloh shallallaahu 'alaihi wa sallam memaparkan tentang dunia dan diri beliau, "Apalah aku dan dunia ini !, Sesungguhnya permisalan aku dengan dunia adalah seperti seorang pengendara yang tidur di bayangan sebuah pohon. Kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut." (HR: Ahmad, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah).

Umar bin Abdul-'Aziz berkata, " Dunia itu sesungguhnya bukan tempat yang kekal untuk kita. Allah sendiri telah menakdirkannya fana, dan kepada para penghuninya telah digariskannya hanya melewatinya saja."

Wahai saudaraku, dunia memang aset bagi umat manusia. Di dalamnya terkandung sebuah kekayaan, yakni bumi beserta segala isinya. Bumi sebagai tempat tinggal manusia, menyediakan kebutuhan sandang, pangan, minum dan tempat melangsungkan pernikahan. Semua itu, kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk perjalanan kendaraan yang akan membawa badan anda menuju Allah. Sebab manusia hanya bisa bertahan dengan itu semua, sebagaimana onta yang digunakan sebagai kendaraan haji hanya bisa bertahan dengan memenuhi kebutuhannya. Ada di antara orang yang mengambil dari jatah kebutuhannya itu sebagaimana yang dianjurkan saja, dialah orang yang terpuji. Sementara ada pula orang yang mengambil dari jatah itu lebih dari kebutuhannya karena sifat rakusnya, orang yang demikian adalah tercela.

Dengan begitu, dia mengabaikan tujuan yang sebenarnya, dia tak lebih sebagai orang yang memberi makan onta, mengambilkan air minumnya dan menggantikan warna kelengkapan onta tersebut. Dia tak sadar bahwa rombongan telah berlalu, ditinggalkan seorang diri di gurun sebagai mangsa binatang buas bersama onta piaraannya.

Begitu pula dengan terlalu menahan diri untuk memenuhi kebutuhan, juga tidak beralasan. Sebab onta tidak kan kuat berjalan, kecuali keperluannya terpenuhi. Jalan yang tepat adalah mengambil jalan tengah, yakni mengambil bekal dari kehidupan dunia sekedar yang dibutuhkan untuk perjalanan saja.

Ketika Abu Shafwan Ar-Ru'ainy ditanya, " Apakah dunia yang Allah cela dalam Al-Qur'an, dan yang harus dijauhi oleh orang yang berakal?" Dia menjawab, " Segala yang Anda senangi di dunia, yang dengannya Anda tidak menghendaki kehidupan di akhirat, itulah yang tercela. Dan segala kenikmatan dunia yang Anda senangi, yang dengannya Anda menghendaki kehidupan akhirat, maka yang demikian itu tidak termasuk kehidupan dunia."


Perjalanan. Begitulah dunia itu hakikatnya. Dan setiap perjalanan ada tempat tujuannya. Dan untuk menuju kepada tujuan itulah kita seharusnya menyiapkan bekal kita.

Di dalam khutbahnya, Umar Ibnul-Khaththab menyatakan, " Setiap perjalanan mesti ada bekalnya, maka bekalilah perjalanan Anda dari dunia ke akhirat dengan takwa. Jadilah seperti orang yang melihat dengan mata kepalanya adzab yang Allah persiapkan baginya untuk kemudian disadari dan tumbuh perasaan takut. Janganlah Anda terlalu lama membiarkan waktu berlalu sehingga hati Anda terlalu mengeras."

Dalam khutbahnya, Umar bin Abdul-Aziz berkata,"... Berapa banyak orang yang membangun dengan kokoh setelah berselang beberapa waktu roboh, dan berapa banyak orang yang hatinya telah tercuri, ingin hidup menetap akhirnya harus meninggalkannya. Maka usahakanlah perjalanan dari dunia itu sebaik-baiknya dengan bekal terbbaik yang Anda miliki. Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bila dunia memang bukan tempat menetap bagi orang mukmin, maka dia harus menempatkan dirinya pada salah satu dari sikap-sikap berikut. Harus bersikap seakan-akan orang asing yang menetap di sebuah negeri asing yang tujuannya semata-mata mengumpulkan bekal untuk pulangke tanah airnya, atau bersikap seakan-akan seorang pengembara yang sama sekali tidak menetap tapi sepanjang hari dia terus berjalan menuju sebuah negeri tempatnya menetap kelak."

Al-Hasan menjelaskan sifat-sifat dunia, " Alangkah nikmatnya kehidupan alam dunia bagi orang-orang mukmin. Karena mereka senantiasa berbuat dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan surga. Dan sungguh keji dunia bagi orang kafir dan munafik, karena mereka membiarkan waktu malamnya berlalu, sementara bekalnya akan membawanya ke neraka."

Karena mereka senantiasa berbuat dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan surga. Dan sungguh keji dunia bagi orang kafir dan munafik, karena mereka membiarkan waktu malamnya berlalu, sementara bekalnya akan membawanya ke neraka."


Marilah lihat diri sendiri, sudah punya bekalkah kita semua ?, atau kita baru saja sadar bahwa kita ini ternyata hanyalah seorang pengembara yang harus kembali ke tanah airnya dan ternyata kita belum punya bekal secuilpun ! Wahai saudara, harta, istri, dan anak kita bukanlah bekal yang bisa kita bawa jika sudah tiba waktunya, tapi takwa itulah yang bisa menyertai kita.

Hasan bin 'Ali bercerita bahwa Fudhail bin Iyadl bertanya kepada seorang lelaki, "Berapa umurmu ?"

" Enam puluh tahun," jawab lelaki itu.

Lalu Fudhail berkata, "Sesungguhnya engkau telah enam puluh tahun menuju Tuhanmu, dan kini kau hampir sampai."

Lelaki itu berkata, "Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun ( Sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepadaNya lah kita akan kembali )."

"Tahukah engkau bagaimana tafsirnya ?" tanya Fudhail.

"Tafsirkanlah kepada kami, wahai Abu 'Ali ( panggilan Fudhail) !" pinta si lelaki.

"Jika engakau mengatakan 'inna lillaahi' berarti engkau telah mengikrarkan bahwa engkau adalah hamba Alloh subhanahu wa ta'ala, dan kepada Allohlah engaku akan kembali. Dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia adalah hamba Alloh subhanahu wa ta'ala dan kepada Alloh subhanahu wa ta'ala dia akan kembali, maka ketahuilah bahwa ia akan mati. Dan barangsiapa yang mengetahui ia akan mati, maka ketahuilah ia akan ditanya. Dan barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan ditanya, maka bersiap-siaplah untuk menjawabnya."

"Lalu bagaimana cara kami mempersiapkannya ?" tanya lelaki itu lagi.

" Penuhilah !" jawab Fudhail.

" Apa yang harus kupenuhi ? " tanyanya.

Fudhail menjawab, "Perbaikilah amalan-amalanmu yang akan datang, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu di masa lalu dan yang akan datang. Dan jika engkau memperjelek amalan-amalanmu yang akan datang, niscaya Alloh kan menyiksamu lantaran dosa-dosamu yang telah kamu perbuat di masa lalu dan yang akan datang. "


Takwa yang merupakan bekal perjalanan ini adalah berujud sebagai amalan -amalan sholih. Maka marilah ingati hal ini. Beramallah dengan bagus, dengan niat yang ikhlas dan sesuai syari'at.

Seperti seorang pengembara yang akan pulang menuju negerinya, ia harus mengetahui kiat-kiat dan cara-cara mempersiapkan bekal yang tepat agar bekal yang ia bawa dapat memberi manfaat bagi dirinya. Jangan sampai bekal yang ia bawa mengundang perampok - perampok yang akan menghabisi dirinya. Jangan pula bekal yang ia bawa dapat diendus binatang buas yang akan menggerogoti bekalnya. Maka untuk menghindari hal itu, sang pengembara harus tahu bagaimana mempersiapkan bekal yang tepat. Ia harus tahu ilmunya dulu.


Semisal itulah kita, agar amalan - amalan yang kita lakukan benar-benar dapat memberi manfaat bagi diri kita, kita harus tahu kiat-kiat dan cara-cara beramal sholih yang tepat. Jangan sampai kita melakukan amal sholih tapi tidak diniatkan kepada Allah. Jangan pula kita sudah berpayah - payah beramal sholih tapi ternyata tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallallahu 'alihi wa sallam sehhingga amalan kita tidak diterima.

Lalu bagaimana untuk tahu cara-cara dan kiat-kiat beramal tersebut ? Reguklah ilmu -ilmu agama, bertamasyalah ke majelis -majelis pengajian, bercengkeramalah dengan ahli -ahli ilmu agama, niscaya kita akan tahu bekal bagaimanakah yang harus kita punyai untuk kembali ke haribaan Ilahi nanti.

Jadi ? Inilah dunia kita. Yang sebenarnya hanyalah tempat persinggahan sementara saja. Walaupun begitu, kita diperbolehkan mengambil perbendaharaan dunia secukupnya saja dan hanya yang halal saja. Namun, ingatlah, setelah itu kita akan kembali pada Yang Maha Pencipta dan kita akan ditanyai, amal akan dihitung, nasib akan ditentukan, ke neraka ataukah ke surga ?. Supaya kita sukses dalam perjalanan ini, maka bekal terbaik adalah takwa di mana ia adalah amalan - amalan sholih. Dan agar bekal amal sholih tersebut terhindar dari perampok syirik dan serigala bid'ah, maka kita harus tahu cara-cara mempersiapkannya. Sedangkan cara-cara tersebut hanya bisa diketahui lewat regukan-regukan ilmu agama di majelis-majelis taklim.

Sumber : Media Muslim
BERDEKAT-DEKATLAH DENGAN AL-QUR'AN
Oleh : Muhammad Nuh
Sumber : Dakwatuna


Orang yang dalam dadanya tidak ada sedikit pun dari Alquran, ibarat rumah yang bobrok.” (HR. At-Tirmidzi)

Maha Bijaksana Allah swt. yang menciptakan kehidupan dengan segala kelengkapannya. Laut yang luas dengan segala kandungannya. Langit yang biru dengan gemerlap hiasan bintang-bintangnya. Dan kehidupan manusia dengan kelengkapan aturan dan rambu-rambunya.

Berdekat-dekatlah dengan Al-Quran, hati akan memperoleh kesegaran. Hati sebenarnya mirip dengan tanaman. Ia bisa segar, layu, dan kering. Karena itu, hati butuh sesuatu yang bisa menyuburkan: siraman air yang menyejukkan, kehangatan matahari yang menguatkan, dan tanah gembur yang banyak makanan.


Untuk hati, siraman air adalah cahaya Al-Quran, kehangatan matahari adalah nasihat, dan tanah gembur merupakan lingkungan yang baik. Hati yang selalu dekat dengan Al-Quran bagaikan tanaman yang tumbuh di sekitar mata air nan jernih. Ia akan tumbuh subur dan kokoh.

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, dilingkupi pada diri mereka rahmat, dilingkari para malaikat, dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka pada makhluk yang ada di dekat-Nya.” (HR. Muslim)

Berdekat-dekatlah dengan Al-Quran, pandangan akan menemukan kejernihan. Secanggih apa pun sebuah gagasan, pemikiran; selama tidak bersandar pada Al-Quran, selama tidak dibimbing Al-Quran, hanya akan berkutat pada persoalan teknis. Bukan sesuatu yang ideal. Hanya akan berkutat pada materi dan materi.

Itulah yang diraih peradaban Barat saat ini. Sekilas kehidupan masyarakatnya seperti makmur sejahtera, padahal nilai-nilai sosial di sana sudah luntur. Idealita hidup menjadi begitu dangkal. Nilai hidup dan kemanusiaan menjadi tidak begitu dihargai.

Begitu pun ketika umat Islam berjarak dengan Al-Quran. Semakin jauh, pola pikir akan terjebak pada persoalan materi. Masalah yang muncul tidak pernah terselesaikan. Karena gagasan tidak mampu menyentuh persoalan inti, cuma berkutat pada yang kulit.

Krisis bangsa ini ada pada sisi moral. Dan itu ada dalam jiwa manusia. Upaya perubahan tidak akan punya arti jika tanpa ada pembenahan pada jiwa manusia. Allah swt. berfirman, “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehinga mereka mengubah keadaan yang ada pada jiwa mereka sendiri….” (Ar-Ra’du: 11)

Berdekat-dekat dengan Al-Quran akan menyegarkan jiwa. Segala syahwat buruk yang melahirkan emosi jahat bisa terkikis. Pandangan pun akan menjadi jernih. Maha Suci Allah dalam firman-Nya, “Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang zalim selain kerugian.” (Al-Isra’: 82)

Berdekat-dekatlah dengan Al-Quran, langkah akan mendapat bimbingan. Siapa pun kita, tetap tidak bisa keluar dari sifat sebagai manusia. Kadang melangkah dengan semestinya, kadang juga tersasar. Inilah di antara kelemahan manusia yang tidak bisa menentukan dengan kemampuan dirinya: mana jalan yang benar, dan mana yang tidak. Ia butuh bimbingan.

Hati yang segar dan pemikiran yang jernih akan menggiring langkah ke jalan yang lurus. Khusus mereka yang selalu dekat dengan Al-Quran, jalan kehidupan seperti dilengkapi rambu-rambu. Begitu jelas.

Kalaupun ia tersasar karena sifat manusianya, akan ada rasa tidak nyaman. Firasat imannya seperti memberikan sinyal. Bisa dalam bentuk kegelisahan, keraguan, dan sebagainya. Ia tidak lagi butuh teguran apalagi hukuman. Cukup dengan isyarat dari Allah swt., kesadaran pun kembali segar.

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hadiid: 28)

Berdekat-dekatlah dengan Al-Quran, kita tidak akan pernah sendirian. Keimanan dalam hati seseorang bisa terang, bisa juga redup. Ketika redup itulah, seorang mukmin seperti dalam kesendirian. Ada ketakutan, putus asa, ketidakmampuan, dan sejenisnya. Dunia seperti hutan lebat tanpa seorang pun di sana, kecuali dia seorang. Ia sangat butuh teman.

Seorang mukmin yang membaca Al-Quran, ia seperti sedang berdialog dengan seorang teman sejati. Yang siap menunjukkan yang salah dan yang benar. Ia menuntun sang teman kepada jalan yang baik, penuh kebahagiaan dan keselamatan.

Rasulullah saw. mengatakan, “Siapa yang ingin berdialog dengan Rabbnya, maka hendaklah dia membaca Al-Quran.” (HR. Adailami dan Al-Baihaqi)

Kini semua pilihan terhampar. Petunjuk dan rambu-rambu pun sudah diberikan. Tinggal kita yang harus menentukan: memilih jalan bersama Al-Quran, atau tidak. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “…maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir….” (Al-Kahfi: 29)
KEMATIAN DAN RINDU BERTEMU DENGAN ALLAH
Oleh : Mochamad Bugi
Sumber : Dakwatuna


U
badah bin Shamid r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku juga senang untuk bertemu dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku juga tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Ubadah bin Shamid r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya.”

Aisyah –salah seorang istri Nabi saw.—bertanya, “Kita membenci kematian.” Nabi saw. bersabda, “Bukan itu yang aku maksud, melainkan orang mukmin ketika dijemput oleh kematian, ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia memperoleh ridha dan karamah Allah, maka tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai daripada apa yang ada di hadapannya sehingga ia amat senang untuk bertemu dengan Allah. Allah pun senang untuk bertemu dengannya. Adapun orang kafir ketika dijemput oleh kematian, maka ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan mendapatkan azab dan siksa Allah, maka tidak sesuatu yang paling ia benci daripada apa yang ada di hadapannya sehingga ia tidak senang untuk bertemu dengan Allah. Allah pun tidak senang untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Abu Musa al-Asy’ari r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya. Kematian itu datang sebelum (seseorang) bertemu Allah.” (HR. Muslim, hadits shahih)

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa benci untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga benci untuk bertemu dengannya.” Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah –yang dimaksud dengan benci untuk bertemu dengan Allah adalah—membenci kematian? Setiap kita membenci kematian.”

Nabi menjawab, “Bukan seperti itu, melainkan orang mukmin ketika mendapatkan kabar gembira bahwa ia memperoleh rahmat, ridha, dan surga Allah, maka ia senang untuk bertemu dengan Allah. Alah pun senang untuk bertemu dengannya. Adapun orang kafir ketika mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan mendapatkan azab dan murka Allah, maka ia benci untuk bertemu dengan Allah. Allah pun benci untuk bertemu dengannya.” (HR. Muslim, hadits shahih)

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun senang untuk bertemu dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Imam Malik, hadits shahih)

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Malaikat Maut diutus untuk mencabut nyawa Nabi Musa a.s. Ketika Malaikat Maut tiba di hadapan Nabi Musa, Nabi Musa langsung memukul mata Malaikat Maut. Kemudian Malaikat Maut kembali menghadap Tuhannya seraya berkata, ‘Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tidak mau mati.’ Allah berkata, ‘Kembalilah dan katakan kepadanya agar ia meletakkan tangannya pada bulu sapi jantan. Maka setiap helai bulu yang ditutupi oleh tangannya berarti satu tahun.’ Musa berkata, ‘Wahai Tuhan, setelah itu?’ Allah menjawab, ‘Kematian.’ Musa berkata, ‘Saat iniah waktu kematian itu.’ Kemudian Musa memohon kepada Allah agar ia dimakamkan di dekat Baitul Maqdis, sejauh lemparan batu.’” Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Seandainya aku berada di sana, aku pasti akan memperlihatkan kepada kalian kuburannya yang terletak di samping jalan di kaki bukit berpasir merah.’” (HR. Bukhari, hadits shahih)

I H S A N
Oleh Alm. Ustaz Rahmat Abdullah
Sumber :
Web Dakwatuna

Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah swt. Rasulullah saw. pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.

Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya yang shahih. Hadist ini menceritakan saat Raulullah saw. menjawab pertanyaan Malaikat Jibril —yang menyamar sebagai seorang manusia— mengenai Islam, iman, dan ihsan. Setelah Jibril pergi, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya, “Inilah Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau menyebut ketiga hal di atas sebagai agama, dan bahkan Allah swt. memerintahkan untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-Qur`an.

“Dan berbuat baiklah kalian, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….” (QS. An-Nahl: 90)

Pengertian Ihsan

Ihsan berasal dari kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah ihsanan, yang artinya kebaikan. Allah swt. berfirman dalam Al-Qur`an mengenai hal ini.

“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (Al-Isra’: 7)

“Dan berbuat baiklah (kepada oraang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (QS. Al-Qashash: 77)

Ibnu Katsir mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk Allah swt.

Landasan Syar’i Ihsan

Pertama, Al-Qur`anul Karim

Dalam Al-Qur`an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Berikut ini beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.

“Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….” (QS An-Nahl: 90)

“… serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia….” (QS. Al-Baqarah: 83)

“Dan berbuat baiklah terhadap dua orang ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan para hamba sahayamu….” (QS. An-Nisaa`: 36)

Kedua, As-Sunnah

Rasulullah saw. pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Bahkan, di antara hadist-hadist mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah saw. menerangkan mengenai ihsan —ketika ia menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan, “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Di kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik.” (HR. Muslim)

Tiga Aspek Pokok dalam Ihsan

Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi pokok bahasan kita kali ini.

1. Ibadah

Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi, “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yang mubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.

Tingkatan Ibadah dan Derajatnya

Berdasarkan nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah, maka ibadah mempunyai tiga tingkatan, yang pada setiap tingkatan derajatnya masing-masing seorang hamba tidak dapat mengukurnya. Karena itulah, kita berlomba untuk meraihnya. Pada setiap derajat, ada tingkatan tersendiri dalam surga. Yang tertinggi adalah derajat muhsinin, ia menempati Jannatul Firdaus, derajat tertinggi di dalam surga. Kelak, para penghuni surga tingkat bawah akan saling memandang dengan penghuni surga tingkat tertinggi, laksana penduduk bumi memandang bintang-bintang di langit yang menandakan jauhnya jarak antara mereka.

Adapun tiga tingkatan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Tingkat at-Takwa, yaitu tingkatan paling bawah dengan derajat yang berbeda-beda.
2. Tingkat al-Bir, yaitu tingkatan menengah dengan derajat yang berbeda-beda.
3. Tingkat al-Ihsan, yaitu tingkatan tertinggi dengan derajat yang berbeda-beda pula.

Pertama, Tingkat Takwa

Tingkat takwa adalah tingkatan dimana seluruh derajatnya dihuni oleh mereka yang masuk kategori al-Muttaqun, sesuai dengan derajat ketakwaan masing-masing.

Takwa akan menjadi sempurna dengan menunaikan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Hal ini berarti meninggalkan salah satu perintah Allah dapat mengakibatkan sanksi dan melakukan salah satu larangannya adalah dosa. Dengan demikian, puncak takwa adalah melakukan seluruh perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Namun, ada satu hal yang harus kita pahami dengan baik, yaitu bahwa Allah swt. Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya yang memiliki berbagai kelemahan, yang dengan kelemahannya itu seorang hamba melakukan dosa. Oleh karena itu, Allah membuat satu cara penghapusan dosa, yaitu dengan cara tobat dan pengampunan. Melalui hal tersebut, Allah swt. akan mengampuni hamba-Nya yang berdosa karena kelalaiannya dari menunaikan hak-hak takwa. Sementara itu, ketika seorang hamba naik pada peringkat puncak takwa, boleh jadi ia akan naik pada peringkat bir atau ihsan.

Peringkat ini disebut martabat takwa, karena amalan-amalan yang ada pada derajat ini membebaskannya dari siksaan atas kesalahan yang dilakukannya. Adapun derajat yang paling rendah dari peringkat ini adalah derajat dimana seseorang menjaga dirinya dari kekalnya dalam neraka, yaitu dengan iman yang benar yang diterima oleh Allah swt.

Kedua, Tingkat al-Bir

Peringkat ini akan dihuni oleh mereka yang masuk kategori al-Abrar. Hal ini sesuai dengan amalan-amalan kebaikan yang mereka lakukan dari ibadah-ibadah sunnah serta segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah swt. hal ini dilakukan setelah mereka menunaikan segala yang wajib, atau yang ada pada peringkat sebelumnya, yaitu peringkat takwa.

Peringkat ini disebut martabat al-Bir (kebaikan), karena derajat ini merupakan perluasan pada hal-hal yang sifatnya sunnah, sesuatu sifatnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merupakan tambahan dari batasan-batasan yang wajib serta yang diharamkan-Nya. Amalan-amalan ini tidak diwajibkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, tetapi perintah itu bersifat anjuran, sekaligus terdapat janji pahala di dalamnya.

Akantetapi, mereka yang melakukan amalan tambahan ini tidak akan masuk kedalam kelompok al-bir, kecuali telah menunaikan peringkat yang pertama, yaitu peringkat takwa. Karena, melakukan hal pertama merupakan syarat mutlak untuk naik pada peringkat selanjutnya.

Dengan demikian, barangsiapa yang mengklaim dirinya telah melakukan kebaikan sedang dia tidak mengimani unsur-unsur kaidah iman dalam Islam, serta tidak terhindar dari siksaan neraka, maka ia tidak dapat masuk dalam peringkat ini (al-bir). Mengenai hal ini, Allah swt. berfirman dalam kitab-Nya, “Bukanlah kebaikan dengan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebaikan itu adalah takwa, dan datangilah rumah-rumah itu dari pintu-pintunya dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (QS. l-Baqarah: 189)

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan orang yang menyeru kepada iman, yaitu: Berimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang banyak berbuat baik.” (QS. Ali ‘Imran: 193)

Ketiga, Tingkatan Ihsan

Tingkatan ini akan dicapai oleh mereka yang masuk dalam kategori Muhsinun. Mereka adalah orang-orang yang telah melalui peringkat pertama dan yang kedua (peringkat takwa dan al-bir).

Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna —seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya– maka kita akan mendapatkan suatu kesimpulan bahwa ihsan memiliki dua sisi: Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga keikhlasan dan jujur pada saat beramal. Ini adalah ihsan dalam tata cara (metode). Kedua, ihsan adalah senantiasa memaksimalkan amalan-amalan sunnah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, selama hal itu adalah sesuatu yang diridhai-Nya dan dianjurkan untuk melakukannya.

Untuk dapat naik ke martabat ihsan dalam segala amal, hanya bisa dicapai melalui amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang dicintai oleh Allah, serta dilakukan atas dasar mencari ridha Allah swt.

2. Muamalah

Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah swt. pada surah An-Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.”

Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:

Pertama, Ihsan kepada kedua orang tua

Allah swt. menjelaskan hal ini dalam kitab-Nya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berumr lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidik aku diwaktu kecil.” (QS. Al-Israa’: 23-24)

Ayat di atas mengatakan kepada kita bahwa ihsan kepada ibu-bapak adalah sejajar dengan ibadah kepada Allah.

Dalam sebuah hadist riwayat Turmuzdi, dari Ibnu Amru bin Ash, Rasulullah saw. bersabda, “Keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua.”

Dalil di atas menjelaskan bahwa ibadah kita kepada Allah tidak akan diterima, jika tidak disertai dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila kita tidak memiliki kebaikan ini, maka bersamaan dengannya akan hilang ketakwaan, keimanan, dan keislaman.

Kedua, Ihsan kepada kerabat karib

Ihsan kepada kerabat adalah dengan jalan membangun hubungan yang baik dengan mereka, bahkan Allah swt. menyamakan seseorang yang memutuskan hubungan silatuhrahmi dengan perusak di muka bumi. Allah berfirman, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22)

Silaturahmi adalah kunci untuk mendapatkan keridhaan Allah. Hal ini dikarenakan sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Aku adalah Allah, Aku adalah Rahman, dan Aku telah menciptakan rahim yang Kuberi nama bagian dari nama-Ku. Maka, barangsiapa yang menyambungnya, akan Ku sambungkan pula baginya dan barangsiapa yang memutuskannya, akan Ku putuskan hubunganku dengannya.” (HR. Turmudzi)

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Syaikahni dan Abu Dawud)

Ketiga, Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin

Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, dan Turmuzdi, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini…(seraya menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya).”

Diriwayatkan oleh Turmudzi, Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa —dari Kaum Muslimin— yang memelihara anak yatim dengan memberi makan dan minumnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga selamanya, selama ia tidak melakukan dosa yang tidak terampuni.”

Keempat, Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat

Ihsan kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat atau tetangga yang berada di dekat rumah, serta tetangga jauh, baik jauh karena nasab maupun yang berada jauh dari rumah.

Adapun yang dimaksud teman sejawat adalah yang berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau kampus, perjalanan, ma’had, dan sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam katagori tetangga. Seorang tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim; sedang tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak, yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim dan sebagai kerabat. Rasulullah saw. menjelaskan hal ini dalam sabdanya, “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Siapakah yang tidak beriman, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya.” (HR. Syaikhani)

Pada hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Tidak beriman kepadaku barangsiapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia megetahuinya.”(HR. Ath-Thabrani)

Kelima, Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya

Rasulullah saw. bersabda mengenai hal ini, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya.” (HR. Jama’ah, kecuali Nasa’i)

Selain itu, ihsan terhadap ibnu sabil adalah dengan cara memenuhi kebutuhannya, menjaga hartanya, memelihara kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta, dan memberinya pelayanan.

Pada riwayat yang lain, dikatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Ya, Rasulullah, berapa kali saya harus memaafkan hamba sahayaku?” Rasulullah diam tidak menjawab. Orang itu berkata lagi, “Berapa kali ya, Rasulullah?” Rasul menjawab, “Maafkanlah ia tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Abu Daud dan at-Turmuzdi)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang hamba sahaya membuat makanan untuk salah seorang di antara kamu, kemudian ia datang membawa makanan itu dan telah merasakan panas dan asapnya, maka hendaklah kamu mempersilakannya duduk dan makan bersamamu. Jika ia hanya makan sedikit, maka hendaklah kamu memberinya satu atau dua suapan.” (HR. Bukhari, Turmuzdi, dan Abi Daud)

Adapun muamalah terhadap pembantu atau karyawan dilakukan dengan membayar gajinya sebelum keringatnya kering, tidak membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak sanggup melakukannya, menjaga kehormatannya, dan menghargai pribadinya. Jika ia pembantu rumah tangga, maka hendaklah ia diberi makan dari apa yang kita makan, dan diberi pakaian dari apa yang kita pakai.

Pada akhir pembahasan mengenai bab muamalah ini, Allah swt. menutupnya firman-Nya yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (QS. Al-Hajj: 38)

Ayat di atas merupakan isyarat yang sangat jelas kepada siapa saja yang tidak berlaku ihsan. Bahkan, hal itu adalah pertanda bahwa dalam dirinya ada kecongkakan dan kesombongan, dua sifat yang sangat dibenci oleh Allah swt.

Keenam, Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Masih riwayat dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda, “Ucapan yang baik adalah sedekah.”

Bagi manusia secara umum, hendaklah kita melembutkan ucapan, saling menghargai dalam pergaulan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegahnya dari kemungkaran, menunjukinya jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak mereka, dan tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal dapat mengusik serta melukai mereka.

Ketujuh, Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang

Berbuat ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah. Bahkan, pada saat menyembelih, hendaklah dengan menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak menyiksanya, serta menggunakan pisau yang tajam.

Inilah sisi-sisi ihsan yang datang dari nash Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw.

Beberapa contoh ihsan dalam hal muamalah

Pada Perang Uhud, orang-orang Quraisy membunuh paman Rasulullah saw., yaitu Hamzah. Mereka mencincang tubuhnya, membelah dadanya, serta memecahkan giginya. Kemudian seorang sahabat meminta Rasulullah saw. berdoa agar mereka diazab oleh Allah. Akantetapi, Rasulullah malah berkata, “Ya Allah, ampunilah mereka, karena mereka adalah kaum yang bodoh.”

Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz berkata kepada hamba sahaya perempuannya, “Kipasilah aku sampai aku tertidur.” Lalu, hambanya pun mengipasinya sampai Umar tertidur. Karena sangat mengantuk, sang hamba pun tertidur. Ketika Umar bangun, beliau mengambil kipas tadi dan mengipasi hamba sahayanya. Ketika hamba sahaya itu terbangun, maka ia pun berteriak menyaksikan tuannya melakukan hal tersebut. Umar kemudian berkata, “Engkau adalah manusia biasa seperti diriku dan mendapatkan kebaikan seperti halnya aku, maka aku pun melakukan hal ini kepadamu, sebagaimana engkau melakukannya padaku.”

3. Akhlak

Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.

Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang —yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya– maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits, “Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Kesimpulannya, ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga kita semua dapat mencapai hal ini, sebelum Allah swt. mengambil ruh ini dari kita. Wallahu a’lam bish-shawwab.

CUKUPLAH KEMATIAN SEBAGAI NASIHAT
Oleh : Muhamad Nuh
Sumber : Dakwatuna.com


Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.

Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga

Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.

Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”

Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa

Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.

Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.

Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.

Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.

Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa

Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.

Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang.

Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.

Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.

Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara

Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.

Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga

Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)

Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.

MENGAPA HATI KERAS MEMBATU?
Sumber : Kutaib “Limadza Taqsu Qulubuna” Al-Qism al-Ilmi Darul Wathan.
dikutip dari : www.alsofwah.or.id

Hati adalah sumber penalaran, tempat pertimbangan, tumbuhnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan keras kepala, ketenangan dan kegoncangan.

Hati juga sumber kebahagiaan, jika kita mampu membersihkannya, namun sebaliknya merupakan sumber bencana jika menodainya. Aktivitas badan sangat tergantung lurus bengkoknya hati. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu berkata, "Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika raja itu bagus, maka akan bagus pula tentaranya. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tentaranya."

Tanda-Tanda Kerasnya Hati

Hati yang keras memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali, di antara yang terpenting sebagai berikut :

1. Malas Melakukan Ketaatan dan Amal Kebaikan
Terutama malas untuk menjalankan ibadah, bahkan mungkin meremehkan nya, melakukan shalat asal-asalan tanpa ada kekhusyukan dan kesungguhan, merasa berat dan enggan, merasa berat pula menjalankan ibadah-ibadah sunnah. Allah telah menyifati kaum munafiqin. Firman-Nya, artinya,
“Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (At-Taubah : 54)

2. Tidak Tersentuh Oleh Ayat Al-Qur'an dan Petuah
Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, maka tidak terpengaruh sama sekali, tidak mau khusyu' atau tunduk, dan juga lalai dari membaca al-Qur'an serta mendengarkannya, bahkan enggan dan berpaling darinya. Sedang kan Allah Subhannahu wa Ta'ala telah memperingatkan, artinya,
“Maka beri peringatanlah dengan al-Qur'an orang yang takut kepada ancaman-Ku.” (Qaaf : 45)

3. Tidak Tersentuh dengan Ayat Kauniyah
Tidak tergerak dengan adanya peristiwa-peristiwa yang dapat memberikan pelajaran, seperti kematian, sakit, bencana dan semisalnya. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat.
“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (At-Taubah :126)

4. Berlebihan Mencintai Dunia dan Melupakan Akhirat
Himmah dan segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata. Segala sesuatu ditimbang dari sisi dunia dan materi. Cinta, benci dan hubungan dengan sesama manusia hanya untuk urusan dunia saja. Ujungnya, jadilah dia seorang yang dengki, egois dan individualis, bakhil dan tamak terhadap dunia.

5. Kurang Mengagungkan Allah.
Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman melemah, tidak marah ketika larangan Allah diterjang, serta tidak mengingkari kemungkaran. Tidak mengenal yang ma'ruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa.

6. Kegersangan Hati
Kesempitan dada, mengalami kegoncangan, tidak pernah merasakan ketenangan dan kedamaian sama sekali. Hatinya gersang terus-menerus dan selalu gundah terhadap segala sesuatu.

7. Kemaksiatan Berantai
Termasuk fenomena kerasnya hati adalah lahirnya kemaksiatan baru akibat dari kemaksiatan yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga menjadi sebuah lingkaran setan yang sangat sulit bagi seseorang untuk melepaskan diri.


Sebab-Sebab Kerasnya Hati

Di antara faktor kerasnya hati, yang penting untuk kita ketahui yakni:

1. Ketergantungan Hati kepada Dunia serta Melupakan Akhirat
Kalau hati sudah keterlaluan mencintai dunia melebihi akhirat, maka hati tergantung terhadapnya, sehingga lambat laun keimanan menjadi lemah dan akhirnya merasa berat untuk menjalankan ibadah. Kesenangannya hanya kepada urusan dunia belaka, akhirat terabaikan dan bahkan ter-lupakan. Hatinya lalai mengingat maut, maka jadilah dia orang yang panjang angan-angan.
Seorang salaf berkata, "Tidak ada seorang hamba, kecuali dia mempunyai dua mata di wajahnya untuk memandang seluruh urusan dunia, dan mempunyai dua mata di hati untuk melihat seluruh perkara akhirat. Jika Allah menghendaki kebaikan seorang hamba, maka Dia membuka kedua mata hatinya dan jika Dia menghendaki selain itu (keburukan), maka dia biarkan si hamba sedemikian rupa (tidak mampu melihat dengan mata hati), lalu dia membaca ayat, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci.” (Muhammad : 24)

2. Lalai
Lalai merupakan penyakit yang berbahaya apabila telah menjalar di dalam hati dan bersarang di dalam jiwa. Karena akan berakibat anggota badan saling mendukung untuk menutup pintu hidayah, sehingga hati akhirnya menjadi terkunci. Allah berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itu lah orang-orang yang lalai” (QS.16:108)
Allah Subhannahu wa Ta'ala memberitahukan, bahwa orang yang lalai adalah mereka yang memiliki hati keras membatu, tidak mau lembut dan lunak, tidak mempan dengan berbagai nasehat. Dia bagai batu atau bahkan lebih keras lagi, karena mereka punya mata, namun tak mampu melihat kebenaran dan hakikat setiap perkara. Tidak mampu membedakan antara yang bermanfaat dan membahayakan. Mereka juga memiliki telinga, namun hanya digunakan untuk mendengarkan berbagai bentuk kebatilan, kedustaan dan kesia-siaan. Tidak pernah digunakan untuk mendengarkan al-haq dari Kitabullah dan Sunnah Rasul Shalallaahu alaihi wasalam (Periksa QS. Al A'raf 179)

3. Kawan yang Buruk
Ini juga merupakan salah satu sebab terbesar yang mempengaruhi kerasnya hati seseorang. Orang yang hidupnya di tengah gelombang kemaksiatan dan kemungkaran, bergaul dengan manusia yang banyak berku-bang dalam dosa, banyak bergurau dan tertawa tanpa batas, banyak mendengar musik dan menghabiskan hari-harinya untuk film, maka sangat memungkinkan akan terpengaruh oleh kondisi tersebut.

4. Terbiasa dengan Kemaksiatan dan Kemungkaran
Dosa merupakan penghalang seseorang untuk sampai kepada Allah. Ia merupakan pembegal perjalanan menuju kepada-Nya serta membalikkan arah perjalanan yang lurus.
Kemaksiatan meskipun kecil, terkadang memicu terjadinya bentuk kemaksiatan lain yang lebih besar dari yang pertama, sehingga semakin hari semakin bertumpuk tanpa terasa. Dianggapnya hal itu biasa-biasa saja, padahal satu persatu kemaksiatan tersebut masuk ke dalam hati, sehingga menjadi sebuah ketergantungan yang amat berat untuk dilepaskan. Maka melemahlah kebesaran dan keagungan Allah di dalam hati, dan melemah pula jalannya hati menuju Allah dan kampung akhirat, sehingga menjadi terhalang dan bahkan terhenti tak mampu lagi bergerak menuju Allah.

5. Melupakan Maut, Sakarat, Kubur dan Kedahsyatannya.
Termasuk seluruh perkara akhirat baik berupa adzab, nikmat, timbangan amal, mahsyar, shirath, Surga dan Neraka, semua telah hilang dari ingatan dan hatinya.

6. Melakukan Perusak Hati
Yang merusak hati sebagaimana dikatakan Imam Ibnul Qayyim ada lima perkara, yaitu banyak bergaul dengan sembarang orang, panjang angan-angan, bergantung kepada selain Allah, berlebihan makan dan berlebihan tidur.


Solusi

Hati yang lembut dan lunak merupakan nikmat Allah yang sangat besar, karena dia mampu menerima dan menyerap segala yang datang dari Allah. Allah mengancam orang yang berhati keras melalui firman-Nya,
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah.Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az-Zumar: 22)

Di antara hal-hal yang dapat membantu menghilangkan kerasnya hati dan menjadikannya lunak, lembut dan terbuka untuk menerima kebenaran dari Allah yakni:

1. Ma'rifat (mengenal) Allah
Siapa yang kenal Allah, maka hatinya pasti akan lunak dan lembut, dan siapa yang jahil terhadap-Nya, maka akan keras hatinya. Semakin bodoh seseorang terhadap Allah, maka akan semakin berani melanggar batasan-Nya. Dan semakin seseorang berfikir tentang Allah, maka semakin sadar akan kebesaran Allah, keluasan nikmat serta kekuasaan Nya.

2. Mengingat Maut
Pertanyaan kubur, kegelapannya, sempit dan sepinya, juga penderitaan menjelang sakaratul maut termasuk ke dalam mengingat maut. Memperhatikan pula orang-orang yang telah mendekati kematian dan menghadiri jenazah. Hal itu dapat membangunkan ketertiduran hati kita, dan mengingatkan dari keterlenaan. Sa’id bin Jubair berkata, "Seandainya mengingat mati lepas dari hatiku, maka aku takut kalau akan merusak hatiku."

3. Berziarah Kubur dan Memikirkan Penghuninya.
Bagaimana mereka yang telah ditimbun tanah, bagaimana mereka dulu makan, minum dan berpakaian dan kini telah hancur di dalam kubur, mereka tinggalkan segala yang dimiliki, harta, kekuasaan maupun keluarga, lalu ingat dan berfikir, bahwa sebentar lagi dia juga akan mengalami hal yang sama.

4. Memperhatikan Ayat-ayat Al- Qur'an.
Memikirkan ancaman dan janjinya, perintah dan larangannya. Karena dengan memikirkan kandungannya, maka hati akan tunduk, iman akan bergerak mendorong untuk berjalan menuju Rabbnya, hati menjadi lunak dan takut kepada Allah.

5. Mengingat Akhirat dan Kiamat
Huru-hara dan kedahsyatannya, Surga dengan kenimatannya, neraka dengan penderitaannya yang disediakan bagi para pelaku dosa dan kemaksiatan.

6. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Dzikir dapat melunakan hati yang keras. Karena itu selayaknya seorang hamba mengobati hatinya dengan berdzikir kepada Allah, sebab ketika kelalaian bertambah, maka kekerasan hati makin memuncak pula.

7. Mendatangi Orang Shalih dan Bergaul dengen Mereka.
Orang shaleh akan memberikan semangat ketika kita lemah, mengingatkan ketika lupa, dan memberikan jalan ketika kita bingung dan pertemuan dengan mereka akan membantu kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah

8. Berjuang, Introspeksi dan Melihat Kekurangan Diri.
Manusia, jika tidak mau berjuang, introspeksi dan melihat kekurangan diri, maka dia tidak tahu, bahwa dirinya sakit dan banyak kekurangan. Jika dia tidak merasa sakit atau punya kekurangan, maka bagaimana mungkin dia akan memperbaiki diri atau berobat?

Wallahu a’lam, semoga Allah Subhannahu wa Ta'ala melunakkan hati kita semua untuk menerima dan menjalankan kebenaran, amin ya Rabbal ‘alamin.