Ternyata, permasalahan dan cobaan ini juga merupakan ujian yang datangnya dari Allah sebagai Penguji keimanan bagi hamba-hambaNya. Firman Allah dalam suroh Al Ankabut ayat 2 & 3 yang artinya:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?.” “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta”.
Keberimanan seseorang tidak hanya sekedar lips service (pemanis bibir) tetapi bukti nyata juga dibutuhkan, dengan cara berbagai sikap untuk mengatasi permasalahan yang ada di sekitar kita, apakah sesuai dengan ketentuan Allah atau malah sebaliknya dalam penyelesaian masalah tersebut kita melanggar segala perintah-Nya.
Kita juga bisa melihat kisah perjalanan para salafus sholih dalam menghadapi berbagai persoalan hidup di sekitar mereka, ada yang harus ditinggalkan keluarganya, kehilangan harta benda, dipenjara bahkan kehilangan nyawa, namun mereka tetap tenang dan sabar dalam menjalaninya, sehingga tidak menjauhkan diri mereka dari Sang Pencipta, Penggenggam segala jiwa.
Agar ketenangan tersebut menjadi milik kita, maka ada beberapa hal yang harus kita tanamkan pada diri yaitu:
1. Yakin dengan kebenaran Allah tanpa ada keraguan lagi.
Kita harus yakin bahwa segala sesuatu di bumi ini adalah milik Allah, tidak ada kekuatan selain kekuatan dan mutlak kekuasaan A
llah semata, dan segala persoalan yang ada pasti Allah akan memberikan jalan keluarnya. Allah akan memberikan rezki dari arah yang tak terduga dan Allah akan memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertaqwa. Ingat !!! Janji Allah pasti, tiada keraguan lagi. Allah maha menepati janji, jadi hanya kepadaNya-lah kita meminta dan memohon perlindungan.
2. Ikhlas dan Sabar
Keikhlasan dan kesabaran kita dalam menjalani kehidupan ini, baik susah maupun senang akan sangat membantu jiwa kita menghadirkan ketenangan dalam menyelesaikan persoalan hidup. Maka jadikanlah sabar dan sholat itu sebagai penolongmu (Al Baqoroh ayat 45). Insya Allah dengan keikhlasan dan kesabaran akan memudahkan kita menapaki kehidupan ini.
3. Akhlak yang baik
Akhlak yang baik juga sangat membantu kita menghadapi persoalan yang berkaitan dengan orang lain, misalnya tetangga, keluarga dan rekan kerja. Karena akhlak yang baik merupakan cerminan baiknya keimanan seseorang. Jadi, lemah-lembutlah bertutur kata, jauhi sikap menyakiti orang lain, hormatilah yang tua dan sayangi yang muda, hargailah setiap orang dan letakkan setiap orang pada tempatnya, rendahkan hati dan jauhi kesombongan dalam bersikap dan bertutur kata, balaslah keburukan dengan kebaikan, insya Allah Anda akan disayangi, dihargai setiap orang bahkan lawan pun akan menjadi kawan. Itulah yang diajarkan oleh Islam.
4. Mau melaksanakan amanah dan Allah, Rosul serta manusia - manusia beriman.
Mau melaksanakan semua perintah Allah dan RosulNya membuktikan kita adalah orang yang amanah dalam mengemban ajaran yang dibawa oleh Rosulullah saw. Serta melaksanakan amanah dari pemimpin / orang-orang beriman bukti sikap loyal kita pada ajaran Islam. Begitu banyak ayat-ayat yang mengatakan “Taatilah Allah dan Rosulnya dan ulil amri diantara kamu….” (An Nisa ayat 59).
5. Amal sholih
Mau melakukan segala perbuatan baik merupakan amal sholih kita, walau sekecil apapun.Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh akan mendapatkan ampunan dari Allah sehingga keridhoan Allah menyertainya hingga akhirnya mendapatkan balasan syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya (An Nisa ayat 57).
Hal - hal inilah yang harus kita jadikan motivasi kuat dalam beraktivitas dan menjalani sisa-sisa waktu kita yang masih Allah berikan dengan sebaik-baiknya agar ketenangan orang-orang beriman selalu mewarnai diri dan setiap langkah kaki kita. Amin
pangkuanNya”
Ibadah Orang Sholih
Dikisahkan bahwa ‘Isham bin Yusuf pernah mendatangi majlis Hatim al-‘Asham dengan tujuan untuk mendebatnya. Begitu duduk, ia langsung mengajukan pertanyaan kepadanya : “Abu ‘Abdirrahman! (nama panggilan untuk Hatim), bagaimanakah anda melaksanakan Sholat?”
Hatim menoleh kepada ‘Isham lalu menjawab, “Jika telah datang waktu shalat, saya berwudhu’ baik secara dzhohir ataupun secara bathin.”
“Apa yang anda maksudkan dengan wudhu’ secara bathin!?” ia menyela sebelum Hatim selesai menjelaskan.
“Jika wudhu’ secara dzhohir adalah membasuh anggota wudhu’ dengan air, maka wudhu’ secara bathin adalah membasuhnya dengan tujuh hal, yaitu : Taubat, Penyesalan, Meninggalkan Dunia, Meninggalkan Pujian Makhluq, Meninggalkan Wibawa, Meningalkan Kedengkian dan Meninggalkan Hasad ,” jawab beliau.
Setelah itu ia melanjutkan: “Setelah itu saya pergi ke masjid dan mempersiapkan anggota tubuh dan menghadap kearah Ka’bah. Pada saat itu saya berdiri di antara rasa harap dan cemas, dan saya merasa bahwa Alloh Subhaanahu wa Ta'aala melihatku. Sementara itu, saya merasakan seakan-akan surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, sedangkan Malaikat maut di belakangku dan aku merasa seakan-akan meletakkan kedua kakiku di atas shirath dan pada saat itu aku menganggap bahwa sholat yang akan kulaksanakan adalah sholat yang terakhir. Setelah itu aku berniat dan takbir dengan sebenar-benarnya, membaca bacaan sholat dengan penuh perenungan, ruku’ dengan kerendahan hati, dan sujud dengan perasaan hina di hadapan Alloh 'Azza wa Jalla, tasyahhud dengan penuh harap, serta salam dengan penuh keikhlasan. Seperti inilah sholat yang kulakukan sejak tiga puluh tahun.”
Setelah mendengar semua yang dikatakan oleh Hatim, ‘Isham tertegun dan tiba-tiba menangis sambil berkata: “Yang demikian itu hanya anda yang mampu melakukannya!”
Wallaahu a'lam bishshawab.
Hikmah dari Kisah di atas :
Subhaanalloh!, begitu banyak 'HIKMAH' yang dapat kita pelajari dari Kisah ini.
Bagaimana seorang 'Alim 'Ulama yang mengamalkan ilmunya dengan menjaga amal Wajib dan Juga Sunnah, termasuk menjaga adab-adab dalam melaksanakan perintah Alloh Subhaanahu wa Ta'aala yaitu Sholat yang di amalkan sesuai dengan sunnah atau ajaran baginda Rosululloh Shallolloohu 'Alayhi wa Sallam ; di awal waktu atau tepat waktu, bertempat di mana adzan di kumandangkan (masjid/musholla) dan di kerjakan secara Berjama'ah (untuk perempuan tidak diutamakan, yang utama adalah di rumah).
Sehingga perkara 'Khusyu' dalam Sholat telah di perolehnya, karena bukan saja Dzhohiriyah tetapi Bathiniyah di dalam amal sholat di jaga dengan penuh kesungguhan, contohnya dalam perkara 'Wudhu'. Berikutnya yang sangat penting kita ambil hikmahnya adalah 'Buah' dari setiap amal sholeh yaitu berupa Akhlaq yang baik dan 'Hikmah' dalam menanggapi/menjawab suatu permasalahan, sebagaimana telah di contohkan oleh Rosululloh Shallolloohu 'Alayhi wa Sallam.
Berikut saya kutipkan satu Firman Alloh Subhaanahu wa Ta'aala, beberapa Hadits Rosululloh Shallolloohu 'Alayhi wa Sallam, satu Atsar Sahabat Umar Rodiyalloohu 'Anh dan Juga Qawliyah 'Ulama, berkaitan dengan Kisah ini ;
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
The Believers, men and women, are protectors one of another: they enjoin what is just, and forbid what is evil: they observe regular prayers, practise regular charity, and obey Allah and His Messenger. On them will Allah pour His mercy: for Allah is Exalted in power, Wise.
(“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Alloh; sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”)
Al-Qur'an, 009.071 (At-Tawba [Repentance, Dispensation])
Seorang sahabat datang kepada Nabi Shallolloohu 'Alayhi wa Sallam dan bertanya, "Ya Rosululloh, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Alloh dan manusia." Rosulullah Shallolloohu 'Alayhi wa Sallam menjawab, "Hiduplah di Dunia dengan berzuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia." (HR. Ibnu Majah)
Rosululloh Shallolloohu 'Alayhi wa Sallam Bersabda ; "Siapa yang segera berangkat ke masjid dan kemudian (setelah shalat) keluar darinya, niscaya akan Alloh sediakan baginya suatu tempat di syurga setiap kali dia berangkat dan keluar dari masjid." (HR Bukhory)
Rosululloh Shallolloohu 'Alayhi wa Sallam Bersabda ; "Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Alloh di bawah naungan-Nya di hari tdk ada naungan kecuali naungan-Nya. 1. Pemimpin yg adil, 2. Pemuda yg sentiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya, 3. Orang yg hatinya sentiasa berpaut pada masjid-masjid 4. Dua orang yg saling mengasihi karena Alloh, keduanya berkumpul dan berpisah karena Alloh, 5. Seorang lelaki yg diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa paras yg cantik utk melakukan kejahatan tetapi dia berkata, 'Aku takut kepada Alloh!', 6. Seorang yg memberi sedekah tetapi dia merahsiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yg diberikan oleh tangan kirinya dan 7. Seseorang yg mengingati Alloh di waktu sunyi sehingga mengalirkan air mata dr kedua matanya." (HR. Bukhory & Muslim)
"Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada Menjaga Lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada Takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi Nasihat Baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada Sabar." (Umar bin Khattab Radiyalloohu 'Anh)
"Hendaknya kita mengukur ilmu bukan dari tumpukan buku yang kita habiskan. Bukan dari tumpukan naskah yang kita hasilkan. Bukan juga dari penatnya mulut dalam diskusi tak putus yang kita jalani. Tapi...dari amal yang keluar dari setiap desah nafas kita." (Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah Rahimahulloh)
Semoga kita dapat mengambil Pelajaran dari Kisah ini, dan Semoga Alloh Subhaanahu wa Ta'aala, memberkan kita taufik dan hidayahnya untuk selalu bisa Istiqomah dalam amal Sholih dan bisa mengamalkan dan menyampaikan ilmu agama yang kita miliki walaupun hanya sedikit sahaja, sehingga kita memiliki Sifat-siaft yang Mulia sebagaimana panutan kita yaitu Rosululloh Shallolloohu 'Alayhi wa Sallam Keluarga-keluarga beliau dan juga Para Shohabat Rodiyalloohu Ajma'iyn. Amiin ya Robbal 'Aalamiin.
Sumber : http://majlismudzakaroh.multiply.com
Fadlillah Amal
Ajaran agama islam yang dibawa, di ajarkan dan di tanamkan dalam diri ummat, oleh Rosululloh Shollalloohu 'Alayhi wa Sallam adalah ajaran agama yang sempurna. Sehingga Islam oleh Rosululloh Shollalloohu 'Alayhi wa Sallam dalam Hadits Shohih Riwayat Imam Bukory dan Muslim yang terdapat dalam kitab at-Targhib, di gambarkan sebagai sebuah bangunan yang terdiri dari 5 pondasi, yaitu ; (1). Syahadatayn (Bersaksi bahwa tidak ada Robb (Tuhan) yang berhak di sembah dengan benar kecuali Alloh Subhaanahu wa Ta'aala dan Bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rosul (utusan) Alloh), (2). Mendirikan Sholat, (3). Membayar Zakat, (4). Berpuasa di Bulan Romadhon, (5). Menunaikan Ibadah Haji (bagi yang mampu).
Setiap pondasi saling menopang satu sama lain. Sebagaimana sebuah kemah, Syahadatayn adalah tiang tengahnya, dan keempat tiang penyangga lainnya adalah; Sholat, Zakat, Puasa dan Haji. Walaupun tidak semua umat muslim mampu mendirikan secara sempurna (khususnya Ibadah Haji), Sholat adalah Amal yang paling Utama setelah Iman.
Demikian mungkin yang dapat saya petik, walaupun sangat singkat sekali dari bahasan pada kitab Fadhoilul A'mal. Yaitu pada bab 'Fadhilah Sholat' dengan Sub Bab 'Keutamaan Sholat'.
Kitab ini terdiri dari 6 Bab, 5 Bab karangan Syaikh Muhaddits Maulana Zakariyya al-Kandahlawi Rohimahulloh yang terdiri dari ; a. Fadho'il Qur'an, b. Fadho'il Namaz (Sholat), c. Fadho'il Dzikir, d. Fadho'il Tabligh, dan e. Kisah-kisah Para Shohabat (Hikaayatishshohaabah). Adapun 1 Bab terakhir adalah karangan Syaikh Maulana Ihtisyamul Hasan Rahimahulloh yang berjudul "Musalmanun Ka Mausudah Pesyti Ka Wahid 'Ilaj" (Satu-satunya Cara Memperbaiki Kemerosotan Ummat Islam di Zaman Ini).
Apabila kita coba teliti kitab ini, maka kita akan mengetahui begitu detail dan terstructurnya susunan dari pada Bagian-bagian atau Bab demi bab yang di bahas dalam kitab ini. Bahkan Sub Bab dalam setiap Bab juga terstruktur. Begitu pun juga dalam segi Dalil yang di uraikan. Dalam beberapa Bab, yang pertama kali di uraikan adalah dalil-dalil al-Qur'an terlebih dahulu baru setelah itu Hadits-hadits, Atsar Shohabat dan Qawliyah 'Ulama.
Syaikh Maulana Zakariyya Rahimahulloh sang Mushonnif terkenal sebagai seorang Muhaddits, sehingga di antara karangan kitabnya adalah sebuah Kitab yang mensyarahi kitab Hadits yang terkenal yaitu al-Muwattho karangan Imam Malik Rahimahulloh. Sehingga apabila kita membaca kitab Fadhoilul A'mal ini maka kita akan selalu menemukan dalam menjelaskan sebuah hadits yang berkaitan dengan fadhilah tertentu, beliau juga menjelaskan dengan hadits-hadits yang lain.
Begitupun kitab ini tidak luput dari kritikan-kritikan, seperti ada yang menyebutkan kitab ini penuh dengan Hadits Dho'if dan Maudhu' dan Berisi cerita-cerita Khurafat. Maka hal ini sangat di sayangkan, kenapa?? karena kritikan itu terlalu menonjolkan/mem blow up sisi apa yang di kritik sehingga menimbulkan opini publik bahwa kitab 'Fadhoilul Amal' adalah kitab yang "NEGATIF". Sehingga, baik secara langsung maupun tidak langsung menghilangkan fakta sebenarnya yang terkandung didalam isi kitab tersebut.
Andaikan para pengkritik itu mau meneliti (Tabayyun) lebih jauh dengan membelinya atau meminjam lalu mengadakan penelitian, lalu membahas atau memudzakarohkan. Maka akan nampak bahwa dalam setiap penyusunan Bab dan Sub Bab, Mushonnif selalu mendahulukan Hadits yang levelnya Shohih atau Hasan baru setelah itu dimasukkan hadits-hadits Dho'if sebagai pengiringnya. Maka inilah yang menjadi pendapat Jumhur 'Ulama bahwa apabila berkaitan dengan Fadhoil (Keutamaan-keutamaan) 'Amal, maka hadits Dho'if di perbolehkan tentu saja ada 'ulama yang memberikan syarat yaitu sebagai pengiring dari hadits Shohih.
Lalu berkaitan dengan cerita-cerita yang di sebut khurafat, maka sepanjang penelitian yang di lakukan oleh saya, cerita-cerita itu tidak lain hanyalah bersifat pelengkap saja dan berlaku sebagai 'Targhib' melalui kisah-kisah sehingga pembaca mengetahu bagaimana begitu 'Mujahadah' nya para Shohabat, Tabi'in, Tabi'inat tabi'in, maupun 'Ulama-ulama terdahulu dalam segi Imaniyah, Ubudiyah, Muamalah, Muasyaroh dan Akhlaqnya. Walaupun begitu tidak semua kisah-kisah yang ada di sana dapat di katakan cerita Khurafat, karena segala sesuatu itu di dalam kekuasaan Alloh Subhanahu wa Ta'aala, jika Alloh Subhaanahu wa Ta'aala menghendaki, kejadian yang menurut akal kita mustahil pun bisa saja terjadi. Lagi pula cerita-cerita/kisah-kisah itu tidaklah beliau karang sendiri melainkan beliau nukil dari kitab-kitab yang beliau ambil sebagai 'Maraji'.
Kita pun akan menemukan bahwa segala sesuatu yang beliau bahas di kitab ini, tidak lepas dari hasi penukilan/pen telaahan beliau yang bersumber dari kitab-kita yang sudah mu'tabar atau terkenal di kalangan 'Ulama Salafushsholih terdahulu maupun saat ini (Kholaf). Baik itu Kitab-kitab Tafsir seperti ; Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Khozin, Kitab-kitab Hadits seperti ; Shohih Bukhory, Muslim, Kitab-kitab Sunan (Tirmidzi, Abu Daud, Nasa'i, Ibnu Majah), Lalu Kitab-kitab Lain seperti ; al-Muwattho, al-Munabbihat, Aini Syarah Bukhory, Az-Zawajir, Al Ishobah, at-Targhib wa Tarhib, Durul Mantsur, Jami'ushshogir, Misykaatul Mashobih, Riyadhussholihin, dan lain sampai puluhan yang saya tidak hafal satu per satu.
Secara keseluruhan kitab ini sangat Baik dan Bermanfa'at untuk di Baca, di Pelajari, di Amalkan, di Ta'limkan kembali dengan Keluarga (menghidupkan amal ta'lim wa ta'lum di rumah) dan Juga Sesama Umat Muslim (menghidupkan amal ta'lim wa ta'lum di Mesjid atau Musholla). Sehingga Ummat Islam kembali bergairah dalam mengamalkan Perintah Alloh 'Azza wa Jalla, menjauhi Larangan-Nya juga ada kemampuan untuk mengamalkan Sunnah-sunnah Rosululloh Shollalloohu 'Alayi wa Sallam.
Iman, Amal Sholih, Serta Masalah Seputar Bertambah dan Berkurangnya Iman
Pembahasan seputar iman; apakah ia hanya terdiri dari pembenaran dalam hati saja ataukah juga terdiri dari ikrar dalam perkataan, dan amal dalam perbuatan; dan apakah dia bisa bertambah dan berkurang, merupakan topik yang telah menjadi ajang perdebatan madzhab-madzab aqidah terdahulu. Tulisan ini tidak akan mendiskusikan perbedaan pandangan antar madzhab untuk kemudian menyatakan mana yang benar dan mana yang bathil. Namun kami sekedar mengetengahkan sebuah pandangan yang menjadi pendirian kami. Wallaahul Musta’aan ****
Kami membahas permasalahan ini bertolak dari firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa dalam Al Baqarah ayat dua sampai dengan lima, yang artinya:
Al Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang taqwa (al muttaquun). Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghoib, mendirikan sholat, dan mereka menafkahkan dari sebagian apa yang telah Kami rizqikan kepada mereka.Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang Kami turunkan kepadamu dan kepada apa yang telah Kami turunkan kepada (nabi) sebelum kamu. Dan terhadap akhirat mereka yakin. Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk Rab mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Setelah Allah menyebutkan bahwa Al Qur’an merupakan petunjuk bagi orang yang bertaqwa, maka dalam ayat yang ketiga, Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa menyebutkan beberapa diantara sifat-sifat al-muttaquun itu, dimana sifat-sifat itulah yang menjadikan mereka sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk dan keberuntungan. Maka Allah menyebutkan keadaan mereka yang mengimani hal-hal ghoib dan beriman kepada apa yang diturunkan oleh Allah kepada para rasulNya berupa kitab-kitab. Kemudian Allah menyebutkan sifat keimanan mereka kepada akhirat. Demikian juga Allah menyebutkan sifat mereka dalam menegakkan sholat dan bagaimana mereka menginfaqkan sebagian dari apa yang Allah rizqikan kepada mereka.
Orang yang merenungi ayat-ayat ini akan menemukan hal-hal berikut:
· Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’alaa mengaitkan keberuntungan dengan dua perkara: Pertama, berkaitan dengan iman, dengan firmanNya, yang artinya :mereka beriman kepada yang ghoib; Dan orang yang beriman dengan apa yang Kami turunkan kepadamu dan apa yang telah Kami turunkan kepada (nabi) sebelum kamu. Dan kepada akhirat mereka yakin.. Kedua, berkaitan dengan amal sholih, dengan FirmanNya, yang artinya: mereka mendirikan sholat, dan mereka menafkahkan dari sebagian apa yang Kami rizqikan kepada mereka. Dan sungguh, Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa telah menyandingkan antara iman dengan amal sholih dalam banyak ayat, seperti yaitu orang-orang yang beriman dan beramal sholih (TQS. Al Baqarah ayat 25).
· Sesungguhnya, setelah Allah menyebutkan keimanan kepada hal-hal ghoib maka Dia kembali dengan menyebutkan keimanan kepada akhirat, padahal keimanan kepada akhirat sudah tercakup dalam makna keimanan kepada hal yang ghoib. Hal ini termasuk kedalam bab menyebutkan hal yang khusus setelah penyebutan hal yang umum dalam rangka menunjukkan urgensinya/pentingnya (dzakaral khoosho ba’dal ‘aam libraazi ahamiyatihi). Artinya, keimanan kepada hal-hal ghoib merupakan bagian dari aqidah, sementara iman kepada hari akhir merupakan salah satu perkara penting di antara hal-hal ghoib itu. Maka hendaklah bagi setiap muslim untuk selalu mengingat akhirat setiap saat, dan hendaklah perhatiannya kepada akhirat itu berkali lipat lebih besar dari pada perhatiannya kepada dunia.
· Sesungguhnya Allah SWT ketika menyebutkan keimanan kepada hal-hal ghoib, hari akhir, dan kitab yang diturunkan, saat itu Dia menetapkan atas wajibnya keimanan terhadapnya. Sementara ketika Dia menyebutkan macam-macam amal, seperti sholat dan infaq, maka itu merupakan ketetapan atas pelaksanaannya atau untuk beramal dengannya. Ini merupakan dalil bahwasanya iman itu berbeda dengan hukum syara’. Maka iman terbatas pada masalah pembenaran yang bersifat pasti, seperti keimanan kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, para nabi, dan qodar -baik-buruknya.
Sementara hukum sayra’ terdapat dalam apa-apa yang dituntut untuk menerapkannya atau melaksanakannya dengan suatu amal perbuatan. Dan diantara yang menguatkan bahwa iman bukanlah amal adalah bahwasanya Allah menyebutkan perkara-perkara berikut secara berurutan dalam ayat yang telah kita bahas: hal-hal ghoib, sholat, infaq, kitab yang diturunkan, dan akhirat. Tatkala menjelaskan aspek-aspek yang menjadi objek tuntutan iman, maka Allah menyebutkan iman terhadap hal ghoib, kitab, dan akhirat, yaitu terkait dengan hal-hal yang didalamnya terdapat pembenaran yang pasti. Akan tetapi Allah menyebut pelaksanaan amal dikaitkan dengan hal-hal yang dituntut untuk mengamalkannya, seperti halnya sholat, dan infaq, kendati sholat dan infaq dalam ayat-ayat itu tersurat di antara macam-macam keimanan.
Oleh karena terlihat adanya perbedaan antara iman dan amal, maka tidak ada pilihan lain kecuali harus berhenti pada pembahasan seputar hukum syara’ dan keimanan, serta penjelasan mengenai perbedaan antara keduanya. Fa aquulu wa billaahit tawfiiq
Sesungguhnya iman itu berkaitan dengan masalah keyakinan yang bersifat pasti, sedangkan hukum-hukum syara’ berkaitan dengan pelaksanaan amal-amal dan penegakkannya. Maka iman adalah pembenaran yang pasti bersesuaian dengan kenyataan berdasarkan suatu bukti.
Pembenaran yang bersifat pasti adalah kepuasan yang meyakinkan yang tidak mengandung keraguan sama sekali dan tidak ada kemungkinan lemah yang menyerangnya. Ini adalah makna bahasa dari iman itu sendiri, yakni pembenaran yang pasti. Sesuai dengan kenyataan artinya: bahwasanya kenyataan yang terindra membenarkannya dan tidak bertentangan dengannya. Untuk bisa sampai kepada keyakinan yang sempurna dan sesuai dengan kenyataan ini tidak bisa tidak harus ada bukti yang dapat dipastikan keabsahannya, baik berupa dalil:
Akal, untuk perkara yang objek pembahasannya bersifat aqli dalam masalah fakta-fakta yang terindra, seperti pembahasan seputar makhluq-makhluq yang terindra sebagai dalil atas adanya Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa yang menciptakannya, atau terhadap pembahasan seputar Kalamullah Yang Diturunkan -Al Qur’an Al Karim- sebagai dalil (terhadap pernyataan) bahwasanya Al Qur’an adalah Kalamullah dan bukan perkataan manusia, yang kemudian juga dijadikan dalil bahwa Muhammad yang datang bersama Kalamullah tersebut adalah seorang rasul (utusan) dari “sisi” Allah (min ‘indillaah).
Atau Naql, yaitu (iman yang diyakini) dengan jalan penukilan dari sumber yang dipastikan dari Allah subhaanahu wa ta’aalaa (berupa firman) dalam kitabNya atau (yang dipastikan) dari RasulNya dalam hadits yang diriwayatkan dari beliau secara mutawatir, yang demikian itu seperti iman kepada hal-hal ghoib, para malaikat, kitab-kitab yang pernah diturunkan pada masa lalu, para nabi pada masa lalu, hari akhir, dan qodar -baik-buruknya. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman, artinya, “hai orang-orang yang beriman berimanlah kalian kepada Allah, rasulNya, kitab yang (Allah) turunkan kepada rasulNya, dan kepada kitab yang (Allah) turunkan (kepada rasul-rasul) sebelumnya. Dan barang siapa kufur terhadap Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, dan hari akhir maka sungguh sesat dengan kesesatan yang jauh” (TQS. An Nisaa ayat 136). Dan bersabda rasul shollallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai jawaban atas pertanyaan Jibril ‘alaihis salaam tentang iman di dalam hadits, “engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabnya, para utusanNya, hari akhir, dan kepada qodar -baik-buruknya dari Allah Ta’ala” (Al Bukhori: 5, Muslim: 9).
Itulah iman, dan dengan makna ini ia adalah lawan dari kafir. Maka selain orang yang beriman adalah orang kafir secara pasti, di sisi lain tidak ada orang setengah iman dan setengah kafir.
Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman dalam menjelaskan pertentangan antara iman dan kafir:
“Sesungguhnya Allah tidak segan untuk membuat permisalan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Sementara itu orang-orang yang beriman merasa yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, sedangkan orang orang yang kafir berkata, “apa yang dikehendaki oleh Allah dengan permisalan ini?” Dengan perumpamaan ini banyak orang yang disesatkan dan banyak pula orang yang diberi petunjuk. Dan tidaklah disesatkan dengannya kecuali orang-orang yang fasiq” (TQS Al Baqarah 26).
“Sesungguhnya orang-orang yang membeli kekufuran dengan keimanan tidak akan dilihat oleh Allah barang sedikit pun dan bagi mereka adzab yang pedih” (TQS Ali ‘Imran 177).
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kemmbali. (TQS Al Baqorah ayat 126).
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (TQS Al Baqarah ayat 257).
…akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. (TQS Al Baqarah ayat 253).
Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” (TQS Ali Imran 106).
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). (TQS Al Anfal ayat 15).
Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus. (TQS Al Baqarah ayat 108).
Dan ayat-ayat yang lainnya yang serupa
Ini berkenaan dengan masalah iman, maka dia berkaitan dengan pembenaran yang bersifat pasti. Adapun berkenaan dengan masalah hukum syara’ maka ia berkaitan dengan pelaksanaan amal, baik yang berbentuk positif mau pun negatif, seperti pelaksanaan solat atau pun pencegahan terhadap tindak pencurian.
Pelanggaran terhadap hukum syara’ berbeda dengan pelanggaran terhadap masalah iman (aqidah). Karena ketiadaan iman adalah kafir, sedangkan tidak adanya pelaksanaan hukum syara’ adalah kefasikan dan kamaksiatan. Dan tidaklah seseorang menjadi kafir kecuali apabila ia menolak atau ingkar atau menjalin hubungan dengan aqidah kufur, seperti orang yang tidak sholat karena dia tidak percaya terhadap kewajiban sholat, atau meminum khomr karena menolak keharamannya, atau bersujud kepada berhala, atau melakukan sholat dengan sholatnya orang kafir, dan sebagainya.
Maka dari itu, melakukan tindakan maksiat berbeda dengan kufur. Saya mengatakan demikian karena sesungguhnya kami mendengar pada hari ini ada orang yang mengkafirkan saudaranya berdasarkan dzon. Sampai-sampai, menjatuhkan dakwaan kafir mudah bagi mereka, padahal, sesungguhnya menjatuhkan dakwaan kafir terhadap muslim tanpa dalil qoth’i adalah masalah yang besar di dalam islam. Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “siapa saja yang berkata kepada saudaranya “wahai orang kafir!” maka sungguh kembalinya kepada salah satu dari keduanya”, dikeluarkan oleh Ahmad.
Oleh karena itu, barang siapa yang melihat saudaranya melakukan perbuatan maksiat, maka jangan tergesa-gesa untuk mengkafirkannya, akan tetapi hendaklah ia bersegera untuk mengajaknya kepada kebaikan dan mencegahnya dari kemungkaran untuk memperbaiki keadaan saudaranya, maka dia tanggalkan dosanya, dan meminta ampun kepada Rabnya Subhaanahu wa Ta’aalaa.
Demikianlah, maka sesungguhnya iman berkaitan dengan pembenaran pasti, dan tempatnya adalah di hati. Dan kita tidak mampu mengetahui apa yang ada di dalam hati kecuali jika ditampakkan secara lahir, jelas, dan nyata oleh si pemiliknya. Oleh karena itu kami mengatakan bahwa mengkafirkan muslim mana pun tanpa bukti yang pasti maka itu adalah urusan besar di sisi Allah.
Itu dari satu sisi, sementara dari sisi yang lain, sesungguhnya siapa saja yang menampakkan keislaman (sebagai penampilan luar) akan tetapi mengingkarinya di dalam hati, maka cara berislam yang demikian itu tidak akan bermanfaat baginya di sisi Allah, bahkan hal itu hanya akan menambah adzab di atas adzab. Karena sesungguhnya hal tersebut merupakan bentuk keislaman orang-orang munafiq. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati seorang penolongpun bagi mereka.” (TQS. An Nisaa’ Ayat 145).
Maka dari itulah Allah mengingkari perkataan orang Arab yang mengatakan “kami telah beriman” dengan lisan mereka sedang hati mereka tidak beriman, meskipun secara lahiriyah mereka bergaul dengan tata interaksi kaum muslimin. “Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu” (TQS. Al Hujurat ayat 14).
Di dalam ayat ini ada penjelasan tambahan khusus mengenai interaksi di dunia dengan orang yang menampakkan keislamannya secara lahiriyah tanpa menampakkan kekafirannya secara nyata. Maka sesungguhnya secara mua’amalah ia diperlakukan sebagai muslim, berdasarkan lahiriyahnya, meski pun -bagi Allah- mereka kafir di dalam hatinya.
Semua itu merupakan penghalang untuk menjatuhkan dakwaan kafir terhadap manusia mana pun hanya dengan dzon tanpa keyakinan, karena sesungguhnya iman berkaitan dengan pembenaran yang bersifat pasti sesuai dengan kenyataan berdasarkan bukti -seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Namun tidak adanya pengkafiran terhadap pelaku maksiat bukan berarti menyepelekan dan menganggap ringan perkara-perkara yang tergolong maksiat. Bahkan, sesungguhnya maksiat merupakan perkara besar di dalam islam, dan karenanya pelakunya dijatuhi hukuman di dunia dan akhirat. Namun demikian, mengkafirkan seorang muslim tanpa dalil qoth’i juga merupakan masalah besar di sisi Allah. Maka tidak dibenarkan mengkafirkan seorang muslim mana pun hanya dengan tanda/bukti (dilakukannya) suatu perbuatan maksiat dari jenis perbuatan maksiat, selama dia tidak mengingkari sesuatu pun di dalam islam.
Sebagai penutup, kami bahas polemik di antara mereka seputar bertambah dan berkurangnya iman: Sesungguhnya iman dengan pengertian yang telah kami sebutkan (pembenaran yang bersifat pasti seseuai dengan kenyataan berdasarkan dalil) tidak bertambah dan tidak pula berkurang, sebab dia adalah pembenaran yang pasti. Dan pembenaran yang pasti tidak terwujud kecuali dengan pembenaran yang sempurna. Maka tidak ada iman yang memiliki prosentase 90% kemudian naik menjadi 95% atau 100%. Di sisi lain, tidak ada pula iman yang memiliki porsi 100% kemudian bisa turun menjadi 95% atau 90%. Karena dengan adanya kekurangan itu, dalam arti tidak sampai pada kepastian atau dengan kata lain masih ada syak dan keraguan di dalamnya, tidaklah terjadi iman, bahkan yang terjadi adalah kekufuran.
Sebagai gambaran yang jelas, kami katakan: sesungguhnya kata “az ziyaadah” dan “an nuqshoon” termasuk lafadz yang memiliki makna ganda di dalam bahasa arab. Kadang lafadz itu datang dengan makna pertambahan besaran dan pengurangan besaran di dalam konteks luas dan ukuran, namun kadang datang juga dengan makna kekuatan dan kelemahan. Qorinah-lah (indikasi yang ada di dalam perkataan) yang akan menentukan mana diantara makna-makna itu yang dikehendaki (oleh konteksnya). Apabila az-ziyadah dan an-naqsh disandingkan dengan kata iman, maka sesungguhnya penujukkannya adalah dalam konteks kekuatan dan kelemahan, sebab pembenaran yang bersifat pasti tidak boleh mengandung pertambahan dan pengurangan. Dengan cara seperti itulah ayat-ayat berikut ini dipahami:
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (TQS. Ali Imran ayat 173).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (TQS. Al Anfal ayat 2).
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (TQS. Al Ahzab ayat 22).
Yang dimaksud adalah: sesungguhnya orang yang beriman memiliki iman yang lebih kuat dan lebih kokoh disebabkan karena perkara-perkara yang telah dijelaskan oleh Allah dalam ayat-ayat tersebut. Semua itu karena iman, dengan makna pembenaran yang bersifat pasti sesuai realitas berdasarkan bukti, tidak bisa mengandung pertambahan dan pengurangan dalam konteks besaran. Karena pembenaran yang tidak pasti tidak lain merupakan perubahan menjadi syak dan keraguan, maka (dalam kondisi demikian) jadilah kekufuran.
Dan merupakan suatu kebiasaan bahwasanya makna iman, sepanjang tidak disertai dengan indikasi apa pun, yang dimaksud adalah apa yang telah diuraikan sebelumnya (tashdiqul jazm..). Namun jika yang dimaksudkan adalah makna lain, maka harus ada indikasi yang menjelaskannya, misal:
Firman Allah (artinya) “dan tidaklah Allah menyia-nyiakan iman kalian”, maksud dari iman kalian di sini adalah sholat kalian, karena sesungguhnya kaum muslimin setelah perubahan arah kiblat turun ayat: “Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia” (TQS. Al Baqarah ayat 143). Ayat ini bertujuan untuk menentramkan hati kaum muslimin bahwasanya sholat mereka sebelumnya, dengan menghadap kiblat yang pertama, merupakan sholat yang diterima dan mereka memperoleh pahalanya. Contoh lain adalah hadits Rasul shollallaahu ‘alaihi wa sallam “iman itu memiliki tujuh puluh cabang, yang paling tinggi adalah perkataan “laa ilaaha illaLlaah” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan” ( Al Bukhori: 8, Muslim: 50, Abu Dawud: 56, An Nasaai: 4919 , Ibnu Maajjah: 57, dan Ahmad: 2/414) . Dan jelas diketahui bahwa tidak menyingkirkan duri dari jalan tidaklah membuat seseorang menjadi kafir. Maka dari itu, iman yang dimaksud di sini adalah ketaatan kepada Allah secara umum. Demikian juga dengan hadits Rasul shollallaahu ‘alaihi wa sallam: “seorang pezina tatkala berzina bukanlah seorang mukmin…” (Al Bukhori: 6782, Muslim: 100, Abu Dawud: 4689, At Tirmidzi: 2625). Namun demikian, Rasul shollallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menghukum seorang pezina dengan hukuman murtad, tapi menghukumnya dengan had zina, dan mengkategorikannya sebagai seorang muslim, ia disholatkan, dan dikuburkan di pekuburan muslim. Perbuatan Rasul shollallaahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan indikasi bahwa kata iman di dalam hadits tersebut tidak dimaknai dengan makna baku dari iman, yang merupakan lawan dari kekufuran. (penggunaan kata iman) Itu hanya merupakan petunjuk terhadap betapa besarnya pelanggaran zina itu, dan betapa ia sangat menjijikkan. Meniadakan iman dalam diri pelakunya pada saat melakukan zina merupakan ungkapan majazi untuk menunjukkan bahwa betapa zina merupakan pelanggaran yang sangat berat.
Demikianlah dari apa yang telah disebutkan berupa penjelasan mengenai perbedaan antara iman dan hukum syara’. Kami memohon kepada Dzat Yang Maha Suci agar hati kami merasa tentram dengan keimanan, dan agar perkataan dan perbuatan kami senantiasa terikat dengan hukum-hukum islam, dan semoga Allah mengumpulkan kita bersama orang-orang yang Allah berikan nikmat atas mereka dari para nabi, para shiddiqqiin, para syuhada’, dan orang-orang sholih, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
Wallaahu Ta’aalaa a’lamu bish showaab
Sumber : http://titok.wordpress.comKedudukan Niat dalam Amal Sholih
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alangkah indahnya jika setiap kali kita akan melakukan amalan sholih kita mengucapkan Basmallah terlebih dahulu mengiringi niat kita untuk beramal. Bilamana kita perhatikan AlQur�an senantiasa memulai suratnya dengan lafadz Basmalah ini, kecuali 1 surat yaitu surat At-taubah.
Hampir setiap amalan yang dilakukan manusia, pasti diringi dengan niat dan kehendak serta keinginan memperoleh sesuatu baik berupa balasan, penghargaan maupun yang bersifat materialistik keduniaan. Namun, bagi seorang muslim, sudah sepatutnya memahami dan menyadari bahwa niat merupakan pangkal dari sebuah amal yang dilakukan, niat akan mengantarkan sebuah amalan menjadi sholih atau tholih. Untuk itu penting sekali kita memahami tentang kedudukan niat ini dalam amal, agar amalan sholih yang kita lakukan benar-benar menjadi bermakna.
Bagaimanakah kedudukan niat dalam amal sholih?
Sudah banyak ayat-ayat Allah dan Hadist Rasulullah SAW yang mengupas masalah niat ini.
Allah azza wa Jalla berfirman dalam al Qur�an surat Assyuro : 20, yang artinya � Barang siapa menghendaki keuntungan di Akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat�.
Subhanallah... Allah memberikan penawaran yang sangat istimewa kepada manusia. Dan ini berkaitan dengan keinginan, apakah keuntungan dunia atau akhirat yang manusia kehendaki?, maka kemudian Allah Maha Adil memberikan balasannya.
Didalam Hadist, Rasulullah dengan jelas memberikan pengertian tentang kedudukan niat ini �Dari Amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu: Aku mendengar Rasulullah Shallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mndapatkan sesuai apa yang diniatkan, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan�. (HR. Bukhori Muslim)
Lalu, apakah yang dimaksud dengan niat?
Niat adalah maksud/keinginan menyengaja dengan kesungguhan hati untuk mengerjakan amal sholih, misalnya shaum wajib di bulan Ramadhan ini, semata-mata karena menaati perintah Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW yang diketahuinya.
Ibnu Taimiyyah berkata: tempat niat itu di hati bukan di lisan menurut kesepakatan para Imam kaum muslimin dalam semua masalah ibadah. Sehingga seandainya seseorang berkata dengan lisannya berlainan dengan apa yang diniatkan dalam hatinya, maka yang dianggap adalah apa-apa yang diniatkan
oleh hatinya bukan yang dilafazhkan. Dan seandainya seorang berkata secara lisan tentang niatnya tetapi niatnya tidak sampai kehatinya, maka yang demikian tidak mencukupi menurut kesepakatan para Imam kaum Muslimin, karena niat adalah kesengajaan maksud dan kesungguhan dalam hati.
(Majmuu'atir-Rosaailil Kubro 1:243)
Dalil-dalil mengenai kedudukan niat ini begitu jelas, tinggal bagaimana kita mengimplementasikannya.
Amalan shalih terwujud dengan niat yang shalih, tapi niat yang baik tidak bisa menjadikan perkara mungkar menjadi baik atau perkara bid'ah jadi sunnah, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mencapainya.
Niat berhubungan dengan keikhlasan. Ikhlas untuk Allah adalah syarat diterimanya amal, karena Allah tidak menerima amalan kecuali yang paling murni dan benar, yang paling murni adalah yang ditujukan hanya untuk Allah dan yang paling benar adalah yang sesuai dengan sunnah yang shahih.
Jika suatu amalan, walaupun berderajat amalan sholih, bila tidak dilakukan dengan ikhlas, maka tidak akan mendapat balasan pahala dari Allah SWT.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (أبو داود وابن ماجه)
Dari Abu Hurairah, r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Barangsiapa yang mempelajari sesuatu ilmu dari jenis-jenis ilmu yang tujuannya untuk mencapai keredhaan Allah, sedang ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapat sesuatu bagian dari dunia (harta benda atau pengaruh), niscaya ia tidak akan mencium bau syurga, pada hari qiamat kelak." ( Abu Daud dan Ibnu Majah)
عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ. (الترمذي وابن ماجه)
Dari Ka'ab bin Malik ra., dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesiapa yang menuntut ilmu, dengan tujuan bermegah-megah menandingi alim ulama dengan ilmunya itu, atau dengan tujuan bertengkar dan bertegang urat dengan orang-orang yang jahil dengan ilmunya itu, atau pun dengan tujuan menarik dengan ilmunya itu perhatian orang ramai memujinya, nescaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka. " (HR Tirmizi dan Ibnu Majah)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. (مسلم والترمذي والنسائي)
Dari Abu Hurairah, r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya di antara manusia yang mula-mula dibicarakan dan dihukum pada hari qiamat ialah: Pertama, orang yang mati syahid - ia dibawa menghadap, maka Allah menyatakan kepadanya satu persatu nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya semasa hidupnya) lalu ia mengakui menerimanya; Allah Taala bertanya kepadanya: "(Sesudah itu) maka apa engkau telah lakukan pada nikmat-nikmat itu?" Ia menjawab: "Aku berperang kerana mematuhi perintahMu sehingga aku mati syahid"; Allah Taala berfirman: "Engkau berdusta! (bukan itu tujuan mu), akan tetapi engkau berperang supaya orang mengatakan: Engkau berani dan telah dikatakan yang demikian". Kemudian ia dihukum lalu diseret dengan tertiarap, sehingga ia dimasukkkan ke dalam neraka. Dan kedua, orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an - ia dibawa menghadap, maka Allah menyatakan kepadanya nikmat-nikmatNya satu persatu, lalu ia mengakui menerimanya; Allah Taala bertanya kepadanya: "(Sesudah itu) maka apa engkau telah lakukan pada nikmat-nikmat itu?" Ia menjawab: Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an karena mengharapkan keridhoanmu"; Allah Taala berfirman: "Engkau berdusta! (Bukan itu tujuanmu), akan tetapi engkau mempelajari ilmu supaya orang mengatakan engkau alim dan engkau membaca Al-Qur'an supaya orang mengatakan: Si anu seorang qari, maka telahpun dikatakan yang demikian". Kemudian ia dihukum lalu diseret dengan tertiarap, sehingga ia dimasukkan ke dalam neraka. Dan ketiga, orang yang telah dimewahkan Allah hidupnya serta diberinya sebagian dari segala jenis harta benda kekayaan - ia dibawa mengadap, maka Allah menyatakan kepadanya nikmat nikmatNya satu persatu, lalu ia mengakui menerimanya; Allah Taala bertanya kepadanya: "(Sesudah itu) maka apa engkau telah lakukan pada nikmat-nikmat itu?" Ia menjawab: "Aku tidak tinggalkan satu jalan pun di antara jalan-jalan yang engkau suka untuk membelanjakan kekayaan itu padanya melainkan aku belanjakan padanya, kerana mengharapkan rahmatMu"; Allah Taala berfirman: "Engkau berdusta! (Bukan itu tujuanmu), akan tetapi engkau belanjakan harta kekayaanmu supaya orang mengatakan: Si anu itu seorang dermawan, - maka telah pun dikatakan yang demikian". Kemudian ia dihukum lalu diseret dengan tertiarap; akhirnya ia dimasukkan ke dalam neraka." (HR Muslim, Tirmizi dan An-Nasa'i).
Allahu�alam bisshowab
Maraji�
* AlQur�an dan terjemahannya
* Hadist Arbain Imam Nawawi
Sumber : http://www.keadilan-jepang.org
| Motivasi Beramal Karena Dunia | | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar