Mungkin karena terlalu sering mendengar istilah “amal shalih”, banyak orang dalam memaknai sebutan tersebut menjadi datar saja.
Banyak orang tidak tergairahkan oleh api semangat (spirit) dari sebutan tersebut. Istilah dan semangat yang terkandung di dalamnya seolah-olah tenggelam di tengah pusaran air retorika omongan sehari-hari.
Al-Qur’an amat jelas memandang penting sebutan amal shalih tersebut. Bahkan, Al-Qur’an mengangkat sebutan tersebut menjadi sebuah karakter yang melekat pada diri manusia beriman. Ayat yang menyebutkan hubungan antara iimaan dan amal shalih ini tidak kurang dari 61 (enam puluh satu) buah ayat.
Jelas bahwa sebutan amal shalih adalah berkaitan dengan dunia “perbuatan manusia”. Dalam Al-Qur’an sekurang-kurangnya ada 4 (empat) kosa kata yang dikaitkan dengan masalah perbuatan manusia ini, yaitu kosa kata: fi’lun, shun’un, kasbun, dan ‘amalun. Kosa kata terakhir inilah yang paling populer dalam bahasa Indonesia dengan dilafalkan menjadi “amal”.
Kata fi’lun berarti: perbuatan yang didorong oleh faktor energi gerak yang dimiliki secara alamiah oleh setiap diri manusia. Jadi, yang ditekankan dalam kata fi’lun adalah adanya kenyataan energi gerak yang bekerja pada diri seseorang yang sedang berbuat sesuatu. Contoh ayat yang menjelaskan hal ini adalah (Qs Al-Fajr, [89]: 6): a-lam tara kaifa fa’ala rabbu-ka bi ‘aad (apakah engkau tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad?). Dalam ayat ini jelas yang ditekankan adalah sosok atau bangunan perbuatan, yakni berupa tindakan Tuhan.
Istilah shun’un berarti: perbuatan yang didorong oleh adanya faktor kreativitas (daya cipta) yang bekerja pada diri manusia. Karena itu yang ditekankan adalah model, macam, dan jenis perbuatan. Contoh ayat yang menjelaskan kecenderungan ini adalah (Qs. Al-Anbiya’, [21]: 30): wa ‘allam-naa-hu shun’ata labuusin lakum li tuhshina-kum min ba’sikum (dan telah Kami ajarkan kepadanya (Daud) membuat baju besi untuk kamu untuk menjaga dirimu dalam peperanganmu). Dalam ayat ini yang ditekankan adalah betapa pentingnya kecanggihan kreativitas agar mampu membuat baju besi yang berguna dalam peperangan.
Istilah lain adalah kasbun yang berarti: perbuatan yang didorong oleh faktor pencapaian produk (hasil). Karena itu, yang ditekankan di sini adalah pencapaian produk (hasil) dari perbuatan yang bersangkutan. Contoh ayat yang menjelaskan hal ini adalah (Qs. Ath-Thur, [52]: 21): kullu-’m-ri’in bi maa kasaba rahiinun (tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya). Dalam ayat ini ada manusia yang menganggap produk (hasil) perbuatan sebagai sebuah patokan.
Istilah lainnya lagi adalah ‘amalun yang berarti: perbuatan yang didorong oleh nilai yang termuat di dalamnya. Dengan demikian hanya dalam kosa kata ‘amalun (amal) yang ditekankan faktor nilai. Barangkali itulah sebabnya Al-Qur’an sangat menekankan istilah ‘amalun ini dengan istilah khasnya yaitu: amal shalih. Contoh ayat yang menyinggung persoalan ini adalah (Qs. Al-Baqarah, [2]: 62): man aamana bi-’llaa-hi wa-’l -yaumi-’l aakhiiri wa ‘amila shaalihan fa-lahum ajru-hum ‘inda rabbi-him (barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat serta mengerjakan amal shalih maka bagi mereka imbalan pahala di sisi Tuhan mereka).
Munculnya setiap perbuatan manusia itu memang senantiasa berpangkal dari 4 (empat) faktor di atas, yaitu: energi gerak, kreativitas, produk (hasil), dan nilai. Keempat faktor tersebut membentuk sistem kerja berupa segi empat yang memiliki 2 (dua) garis diagonal. Semua garis dalam segi empat dan sekaligus kedua garis diagonalnya berhubungan satu dengan lainnya (bersinergi). Sungguhpun demikian, Al-Qur’an mengutamakan konsep “berbuat karena didorong oleh nilai”, bukan sekedar terdorong oleh faktor energi gerak, kreativitas, dan produk (hasil) saja. Nilai yang ditonjolkan adalah nilai “shalih”. Lalu, apa yang menjadi ukuran dari nilai shalih tersebut?
Indikasi amal yang bernilai shalih termuat dalam ayat (Qs. At-Taubah, [9]: 105): wa qul-i’malun fa sa-yara-‘1laahu ‘amala-kum wa rasuuluhu wa-‘1 mu’minuun (dan beramallah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat amalmu itu). Di sini ukuran “shalih” dari amal ditentukan oleh di-iya-kan Allah, Rasulullah, dan orang-orang beriman di sekeliling si pelaku amal atau tidak. Jika ketiga unsur tersebut semuanya menyatakan “ya”, maka amal tersebut pasti shalih. Apa sebab? Sebab, amal tersebut seolah-olah “ditarik ke atas” (dalam bahasa lain ditransendensikan), menjadi sebentuk perbuatan ibadah yang bersuasana ketuhanan. Tentu saja amal tersebut menjadi bersifat produktif. Sebaliknya, kalau setiap perbuatan hanya didorong oleh faktor energi gerak, kreativitas, dan produk (hasil) saja, maka perbuatan tersebut cenderung justru kontraproduktif, bahkan negatif.
Di tengah-tengah kehidupan kita kalau terjadi hal-hal yang kontraproduktif (seperti korupsi, penumpukan kekayaan, kemewahan hidup, penipuan, anarkisme, chauvinisme, jumping, embargo, hegemonisme, kesombongan dan sebagainya) jelas disebabkan tidak berfungsinya konsep ‘amalun yang dianjurkan Allah dipenuhi dengan nilai keshalihan. Mungkin sekarang ini kita baru berpesta pora dengan konsep yang didominasi oleh sebutan fi’lun (yang berfaktor energi gerak), shun’un (yang berfaktor kreativitas), dan kasbun (yang berfaktor produk (hasil) saja. Kapan konsep amal shalih akan ditegakkan?
Wallahu a’lam bish-shawab.l
(1). Kita tidak akan memilih atau melakukan sesuatu, jika kita meyakini bahwa yang kita pilih atau lakukan itu baik bagi kita - dengan senang atau dipaksa. Kita senang karena kita sendiri yang menentukannya. Dipaksa, karena kita sudah serahkan dari awalnya kepada seorang pemimpin atau siapa pun yang kita percaya bisa membimbing kita. Inilah “ritual” dasar dari seluruh aktifitas kita sehari-hari secara rutin. Itulah yang kita sebut Iman secara umum.
(2). Suatu aktifitas juga tidak akan bias kita lakukan selama kita belum memiliki ilmunya. Bisa jadi kita percaya tentang sesuatu, seolah-olah gampang dan mudah melakukannya. Setelah kita coba, ternyata sulit, karena kita belum memiliki ilmunya. Karena keyakinan kita yang begitu besar bahwa kita bias berhasil dalam suatu hal ini, maka kemudian kita dengan sekuat tenaga, berusaha untuk belajar dan belajar sehingga kita memiliki kapabilitas dan kompetensi tertentu yang memadai. Inilah yang disebut Ilmu secara umum.
(3). Setelah kita memiliki Keyakinan, kapabilitas dan kompetensi tettentu yang memadai untuk melakukan sesuatu, barulah kita bias melakukan suatu perbuatan atau dalam bahasa Arab disebut A’mal atau amal, hingga pekerjaan itu selesai dengan sukses. Begitulah sebuah amal atau perbuatan dapat dilakukan.
Jika tidak berhasil, mudah saja bagi kita untuk memeriksa di mana letak tidak keberhasilannya : apakah kita tidak memiliki keyakinan yang kuat (percaya diri) menyebabkan kita memiliki kemauan yang kuat atau ilmunya yang belum cukup kita miliki.
Metoda ini selalu kita terapkan secara umum. Baik untuk perbuatan yang dikenal sebagai perbuatan yang baik atau terbaik yang lebih dikenal dengan AMAL SHOLEH, maupun perbuatan yang buruk atau disebut juga AMAL THOLEH.
Kelihatannya ada yang rancu : bukankah untuk bisa percaya atau beriman itu kita perlu ilmu ?
Ya untuk beriman pun kita dapat menggunakan metode ini juga. Misalnya beriman kepada Allah. Mulailah untuk mempercayai dengan cara percaya dulu walau sekecil apa pun kualitasnya. Dengan kepercayaan yang sedikit itulah kita kemudian mencari cara (ilmu) untuk mengetahui sifat-sifat paling terpuji dari Allah yang dapat kita rasakan sebanyak-banyaknya.
Apakah semua informasi tentagn sifat-sifat Allah ini sudah mencukupi dan membuat Anda semakin percaya lagi ? Bila sudah, mengapa tidak dilanjutkan dengan mempercayai nasehat-nasehatnya kepada kita ? Bukankah kita sudah cukup percaya dan semakin percaya kepada Allah dan semua kata-katanya dapat kita percaya ?
JIka sudah cukup, itulah saatnya kita beraksi sesuai nasehat Allah yang kita imani atau kita percayai itu.
Terima kasih untuk pertanyaannya dan semoga kita semua mendapatkan manfaat dari jawaban ini.
Semoga sukses untuk semua kita dalam semua kegiatan kita.
As-salamun alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar